SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Humaniora
Beranda / Humaniora / Di Antara Pesisir dan Tambang: Mengapa Kolaka Rentan terhadap Dampak Perubahan Iklim

Di Antara Pesisir dan Tambang: Mengapa Kolaka Rentan terhadap Dampak Perubahan Iklim

CELEBESPOS.ID, KOLAKA — Kabupaten Kolaka bukan sekadar titik di peta Sulawesi Tenggara. Ia adalah wilayah dengan bentang alam yang kompleks—membentang dari pesisir Teluk Bone hingga jajaran pegunungan—serta menopang sektor-sektor strategis seperti pertanian, perikanan, dan industri pertambangan nikel. Kombinasi ini menjadikan Kolaka bukan hanya penting secara ekonomi, tetapi juga rentan secara ekologis.

Dalam laporan Catatan Iklim Kolaka Edisi 2025, Stasiun Meteorologi Sangia Nibandera menegaskan bahwa perubahan iklim kini telah menjadi realitas yang mengetuk langsung pintu wilayah ini.

Kepala Stasiun Meteorologi Sangia Nibandera, Danu Triatmoko, menyebutkan bahwa Kolaka berada dalam posisi sensitif terhadap fluktuasi cuaca dan dinamika atmosfer yang semakin kompleks.

“Wilayah Kolaka memiliki keunikan topografi dari pesisir hingga pegunungan yang menciptakan pola iklim lokal yang spesifik. Dalam kondisi perubahan iklim global, karakter ini justru meningkatkan kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi,” ujar Danu.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

Topografi yang Indah, Tapi Berisiko

Kolaka memiliki lanskap yang kontras. Di satu sisi terdapat pesisir yang berbatasan langsung dengan Teluk Bone; di sisi lain terdapat kawasan berbukit dan pegunungan. Perbedaan elevasi ini menciptakan variasi pola hujan dan aliran air yang kompleks.

Ketika hujan ekstrem terjadi—yang kini semakin sering tercatat—air dari wilayah dataran tinggi dapat mengalir cepat ke kawasan rendah dan pesisir. Dalam kondisi normal, sistem alami mampu menyesuaikan. Namun ketika hujan turun dalam intensitas tinggi dalam waktu singkat, risiko banjir dan longsor meningkat signifikan.

Laporan BMKG mencatat bahwa tren kenaikan suhu dan ketidakpastian curah hujan memperbesar potensi banjir dan tanah longsor, terutama di area konsesi pertambangan serta permukiman padat penduduk.

Topografi yang bertingkat menjadikan Kolaka sangat bergantung pada stabilitas pola cuaca. Ketika stabilitas itu terganggu, dampaknya menyebar dari hulu ke hilir.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

Industri di Tengah Tekanan Iklim

Kolaka juga dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas pertambangan nikel yang signifikan. Sektor ini berperan penting dalam perekonomian daerah dan nasional. Namun, industri yang beroperasi di kawasan dengan kontur berbukit dan tanah terbuka memiliki sensitivitas tinggi terhadap curah hujan ekstrem.

Hujan deras dalam waktu singkat dapat meningkatkan risiko erosi, limpasan permukaan, dan potensi gangguan operasional. Dalam konteks perubahan iklim, di mana hujan cenderung lebih intens dan tidak merata, tantangan ini menjadi semakin besar.

Di sisi lain, sektor pertanian—termasuk perkebunan kakao dan cengkeh—juga bergantung pada kestabilan musim. Pergeseran pola hujan dan suhu berpotensi mengganggu siklus tanam, produktivitas, hingga ketahanan pangan lokal.

“Perubahan suhu dan pola hujan tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga pada sektor-sektor strategis yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah,” kata Danu.

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya

Pesisir yang Menghadapi Ancaman Ganda

Wilayah pesisir Kolaka menghadapi tantangan tambahan. Selain hujan ekstrem dari darat, kawasan ini juga dipengaruhi dinamika laut.

Laporan BMKG mencatat bahwa pemanasan global berdampak pada kenaikan permukaan laut dan perubahan suhu permukaan laut, yang berpotensi meningkatkan risiko abrasi dan banjir rob.

Bagi masyarakat pesisir dan nelayan, perubahan ini bukan sekadar statistik. Ia berpengaruh pada pola tangkapan ikan, keamanan melaut, hingga stabilitas permukiman.

Ketika faktor darat dan laut sama-sama mengalami tekanan iklim, wilayah seperti Kolaka berada dalam posisi yang semakin kompleks.

Adaptasi Bukan Lagi Pilihan

Data iklim yang dihimpun BMKG selama dua dekade terakhir menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi bukan sekadar fluktuasi tahunan. Ia adalah tren yang konsisten.

Dalam konteks topografi yang beragam dan aktivitas industri yang intensif, Kolaka membutuhkan pendekatan pembangunan yang semakin adaptif terhadap risiko iklim.

Danu menegaskan bahwa pemanfaatan data iklim jangka panjang sangat penting sebagai dasar perencanaan wilayah.

“Kebijakan yang tepat harus berpijak pada landasan ilmiah yang kuat. Informasi iklim ini menjadi bagian penting dalam mendukung ketangguhan daerah menghadapi tantangan di masa depan,” ujarnya.

Kolaka mungkin tetap menjadi daerah yang produktif dan strategis. Namun di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, ketahanan wilayah ini akan sangat ditentukan oleh bagaimana ia membaca lanskapnya sendiri—pesisirnya, pegunungannya, dan industrinya—dalam konteks iklim yang terus bergerak. (red)

× Advertisement
× Advertisement