SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Ekonomi & Bisnis
Beranda / Ekonomi & Bisnis / Desa Liabalano, Ketika Lahan Tidur Menumbuhkan Harapan

Desa Liabalano, Ketika Lahan Tidur Menumbuhkan Harapan

Kepala Desa Liabalano, Alifudin, sedang mengecek tanaman tomat di Desa Liabalano, Kabupaten Muna.

Di Desa Liabalano, pagi selalu datang bersama debu tipis yang terangkat pelan dari jalan tanah. Angin membawa aroma daun tomat yang basah oleh sisa siraman malam, bercampur dengan bau tanah yang baru saja disentuh air. Desa ini, di Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, pernah lama terdiam—seperti tanahnya yang luas, subur, namun dibiarkan tidur.

Liabalano bukan desa besar. Luasnya sekitar 5,4 kilometer persegi, dengan penduduk lebih dari seribu jiwa. Bertahun-tahun, sebagian warganya memilih meninggalkan ladang untuk bekerja sebagai buruh jasa atau sopir ekspedisi. Pertanian belum memberi harapan yang cukup. Lahan ada, tapi tak semua percaya tanah bisa kembali menjadi masa depan. Hingga suatu hari, keyakinan itu ditanamkan kembali.

Keyakinan itu datang bersama Alifudin Mahabu SE, yang dilantik sebagai Kepala Desa Liabalano pada 2023. Sejak masa pencalonan, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Haluoleo Kendari ini membawa satu gagasan yang terdengar sederhana, namun membutuhkan keberanian besar untuk diwujudkan: menjadikan Liabalano sentra pertanian dan peternakan.

“Lahan di Liabalano ini luas dan subur. Sayang kalau dibiarkan tidur. Saya ingin desa ini bangkit dari pertanian,” kata Alifudin.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

Langkah pertama dimulai dari kebijakan. Dana Desa diarahkan ke program ketahanan pangan. Warga bergerak bersama membersihkan lahan. Sekitar 60 hektare kebun kolektif dibuka secara swadaya. Pemerintah desa membangun pagar seng keliling, lalu menanam apa yang bisa ditanam: terong, cabai, pepaya California, dan sayuran lainnya. Tanah yang lama diam mulai kembali bernapas.

Namun Liabalano tidak berhenti di sana. Awal 2025, desa ini melangkah lebih jauh. Kebun tomat seluas satu hektare dibuka di lahan Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan (BPPP) Kontunaga, dengan status pinjam pakai. Pemerintah desa hadir penuh—mengolah lahan, menyediakan bibit, pupuk, insektisida, herbisida, hingga membuat penampungan air darurat dari terpal.

Di Liabalano, air adalah cerita panjang. Saat hujan, tanah menyimpan harapan. Saat kemarau, harapan itu diuji. Tadah hujan tak cukup. Air harus dibeli dari Jompi dan Matakidi, disambung dengan meteran PDAM yang tetap tak mampu memenuhi kebutuhan, lalu didatangkan lagi dengan mobil tangki dari Jompi.

“Tomat itu tidak bisa ditunda airnya. Kalau satu dua hari tidak disiram, bisa habis. Jadi meski berat, kami tetap beli air,” ujar Alifudin.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

Tomat yang tumbuh di Liabalano bukan sembarang tomat. Ada Servo, Panah Merah, dan Mutiara Bumi, dirawat dengan perpaduan sistem organik dan semi-modern. Penyemprotan dilakukan dengan sprayer, penyiraman menggunakan alat kocor. Perawatan dilakukan pagi dan sore, nyaris tanpa jeda.

Kesabaran itu berbuah. Musim tanam pertama menghasilkan sekitar 15 ton tomat. Tomat di Liabalano dapat dipanen hingga tiga kali setahun. Kini, musim tanam kedua berjalan, dan panen kembali dilakukan.

Harga tomat mengikuti irama pasar. Ketika pasokan dari Endrekang dan Sulawesi Tengah berkurang, harga bisa melonjak hingga Rp20.000–Rp30.000 per kilogram. Saat pasar melimpah, harga turun hingga sekitar Rp8.000 per kilogram, terutama jika dijual ke pembongkaran atau tengkulak.

