SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Figur & Inspirasi
Beranda / Figur & Inspirasi / Jejak Aswan, Anak Muda Alumni Pondok Pesantren Baitul Qur’an Kendari sebagai Imam Masjid Al Alam

Jejak Aswan, Anak Muda Alumni Pondok Pesantren Baitul Qur’an Kendari sebagai Imam Masjid Al Alam

Aswan memimpin salat berjamaah di Masjid Al Alam Kendari. Dengan bacaan yang tartil dan penuh ketenangan, alumni Pondok Pesantren Hafidz Baitul Qur’an Al Askar Kendari ini dipercaya menjadi imam di masjid ikon Sulawesi Tenggara.

CELEBESPOS.ID, KENDARI – Sore itu, langit Kendari seakan sengaja melambat. Cahaya matahari jatuh lembut di ufuk barat, memantul pada kubah emas Masjid Al Alam Kendari yang berdiri anggun di atas air. Masjid itu bukan sekadar bangunan ibadah. Ia adalah penanda harapan, simbol keteguhan iman, dan saksi bisu ribuan doa yang tak pernah benar-benar berhenti.

Di dalamnya, seorang imam berdiri tenang di mihrab. Suaranya tidak keras, tidak pula bergetar berlebihan. Ayat-ayat Al-Qur’an mengalir dari lisannya dengan tartil, pelan, jernih, seolah setiap huruf diberi waktu untuk menemukan tempatnya sendiri di hati jamaah. Sosok itu bernama Aswan.

Tak banyak yang tahu, sebelum dipercaya memimpin salat di masjid kebanggaan Sulawesi Tenggara ini, Aswan pernah menjadi anak kecil dari sebuah kampung pesisir bernama Jalan Dermaga, sebuah wilayah di Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari. Kampung yang sederhana, dihuni masyarakat dari berbagai suku—Tolaki, Bugis, Jawa—yang hidup berdampingan dengan laut sebagai halaman depan rumah mereka.

Aswan lahir di sana pada 3 Oktober 1997, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya, Husen, adalah seorang nelayan. Setiap hari menggantungkan harapan pada laut, berangkat subuh dan pulang membawa rezeki yang tak selalu pasti. Ibunya, Salma, seorang ibu rumah tangga, penjaga rumah, penjaga doa, dan penjaga harapan agar anak-anaknya tumbuh dalam jalan yang benar.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

“Kami hidup sederhana,” kata Aswan, dengan nada yang nyaris tak ingin mengeluh. “Tapi orang tua selalu menanamkan satu hal: jangan jauh dari agama.” Kalimat sederhana itu kelak menjadi pondasi hidupnya.

Pada tahun 2009, saat masih duduk di kelas V Sekolah Dasar, hidup Aswan mulai berbelok. Saat itu, H. Muh. Nur Alfiq, pimpinan Pondok Pesantren Hafidz Baitul Qur’an Al Askar Kendari, bersama istrinya Ustazah Sherly, datang ke Jalan Dermaga. Abi dan Umi, sapaan akrab keduanya, mencari anak-anak yang bersedia mondok dan menghafal Al-Qur’an.

Tak ada janji masa depan, tak ada bayangan menjadi imam masjid besar. Yang ada hanya pertanyaan sederhana kepada para orang tua: adakah anak yang ingin belajar Al-Qur’an? Tujuh anak menyatakan kesiapan. Salah satunya Aswan.

Keputusan itu bukan semata-mata keinginan seorang anak kecil. Ada restu orang tua, ada doa ibu, dan ada keberanian seorang ayah nelayan yang rela melepas anaknya menempuh jalan panjang yang tak semua orang sanggup.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

“Saya masuk pondok karena dorongan orang tua,” kenang Aswan. “Tapi di dalam hati, saya memang sudah berniat menghafal Al-Qur’an 30 juz.”

Hari-hari di Pondok Pesantren Hafidz Baitul Qur’an Al Askar Kendari bukanlah hari yang mudah. Bangun sebelum fajar, salat Subuh, lalu setoran hafalan. Sekolah formal dijalani siang hari, murajaah sore hari, dan malam dihabiskan bersama mushaf hingga sekitar pukul sepuluh.

