SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Dari Akar Alang-Alang, Prof. Rachmawati Rasid Menemukan Kunci Pertanian Berkelanjutan Indonesia

Dari Akar Alang-Alang, Prof. Rachmawati Rasid Menemukan Kunci Pertanian Berkelanjutan Indonesia

CELEBESPOS.ID, KENDARI — Pagi itu, Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo tidak sekadar menjadi tempat pengukuhan gelar akademik tertinggi. Di ruang yang dipenuhi toga hitam dan kalung emas, lahir sebuah narasi besar tentang tanah, tanaman, dan masa depan pertanian Indonesia.

Di mimbar utama, Prof. Dr. Ir. Rachmawati Rasid, M.Si. berdiri tenang. Suaranya tidak menggelegar, tetapi setiap kalimatnya mengajak hadirin menimbang ulang cara mereka memandang tanah—bukan sekadar media tanam, melainkan ekosistem hidup yang menentukan nasib pangan bangsa.

Dalam prosesi pengukuhan Guru Besar UHO pada Senin, 9 Februari 2026, ia menyampaikan orasi berjudul “Mikoriza Arbuskula dari Rizosfer Alang-Alang: Potensi Tersembunyi untuk Pertanian Berkelanjutan.” Sejak awal, ia menolak logika pertanian yang hanya mengejar produksi tanpa memedulikan kesehatan tanah.

“Pertanian yang hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi mengabaikan kesehatan tanah, sesungguhnya sedang menanam krisis untuk generasi mendatang,” katanya tegas.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

Ia memulai dengan potret jujur: lahan pertanian terus menyusut, kesuburan tanah menurun, ketergantungan pupuk kimia meningkat, sementara iklim kian tak menentu. Produksi pangan memang masih berjalan, tetapi dibayar mahal oleh degradasi lingkungan.

Di tengah situasi itu, ia mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi, tetapi bagaimana menjaga daya dukung tanah agar pertanian tetap bertahan dalam jangka panjang.

“Tantangan kita hari ini bukan sekadar menanam lebih banyak, tetapi menanam lebih bijak—dengan tanah yang tetap hidup dan produktif,” ujarnya.

Di titik inilah ia mengarahkan perhatian pada mikroorganisme tanah, terutama mikoriza arbuskula—jamur mikroskopis yang bersimbiosis dengan akar tanaman. Jamur ini membentuk jaringan hifa yang menjalar jauh ke dalam tanah, memperluas jangkauan akar, membantu tanaman menyerap fosfor, serta meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan dan kondisi tanah miskin hara.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

“Mikoriza adalah mitra alami tanaman. Tanpa mereka, banyak tanaman akan kesulitan bertahan di tanah marginal,” jelasnya.

Namun, inti orasinya bukan hanya tentang mikoriza, melainkan tentang alang-alang—tumbuhan yang selama ini dianggap musuh petani. Di banyak tempat, alang-alang dibakar, dibasmi, dan dicap sebagai simbol kegagalan lahan.

Tetapi riset Prof. Rachmawati membuka sudut pandang baru: di rizosfer akar alang-alang tersimpan komunitas mikoriza arbuskula yang kaya, adaptif, dan tangguh.

“Alang-alang sering kita anggap musuh. Padahal, di akarnya tersimpan sekutu biologis yang sangat berharga bagi pertanian,” katanya.

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya

Melalui penelitian berbasis identifikasi spora dan struktur infeksi akar, timnya menemukan berbagai genus mikoriza di rizosfer alang-alang, termasuk Glomus, Gigaspora, Acaulospora, Entrophospora, dan Paraglomus. Dari semuanya, Glomus paling dominan—mampu bertahan di tanah masam, miskin hara, dan curah hujan tinggi seperti di Sulawesi Tenggara.

Temuan ini mengubah cara pandang: alang-alang bukan sekadar gulma, tetapi “bank hayati” mikoriza lokal yang telah teruji alam.

“Jika kita mampu memanfaatkan mikoriza dari rizosfer alang-alang, kita bisa mengubah apa yang kita anggap gulma menjadi sumber solusi hayati untuk pertanian berkelanjutan,” tegasnya.

Untuk menguji potensi ini, ia membawa hasil penelitian lapangan di tanah Ultisol, jenis tanah masam yang luas di Indonesia dan sering dianggap kurang produktif. Jagung dipilih sebagai tanaman uji, karena strategis bagi ketahanan pangan. Eksperimen dilakukan pada musim kering—kondisi paling menantang bagi tanaman.

