SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Humaniora
Beranda / Humaniora / Dr Arsyad: Puasa Seperti Ulat, Jangan Jadi Ular yang Mengantar pada Korupsi

Dr Arsyad: Puasa Seperti Ulat, Jangan Jadi Ular yang Mengantar pada Korupsi

Dr. Ir. H. Arsyad Junaidin, MM, MCP menyampaikan ceramah Ramadan di Masjid Miftahul Khair, Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Jumat, 20 Februari 2026.

CELEBESPOS.ID, KENDARI – Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi benteng moral agar manusia tidak tergelincir pada kerakusan yang bisa berujung korupsi. Jika puasa hanya menjadi rutinitas tanpa perubahan karakter, maka ia tak lebih dari “ganti kulit” tanpa perbaikan hati.

Pesan itu disampaikan penceramah Ramadan, Dr. Ir. H. Arsyad Junaidin, MM, MCP, Imam Masjid Miftahul Khair, dalam ceramahnya di Masjid Miftahul Khair, Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Jumat, 20 Februari 2026.

Di hadapan jamaah yang memadati masjid, Dr Arsyad menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi bertakwa.

Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

Yaa ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumus shiyam kamaa kutiba ‘alalladzina min qablikum la’allakum tattaqun.

Menurutnya, kata tattaqun bukan sekadar konsep spiritual, melainkan ukuran perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Puasa yang benar harus melahirkan pengendalian diri, kejujuran, dan kelembutan sikap.

Ulat dan Ular sebagai Cermin Puasa

Dalam ceramahnya, Dr Arsyad mengangkat perumpamaan ulat dan ular sebagai refleksi kualitas ibadah manusia.

Ulat dikenal sebagai makhluk yang menjijikkan dan rakus, memakan hampir semua yang ada di hadapannya. Namun ketika memasuki fase kepompong, ia berdiam diri dalam proses panjang. Dari situ, ia keluar sebagai kupu-kupu yang indah, tidak lagi merusak, bahkan hanya mengisap sari bunga dan hinggap dengan lembut.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

“Itulah gambaran orang yang puasanya berhasil. Ada transformasi. Ada perubahan karakter,” ujarnya.

Sebaliknya, ular juga berdiam diri dan berganti kulit. Namun setelah proses itu, sifat dasarnya tetap sama—memangsa dan melilit tanpa pandang bulu.

“Kalau puasa kita seperti ular, sebelum dan sesudah Ramadan sama saja. Hanya berganti kulit, tetapi wataknya tidak berubah,” tegasnya.

Tazkiyatun Nafs dan Pengendalian Nafsu

Dr Arsyad kemudian mengutip Surah Asy-Syams ayat 8–10:

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya

Fa alhamahaa fujuurahaa wa taqwaahaa. Qad aflaha man zakkahaa. Wa qad khaaba man dassaahaa.”

Menurutnya, setiap manusia diberi potensi kebaikan dan keburukan. Ramadan adalah ruang pendidikan untuk menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs). Jika latihan ini gagal, maka puasa hanya menjadi aktivitas biologis tanpa dampak moral.

Ia juga mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW:

Man kaana yu’minu billahi wal yaumil aakhir fal yaqul khairan aw liyasmut.”

Artinya, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam.

Pesan ini, lanjutnya, relevan dalam kehidupan sosial—mulai dari menjaga lisan, tidak mengambil hak orang lain, hingga tidak menghalalkan segala cara demi ambisi pribadi.

Refleksi Integritas dan “Hotel Prodeo”

Dalam bagian reflektif ceramahnya, Dr Arsyad menyinggung fenomena pejabat atau tokoh publik yang awalnya hidup mewah, namun akhirnya harus mendekam di balik jeruji besi—yang sering disebut masyarakat sebagai “hotel prodeo”.

Menurutnya, banyak kasus penyalahgunaan jabatan atau korupsi berawal dari kegagalan mengendalikan nafsu. Ketamakan yang tidak terkendali membuat seseorang tergelincir, meskipun ia rajin beribadah secara lahiriah.

“Jabatan adalah amanah. Jika tidak dikendalikan dengan takwa, ia bisa menjadi jalan kehancuran,” katanya.

Ia menekankan bahwa Allah tidak menciptakan sesuatu tanpa hikmah, sebagaimana firman-Nya:

Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan.

Manusia diperintahkan untuk mengambil pelajaran dari apa pun di sekitarnya, termasuk dari makhluk sederhana seperti ulat dan ular.

Ceramah yang berlangsung khidmat itu ditutup dengan doa agar seluruh jamaah mampu keluar dari Ramadan sebagai pribadi yang lebih jujur, lebih lembut, dan lebih bertanggung jawab.

“Jangan hanya ganti waktu, jangan hanya ganti kulit. Ramadan harus mengubah hati,” pungkasnya. (red)

× Advertisement
× Advertisement