Namun tomat Liabalano punya jalan sendiri: pembeli datang langsung dari Lombe dan Mawasangka, menimbang hasil panen di kebun, membayar di tempat.

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya

Di waktu yang hampir bersamaan, Liabalano menanam harapan lain: jagung kuning. Dua puluh hektare lahan milik warga digarap, dengan penanaman perdana pada Desember 2025. Jagung ditanam secara hamparan dan juga per individu petani. Varietas yang dipilih; Pendekar Sakti, telah melalui uji coba demplot, dikenal tahan panas musim kemarau dan relatif kebal terhadap ulat.

Jagung ini dapat dipanen tiga kali setahun. Harganya memberi rasa aman: Rp6.500 per kilogram, dijamin pemerintah. Meski panen pertama belum tiba, minat warga tumbuh cepat, menyebar dari satu cerita sukses ke cerita lain.

“Kami tidak mau petani coba-coba tanpa dasar. Semua kami uji dulu,” kata Alifudin.

Dukungan datang bertahap. Dinas Pertanian membantu bibit dan pupuk jagung. Dana Desa memodali tomat pada musim pertama. Pada musim kedua, petani tomat sudah mandiri, menggunakan hasil panen sebelumnya. Petani baru mendapat bantuan dari Yayasan Hadji Kalla Makassar—bibit, pupuk, insektisida—serta pendampingan penyuluh pertanian bersama yayasan itu selama Februari 2025 hingga 2027.

Perubahan paling terasa bukan hanya pada ladang, tetapi pada hidup warga. Sebelum program berjalan, banyak yang menggantungkan hidup pada pekerjaan jasa. Setelah uji tanam pertama, petani yang mengelola lahan 30 x 40 meter bisa memperoleh Rp20 juta hingga Rp30 juta per musim tanam.

“Setelah ada yang berhasil, yang lain ikut bergerak,” ujar Alifudin.

Kini, sekitar 90 persen warga Liabalano adalah petani. Mereka menanam nilam, jagung kuning, jagung lokal, ubi, kacang tanah, cabai rawit, cabai keriting, jagung manis, terong, sawi, dan berbagai sayuran lain. Lapangan kerja baru tumbuh—buruh tani, tenaga angkut—menghidupkan kembali denyut desa. Orang Muna menyebutnya dowura deki (lihat terlebih dahulu): satu bergerak, yang lain menyusul.

Petani tomat didominasi usia 20 hingga 40 tahun. Ibu-ibu desa belum banyak terlibat karena budidaya tomat menuntut tenaga dan perawatan intensif, penggunaan sprayer dan alat kocor yang tidak ringan.

Di luar ladang, BUMDes Liabalano mengelola peternakan ayam potong untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebanyak 15 persen Dana Desa dialokasikan untuk BUMDes.

Ke depan, Liabalano ingin memperluas lahan tanam, mengedukasi warga untuk menambah jagung dan komoditas pangan lain. Desa juga berharap sentuhan lebih jauh dari pemerintah dan perguruan tinggi—pelatihan pengolahan pascapanen, agar ketika tomat melimpah, ada jalan lain: saus, olahan, nilai tambah. Targetnya jelas: Desa Liabalano menjadi sentra tomat dan jagung.

Harapan Alifudin terdengar sederhana, tapi dalam maknanya. “Saya ingin petani Liabalano sejahtera. Bukan cuma cukup makan. Kalau bisa, pakai topi putih atau naik haji. Pertanian ini bukan lagi sekadar kerja, tapi bisnis masa depan,” ujar Alifudin sambil tersenyum.

Dari tanah yang pernah diam, Desa Liabalano kini bercerita. Tentang keberanian memulai, tentang air yang dibeli demi tanaman, tentang desa yang percaya pada dirinya sendiri. Dan dari cerita itu, harapan tumbuh—pelan, tapi pasti—musim demi musim. (*)

× Advertisement
× Advertisement