SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Humaniora
Beranda / Humaniora / BMKG Peringatkan Risiko Bencana Iklim di Kolaka Meningkat, Suhu Naik dan Pola Hujan Kian Ekstrem

BMKG Peringatkan Risiko Bencana Iklim di Kolaka Meningkat, Suhu Naik dan Pola Hujan Kian Ekstrem

CELEBESPOS.ID, KOLAKA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Sangia Nibandera memperingatkan peningkatan risiko bencana hidrometeorologi di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, seiring tren kenaikan suhu udara dan perubahan pola curah hujan dalam dua dekade terakhir.

Kepala Stasiun Meteorologi Sangia Nibandera, Danu Triatmoko, mengatakan perubahan iklim kini bukan lagi sekadar fenomena global, tetapi telah menjadi realitas yang berdampak langsung pada wilayah Kolaka.

“Tren kenaikan suhu permukaan dan ketidakpastian curah hujan tidak hanya berdampak pada produktivitas sektor strategis, tetapi juga memperbesar potensi banjir dan tanah longsor di area permukiman maupun kawasan industri,” kata Danu dalam laporan Catatan Iklim Kolaka Edisi 2025 yang dirilis Februari 2026.

Suhu Meningkat Konsisten, Tekanan Termal Semakin Tinggi

Berdasarkan analisis data pengamatan historis, BMKG mencatat suhu udara di Kolaka menunjukkan tren peningkatan signifikan. Sepanjang tahun 2025, suhu rata-rata bulanan tercatat secara konsisten lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode normal 2001–2020.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

Kenaikan suhu rata-rata bulanan berkisar antara 1,4°C hingga 2,0°C, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun. Kondisi ini menandakan wilayah Kolaka mengalami tekanan termal yang semakin tinggi dan berpotensi memengaruhi kenyamanan serta aktivitas masyarakat.

Selain peningkatan suhu siang hari, BMKG juga mencatat fenomena malam hari yang semakin hangat, di mana suhu minimum meningkat lebih tajam dibandingkan suhu maksimum. Kondisi ini menyebabkan pelepasan panas pada malam hari menjadi tidak optimal, sehingga udara tetap terasa gerah.

Curah Hujan Lebih Tinggi, Namun Lebih Ekstrem dan Tidak Merata

BMKG juga mencatat curah hujan tahunan Kolaka pada 2025 mencapai 2.307,1 milimeter atau sekitar 15 persen di atas rata-rata klimatologis normal. Meski demikian, pola hujan mengalami perubahan signifikan.

Alih-alih turun merata sepanjang musim, hujan kini lebih sering terjadi dalam bentuk kejadian singkat dengan intensitas sangat tinggi.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

Salah satu peristiwa ekstrem tercatat pada 27 Oktober 2025, ketika hujan mencapai 99,2 milimeter hanya dalam 24 jam, hampir menyamai total curah hujan normal bulanan. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir genangan, banjir bandang, serta gangguan aktivitas masyarakat dan ekonomi.

BMKG menilai perubahan karakter hujan tersebut menunjukkan dinamika atmosfer yang semakin tidak stabil dan sulit diprediksi.

Risiko Bencana Hidrometeorologi Meningkat

BMKG menegaskan bahwa perubahan parameter iklim seperti suhu, kelembapan, dan curah hujan merupakan indikator meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi di wilayah Kolaka.

Peningkatan suhu memperbesar potensi gelombang panas dan mempercepat proses penguapan, sementara pola hujan ekstrem meningkatkan risiko banjir dan longsor, terutama di kawasan padat penduduk dan wilayah dengan aktivitas pertambangan.

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya

Selain itu, perubahan iklim juga berpotensi memengaruhi sektor vital seperti pertanian, perikanan, dan infrastruktur daerah.

BMKG: Data Iklim Penting untuk Mitigasi Risiko

Danu menegaskan bahwa pemantauan iklim jangka panjang menjadi dasar penting dalam upaya mitigasi risiko bencana dan perencanaan pembangunan daerah.

Ia menyebut laporan catatan iklim yang disusun berdasarkan data pengamatan dua dekade terakhir bertujuan memberikan landasan ilmiah bagi pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

“Laporan ini merupakan upaya strategis untuk memetakan tren parameter cuaca seperti curah hujan, suhu, kelembapan, dan pola angin yang telah berubah dalam 20 tahun terakhir,” ujarnya.

BMKG mengimbau seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta memanfaatkan informasi iklim sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan, guna mengurangi risiko bencana di masa mendatang. (red)

× Advertisement
× Advertisement