CELEBESPOS.ID, KENDARI — Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo (UHO) pada Senin pagi tadi, 9 Februari 2026, tidak hanya menjadi ruang seremoni akademik, tetapi juga panggung bagi gagasan strategis tentang masa depan energi Indonesia.
Di hadapan Senat Universitas, sivitas akademika, dan para undangan, Prof. Dr. Eng. Ir. Lukas Kano Mangalla, ST., MT., IPM, dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Rekayasa Konversi Energi. Orasi ilmiahnya bertajuk “Rekayasa Sistem Termal Inovatif untuk Energi Berkelanjutan” menegaskan posisi risetnya sebagai jembatan antara sains, teknologi, dan kebijakan energi nasional.
Sejak awal, Prof. Lukas menempatkan orasinya dalam konteks tantangan global. Ia mengingatkan bahwa dunia saat ini menghadapi tiga krisis energi yang saling terkait: ketergantungan pada energi fosil, perubahan iklim, dan kerusakan lingkungan. Menurutnya, transisi energi bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan. Namun, transisi itu harus berbasis sistem yang tidak hanya bersih, tetapi juga efisien, andal, dan realistis untuk diterapkan dalam skala industri.
Dalam kerangka inilah ia memperkenalkan rekayasa sistem termal sebagai “jantung teknologi energi modern.” Sebagian besar proses konversi energi—baik pada pembangkit listrik, sektor industri, maupun transportasi—berbasis panas. Oleh karena itu, bagaimana panas dihasilkan, didistribusikan, dan dikendalikan menjadi kunci utama efisiensi energi. Prof. Lukas menegaskan bahwa inovasi di bidang sistem termal bukan sekadar peningkatan teknis, tetapi perubahan paradigma dalam cara manusia memanfaatkan energi.
Salah satu inti orasinya adalah teknologi torefaksi biomassa, sebuah metode pemrosesan termal yang mengubah biomassa mentah menjadi bahan bakar yang lebih stabil dan berkalori tinggi. Ia memulai dengan fakta bahwa Indonesia memiliki potensi biomassa setara listrik sebesar 56,97 GW, berdasarkan data Kementerian ESDM 2023. Sumbernya melimpah—mulai dari sekam padi, cangkang sawit, hingga cangkang kelapa. Namun, biomassa mentah memiliki keterbatasan: nilai kalor rendah, kadar air tinggi, serta sifat pembakaran yang tidak stabil.
Melalui proses torefaksi berbasis pemanasan microwave–elektrik, biomassa dapat ditransformasi menjadi bahan bakar yang lebih padat energi, lebih kering, dan lebih konsisten dalam pembakaran. Hasil riset timnya pada biomassa cangkang sawit menunjukkan peningkatan nilai kalor hingga 25,6 persen, penurunan kadar air hingga 45 persen, serta terbentuknya struktur material yang lebih berpori dan stabil. Temuan ini, yang telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi, menunjukkan bahwa biomassa tidak lagi sekadar limbah, tetapi sumber energi strategis yang dapat menggantikan batu bara secara bertahap.
“Ini bukan sekadar angka di laboratorium, tetapi jembatan agar biomassa dapat menggantikan batu bara secara realistis dalam industri energi,” tegas Prof. Lukas dalam orasinya.
Ia kemudian mengaitkan torefaksi biomassa dengan kontribusi nyata terhadap energi berkelanjutan. Biomassa tertorefaksi dapat digunakan dalam skema co-firing pada boiler pembangkit listrik berbasis batu bara, mengurangi emisi karbon tanpa harus mengganti infrastruktur secara total. Selain itu, material karbon berpori hasil torefaksi berpotensi dikembangkan sebagai bahan untuk baterai solid-state storage energy, membuka peluang riset lanjutan di bidang penyimpanan energi. Semua ini, menurutnya, adalah bentuk konkret rekayasa konversi energi yang mendukung ekonomi hijau.
Di bagian lain orasinya, Prof. Lukas menekankan bahwa inovasi sistem termal telah bergeser dari pemanasan konvensional yang lamban dan boros menuju pemanasan microwave yang lebih cepat, merata, dan hemat energi. Pergeseran ini bukan sekadar peningkatan efisiensi, tetapi perubahan cara pandang dalam memanfaatkan panas—dari sekadar alat, menjadi inti strategi transisi energi.
Sebagai penutup, ia menegaskan tiga kesimpulan utama: pertama, rekayasa sistem termal inovatif adalah fondasi masa depan energi berkelanjutan; kedua, teknologi torefaksi berbasis microwave–elektrik mampu mentransformasi biomassa menjadi bahan bakar berkualitas tinggi; dan ketiga, sinergi riset perguruan tinggi dengan industri serta pemerintah akan mempercepat terwujudnya sistem energi yang lebih bersih dan efisien.
Di luar aspek teknis, orasi ini juga sarat refleksi institusional. Prof. Lukas menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi atas penetapan dirinya sebagai Guru Besar efektif Juni 2025. Ia juga mengapresiasi Rektor UHO, Senat Akademik, Dewan Guru Besar, serta jajaran pimpinan fakultas dan jurusan yang telah mendukung perjalanan akademiknya.
Tak lupa, ia menyebut peran para mantan rektor UHO, kolega dosen, lembaga pendanaan riset, serta mentor doktoralnya di Kanazawa University, Jepang—khususnya Sensei Hiroshi Enomoto—yang membentuk landasan keilmuannya. Bagi Prof. Lukas, capaian ini bukan hanya miliknya, tetapi buah kerja kolektif ekosistem akademik UHO.
Pengukuhan Prof. Lukas Kano Mangalla menambah deretan guru besar baru UHO yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan strategis bangsa. Di tengah tantangan transisi energi, UHO menegaskan diri sebagai kampus yang tidak hanya melahirkan ilmuwan, tetapi juga solusi bagi masa depan Indonesia.
Di bawah sorotan lampu Auditorium Mokodompit, pengukuhan ini bukan sekadar seremoni—tetapi deklarasi bahwa inovasi dari Sulawesi Tenggara siap berkontribusi bagi energi bersih dan kemandirian nasional. (red)






