SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Hukum
Beranda / Hukum / Di Balik Kisah Kapal Tenggelam, Para Istri Menanti di Pelabuhan Maligano

Di Balik Kisah Kapal Tenggelam, Para Istri Menanti di Pelabuhan Maligano

Ilustrasi kapal tenggelam.

CELEBESPOS.ID, MUNA — Sore itu, laut di Pelabuhan Laino Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, terlihat biasa saja. Angin belum menunjukkan gelagat buruk. Langit masih memberi ruang bagi perjalanan yang lazim: sebuah speedboat penumpang meninggalkan dermaga sekitar pukul 16.00 WITA sore, menuju Maligano yang berjarak kurang lebih 18 kilometer dari Laino. Membawa sebanyak 28 penumpang, 4 anak buah kapal, dan 7 unit sepeda motor. Perjalanan rutin—satu jam lebih sedikit—seperti hari-hari sebelumnya.

Di atas kapal, penumpang duduk dengan tujuan masing-masing. Mereka bukan satu keluarga, bukan satu rombongan. Ada yang pulang ke Maligano, ada yang hendak melanjutkan ke wilayah sekitar, ada pasangan suami-istri, ada anak-anak, dan seorang anggota polisi yang menumpang perjalanan sore itu. Tas kecil, karung, dan barang seperlunya disimpan seadanya. Tak ada yang berpikir tentang bahaya. Semua ingin tiba sebelum malam.

Mesin menderu, kapal melaju. Hingga setengah perjalanan, laut bersahabat. Senja mulai turun ketika speed mendekati Maligano. Pelabuhan sudah terlihat. Darat terasa dekat—terlalu dekat untuk membayangkan bahwa perjalanan akan berakhir di laut.

Pelabuhan sedang padat. Beberapa kapal dan speed lebih dulu sandar. Nahkoda memutar haluan, mencari celah. Di momen itulah mesin mendadak mati. Ombak dan angin kencang mengambil kendali. Kapal kehilangan arah. Terombang-ambing dan akhirnya perlahan-lahan tenggelam—di ujung perjalanan.

Tertimpa Batu Saat Bekerja, Operator Excavator di Baubau Meninggal Dunia

Di saat itu, tidak ada waktu untuk menunggu. Penumpang bergerak dengan naluri paling dasar. Sebagian melompat. Air setinggi dada. Jarak ke darat masih bisa dijangkau. Di tengah situasi singkat yang menentukan itu, salah seorang kru kapal, Akram, bergerak cepat. Ia memastikan penumpang keluar lebih dulu. Pelampung dibagikan. Yang tidak kebagian diberikan jerigen kosong.

“Di pikirannya pak Akram, yang penting penumpang selamat dulu. Dia bagi-bagikan baju pelampung. Yang tidak kebagian, dia kasihkan jerigen kosong,” tutur salah seorang warga Maligano, Ibu Asma, mengutip cerita Akram.

Beberapa penumpang dituntun. Anak-anak dipeluk lebih erat. Seorang anggota polisi menjadi salah satu yang lebih dulu mencapai darat, berjalan tertatih sambil meminta pertolongan. Ia memberi tahu: masih ada orang di belakang.

Di laut yang mulai gelap, keberanian hadir tanpa sorak. Ia hadir dalam uluran tangan, dalam bahu yang menopang, dalam keputusan sederhana untuk mendahulukan orang lain.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

Kabar kapal tenggelam cepat menyebar ke Pelabuhan Maligano. Hujan turun tipis, angin bertiup kencang. Warga berdatangan tanpa komando. Tidak ada daftar. Tidak ada aba-aba. Hanya kesadaran bahwa ada orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Di antara mereka ada Ibu Asma menyaksikan warga turun ke laut, bahu membahu di tengah cuaca yang tidak bersahabat.

“Yang turun ke laut itu masyarakat semua. Mereka bahu membahu, padahal masih hujan dan angin kencang,” katanya. Satu per satu penumpang dievakuasi.

Ketika ambulans membawa para penumpang ke puskesmas yang jaraknya kurang lebih satu kilometer dari pelabuhan, Ibu Asma tidak ikut. Ia memilih tinggal di pelabuhan. Alasannya sederhana, tapi menyesakkan: suaminya bersama warga lain masih di laut, membantu penumpang lain.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

“Kami menunggu di pelabuhan. Jangan sampai orang yang pergi menolong justru tidak pulang,” ucapnya pelan.

Malam itu, pelabuhan berubah menjadi ruang tunggu terbuka. Para istri berdiri menatap laut gelap—menunggu perahu kembali, menunggu kabar, menunggu orang-orang mereka pulang. Waktu berjalan tanpa jam. Hanya angin dan ombak yang terdengar, seolah ikut menjaga rahasia kecemasan yang tak terucap. Beruntung, semua kembali dengan selamat.

Tak terasa Subuh datang, tapi cerita tidak berhenti. Tujuh sepeda motor milik penumpang masih berada di dasar laut. Badan kapal tertanam di lumpur dan batu. Warga kembali berkumpul—membawa tali, drum plastik, speed kecil, dan perahu katinting milik sendiri.

Motor diangkat satu per satu. Berat oleh air asin, tetapi utuh. Tidak ada yang hilang. Setelah itu, badan kapal. Keterbatasan disiasati dengan cara yang mereka tahu: drum plastik dipasang untuk mengapungkan lambung, lalu kapal ditarik perlahan. Tarik—henti—atur ulang—tarik lagi. Kerja yang sunyi, berulang, dan melelahkan.

“Sampai sekarang masih ditarik. Masyarakat masih di sana,” kata Ibu Asma saat dihubungi pagi hari tadi.

Menjelang siang, ikhtiar itu mencapai ujungnya. Dengan peralatan seadanya dan tenaga gotong royong, kapal yang tenggelam berhasil dievakuasi. Kapal Rembulan membantu menariknya hingga aman. Sekitar pukul 13.15 WITA, proses evakuasi dinyatakan selesai.

Tidak ada sorak. Tidak ada selebrasi. Hanya bahu yang mengendur, napas yang kembali teratur—dan wajah-wajah yang akhirnya bisa pulang.

Tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Itulah penutup paling penting dari sebuah perjalanan yang nyaris berakhir tragis. Namun di Maligano, kisah ini hidup lebih lama—tentang keberangkatan yang tenang dari Laino, tentang mesin yang mati ketika darat sudah dekat, tentang pilihan-pilihan kecil yang menyelamatkan, dan tentang para istri yang menunggu di pelabuhan hingga malam menua.

Di balik kisah kapal tenggelam itu, ada solidaritas yang tak ikut karam. Ada warga yang menjaga sesama. Ada pelabuhan yang menjadi saksi.

Dan ketika kapal akhirnya terangkat dari dasar laut, yang benar-benar kembali ke darat bukan hanya besi dan kayu—melainkan keyakinan bahwa, pada saat paling genting, manusia masih memilih untuk saling menunggu dan menolong.

Laut kembali tenang. Pelabuhan kembali lengang. Baru saat itulah, napas panjang yang sejak malam tertahan—akhirnya—dilepaskan. (*)

× Advertisement
× Advertisement