Hasilnya tampak jelas. Tanaman jagung yang diinokulasi mikoriza tumbuh lebih hijau, lebih tegak, dan lebih sehat dibanding petak tanpa mikoriza. Di laboratorium, pengamatan mikroskop menunjukkan spora mikoriza aktif mengkolonisasi akar—bukti bahwa simbiosis benar-benar terjadi.

“Pertumbuhan tanaman bukan hanya soal berapa banyak pupuk diberikan, tetapi bagaimana relasi biologis di dalam tanah bekerja,” katanya.

Secara ilmiah, peningkatan performa tanaman dijelaskan melalui beberapa mekanisme.

Pertama, inokulasi mikoriza meningkatkan kandungan asam organik tanah—seperti asam sitrat dan asam humat—yang membantu melarutkan fosfor terikat sehingga lebih tersedia bagi tanaman.

Kedua, aktivitas enzim fosfatase tanah meningkat, mempercepat pelepasan fosfor dari bahan organik.

“Ketika aktivitas fosfatase meningkat, tanah menjadi lebih ‘hidup’ dan lebih mampu menyediakan hara bagi tanaman,” jelasnya.

Ketiga, meskipun ketersediaan fosfor tanah tidak selalu tinggi, tanaman bermikoriza mampu menyerapnya lebih efisien berkat jaringan hifa yang menjangkau area tanah lebih luas.

Keempat, kombinasi mikoriza dengan pupuk kandang memberikan hasil terbaik. Tanah menjadi lebih aktif secara biologis, nutrisi lebih stabil, dan pertumbuhan tanaman lebih optimal.

Hasil panen jagung pun meningkat—tongkol lebih besar, biji lebih terisi, dan biomassa lebih tinggi.

“Mikoriza bukan pengganti pupuk, tetapi pengungkit biologis yang membuat pupuk bekerja lebih efektif dan lebih ramah lingkungan,” tegas Prof. Rachmawati.

Ia menolak dikotomi “mikoriza versus pupuk,” dan mendorong integrasi keduanya—terutama dengan pupuk organik—sebagai jalan tengah menuju pertanian berkelanjutan.

Dalam salah satu bagian paling reflektif, ia mengajak hadirin membayangkan tanah sebagai “lautan tak terlihat” di bawah kaki manusia—penuh jaringan hifa, bakteri, enzim, dan interaksi kimia kompleks yang menentukan hidup-matinya tanaman.

“Jika tanah sehat, tanaman sehat. Jika tanah sakit, pertanian akan rapuh,” katanya.

Implikasi riset ini melampaui laboratorium. Ia mendorong pengembangan biofertilizer berbasis mikoriza lokal, integrasi pupuk organik dalam kebijakan pemupukan nasional, serta pendekatan berbasis ekosistem dalam pengelolaan lahan marginal.

Ia juga menekankan perlunya riset lanjutan pada padi, sorgum, dan hortikultura agar manfaat mikoriza bisa lebih luas dirasakan petani.

Menjelang akhir orasi, nadanya semakin personal.

“Sering kali, solusi besar tersembunyi di tempat yang kita anggap tak bernilai—seperti akar alang-alang yang selama ini kita bakar dan bersihkan,” katanya.

Ia mengajak ilmuwan, pemerintah, dan petani untuk tidak sekadar melawan alam, tetapi belajar darinya—menggali, memelihara, dan memanfaatkan kekayaan mikrobiologis lokal demi masa depan yang lebih berkelanjutan.

“Pertanian masa depan harus selaras dengan alam, bukan melawannya,” ujarnya.

Pengukuhan Prof. Rachmawati Rasid sebagai Guru Besar bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi penanda arah baru bagi ilmu pertanian di UHO dan Indonesia. Di bawah lampu megah Auditorium Mokodompit, UHO tidak hanya menambah jumlah profesor, tetapi meneguhkan komitmen pada riset yang membumi, berpihak pada petani, dan berakar pada ekologi lokal.

Pesan Plt Rektor UHO, Dr. Herman, S.H., LLM, di akhir prosesi seolah merangkum semuanya: seorang guru besar berada di puncak akademik, tetapi justru harus semakin rendah hati—karena ilmu sejatinya harus kembali ke masyarakat.

Dalam orasi Prof. Rachmawati, ilmu itu menemukan jalannya: dari laboratorium, ke lahan kering Ultisol, hingga ke akar alang-alang yang selama ini terabaikan. Dari sanalah, mungkin, masa depan pertanian berkelanjutan Indonesia mulai bertunas. (red)

× Advertisement
× Advertisement