CELEBESPOS.ID, KENDARI — Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Kendari Kolonel Laut (P) Dedi Wardana mengungkap berbagai tantangan keamanan maritim yang dihadapi wilayah perairan Sulawesi Tenggara, mulai dari praktik penangkapan ikan ilegal (illegal fishing) hingga penyelundupan.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Peran TNI AL dalam Mengawasi dan Melindungi Keamanan Maritim di Sulawesi Tenggara: Tantangan dan Strategi” yang digelar Sugarpos.com di Kendari, Rabu, 4 Maret 2026.
Menurut Dedi, Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki wilayah perairan yang luas dengan potensi sumber daya kelautan yang sangat besar. Selain itu, kawasan ini juga merupakan jalur pelayaran penting, baik pada tingkat nasional, regional, maupun internasional.
“Wilayah maritim Sulawesi Tenggara merupakan aset nasional yang harus dijaga dan diamankan bersama,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa TNI Angkatan Laut melalui Lanal Kendari memiliki peran strategis dalam menjaga keamanan serta kedaulatan wilayah perairan Indonesia.
Peran tersebut tidak hanya berkaitan dengan fungsi pertahanan negara, tetapi juga mencakup penegakan hukum di laut serta pembinaan potensi maritim di wilayah Sulawesi Tenggara.
Namun demikian, ia mengakui bahwa tantangan keamanan maritim di wilayah ini semakin kompleks.

Menurutnya, keamanan laut tidak lagi hanya sebatas patroli, tetapi juga mencakup berbagai persoalan strategis lain seperti penegakan kedaulatan wilayah laut, penindakan kejahatan maritim, penangkapan ikan ilegal, perompakan, hingga penyelundupan.
Selain itu, TNI AL juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga keselamatan pelayaran, mengamankan objek vital nasional di sektor kemaritiman, serta mendukung stabilitas investasi di sektor kelautan dan industri pesisir.
Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, Lanal Kendari terus memperkuat berbagai langkah strategis pengamanan.
Salah satunya dengan meningkatkan intensitas patroli laut serta patroli terpadu, baik secara mandiri maupun bersama instansi terkait.
“Kami juga memperkuat sinergi dan koordinasi lintas sektor dengan Polri, Bakamla, pemerintah daerah, serta aparat penegak hukum lainnya untuk meningkatkan pengawasan di wilayah perairan,” kata Dedi.
Selain itu, TNI AL juga mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dan sistem informasi maritim guna meningkatkan kemampuan deteksi dini serta respons cepat terhadap potensi ancaman di laut.
Langkah lain yang dilakukan adalah melakukan pembinaan terhadap masyarakat pesisir dan nelayan agar dapat menjadi mitra strategis dalam menjaga keamanan wilayah laut.
“Keamanan maritim bukan hanya soal menjaga laut, tetapi juga menjaga masa depan ekonomi daerah, menjaga kedaulatan negara, dan menjaga kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mendukung upaya TNI Angkatan Laut dalam menjaga keamanan wilayah laut di Sulawesi Tenggara.
Sementara itu, Direktur Utama Sugarpos.com, Dr. Syukriansyah S Latif, SH., MH, mengatakan diskusi seperti ini penting untuk memperkuat komunikasi antara media dan berbagai institusi negara dalam membahas isu-isu strategis daerah.

Menurut jurnalis senior dengan pengalaman lebih dari tiga dekade itu, forum diskusi menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif guna mencari solusi atas persoalan yang dihadapi daerah.
“Melalui diskusi seperti ini kita berharap bisa bertukar gagasan, memperkuat silaturahmi, sekaligus menghadirkan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
FGD tersebut dipandu oleh Wakil Direktur Sugarpos.com, H. La Pili, sebagai moderator dan berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari kalangan jurnalis mengenai dinamika keamanan maritim di Sulawesi Tenggara. (red)






