CELEBESPOS.ID, KENDARI — Saf jamaah di Masjid Miftahul Khair, Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, tidak lagi sepadat awal Ramadan. Seiring bulan suci yang mulai memasuki penghujungnya, jumlah jamaah yang hadir dalam ceramah malam itu tampak berkurang.
Di hadapan jamaah yang masih setia mengikuti tausiyah, Ustadz La Ode Amrul Hasan, ST., M.Pw., menyampaikan pengingat yang cukup tajam: jangan sampai umat Islam termasuk golongan yang mengabaikan Al-Qur’an.
“Beberapa saat lagi Ramadan akan meninggalkan kita. Pertanyaannya, apakah derajat takwa yang menjadi tujuan puasa benar-benar kita dapatkan?” ujar Ustadz Amrul membuka ceramahnya.
Menurutnya, ukuran takwa tidak sekadar terlihat dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari rasa takut dan malu terhadap perbuatan maksiat, serta rasa cinta terhadap segala yang diridhai Allah SWT.
Ia kemudian mengingatkan bahwa Al-Qur’an seharusnya menjadi pedoman utama dalam kehidupan seorang muslim.
Mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah, ia menyampaikan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
Namun, kata dia, Rasulullah SAW pernah mengadukan keadaan umatnya kepada Allah.
“Rasul berkata, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan’,” tuturnya mengutip ayat dalam Al-Qur’an.
Mengacu pada penjelasan ulama tafsir seperti Imam Ibnu Katsir, Ustadz Amrul menyebutkan beberapa bentuk pengabaian terhadap Al-Qur’an. Di antaranya tidak mau mendengarkan dan beriman kepada Al-Qur’an, membaca tetapi tidak mengamalkannya, hingga tidak menjadikannya sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan masyarakat.
Ia mencontohkan persoalan perzinaan yang menurutnya bukan hanya menjadi dosa secara pribadi, tetapi juga membawa dampak sosial yang luas.
Dalam Al-Qur’an, kata dia, telah dijelaskan adanya hukuman bagi pelaku zina sebagai bentuk pencegahan terhadap kerusakan moral di masyarakat, termasuk hukuman dera bagi pelaku zina.
Namun dalam kehidupan modern, menurutnya, ketentuan tersebut tidak dijalankan sehingga berbagai dampak sosial terus muncul.
“Zina bukan hanya persoalan dosa besar. Dampaknya juga merusak masyarakat, termasuk penyebaran penyakit berbahaya dan rusaknya tatanan keluarga,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami maknanya dan menjadikannya sebagai pedoman hidup.
Menurutnya, berbagai persoalan sosial yang terjadi hari ini, termasuk maraknya korupsi dengan nilai yang semakin besar, tidak lepas dari sikap manusia yang meninggalkan nilai-nilai Al-Qur’an.
“Kalau sesuatu itu haram, maka tetap haram, meskipun dibolak-balik dengan berbagai alasan. Seorang muslim harus tegas dalam memegang hukum Allah,” tegasnya.
Di akhir ceramah, Ustadz Amrul mengajak jamaah memanfaatkan sisa Ramadan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kedekatan dengan Allah SWT.
“Orang yang menjaga dirinya dari dosa dan memelihara perbuatan baik, itu karena ketakwaannya kepada Allah. Mudah-mudahan Ramadan ini benar-benar melahirkan pribadi yang bertakwa,” tutupnya. (red)