Ada hari-hari ketika ayat terasa berat. Ada malam-malam ketika hafalan terasa tak bergerak. Ada kejenuhan, ada lelah, ada rindu rumah.

“Ada ayat yang sangat susah,” ujar Aswan. “Di situ saya belajar sabar. Mengulang terus. Berdoa. Istiqamah.”

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya

Menyerah, katanya, tidak pernah benar-benar ia pilih. Jenuh, iya. Tapi selalu diingatkan oleh satu nasihat Abi yang terus terpatri di hatinya:

Barang siapa menghafal Al-Qur’an dan menjaganya, kelak di akhirat akan dipakaikan mahkota kepada kedua orang tuanya.

Kalimat itu bukan sekadar motivasi. Ia menjelma menjadi pengingat wajah ayah dan ibu di kampung pesisir—tentang doa yang tak pernah putus, tentang keringat ayah yang asin oleh laut, dan tentang ibu yang setia menunggu kabar.

Kesungguhan Aswan tak luput dari perhatian para pembinanya. H. Muh. Nur Alfiq menyaksikan langsung perjalanan itu sejak awal.

Alhamdulillah, ananda Aswan ini sejak kecil sudah kami bina. Ia santri yang taat, tekun dengan Al-Qur’an, dan memiliki suara yang sangat baik,” tutur Abi.
“Pada tahun 2014, salah satu sahabat kami, pengusaha Haji Mastur Munzi, merasa sangat terharu melihat ketekunannya, hingga menghadiahkan umrah untuk ananda Aswan.”

Bagi seorang anak nelayan dari Kampung Dermaga, hadiah itu bukan sekadar perjalanan ke Tanah Suci. Ia adalah pengakuan bahwa ketulusan dalam menjaga Al-Qur’an selalu menemukan jalannya sendiri untuk dimuliakan.

Waktu terus berjalan. Aswan menyelesaikan hafalan 30 juz, lalu mulai menjaga hafalannya dengan disiplin—khatam tiga kali sebulan, murajaah minimal tiga juz setiap hari.

Sambil mondok, ia melanjutkan pendidikan formalnya: SD Negeri 06 Poasia, MTs Asy-Syafi’iyah dan MA Asy-Syafi’iyah di Baruga, hingga kini menempuh kuliah di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jannatu ‘Adnin Kendari di Jln. Wayong By Pass Kelurahan Lepolepo, jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

Pengalaman menjadi imam bermula saat ia dipercaya sebagai imam pengganti di Masjid Al Kautsar Kendari pada 2017–2018. Menggantikan Abi atau Ustadz Enre. Dari sana, ia belajar menghadapi jamaah, membaca situasi, dan memahami bahwa menjadi imam bukan hanya soal bacaan, tetapi kepekaan.

Pada tahun 2019, amanah besar itu datang. Aswan resmi dipercaya menjadi imam Masjid Al Alam Kendari. Bermula saat Abi meminta berkas-berkas Aswan. Setelah itu, Aswan mendapatkan telepon dari salah seorang pengurus Masjid Al Alam Kendari.

“Saya sempat tidak percaya,” katanya jujur. “Yang saya rasakan pertama kali hanya syukur. Bangga, tapi juga takut—karena ini tanggung jawab besar.”

Kini, Aswan telah berkeluarga. Bersama istrinya, Herliana, ia membesarkan dua anak mereka, Afiza Ghania dan Azzam Fadholi. Di sela perannya sebagai imam, ia juga mengajar tahfidz di Pondok Pesantren Hafidz Baitul Qur’an Al Askar Kendari Simbo—menerima setoran pagi, murajaah siang dan sore, kuliah Senin hingga Kamis, serta memimpin salat dua kali sepekan di Masjid Al Alam.

Jika jadwal bertabrakan, salah satunya ia geser. Jika lelah, malam hari ia pulang ke rumah—tempat ia kembali menjadi ayah, suami, dan manusia biasa.

Bagi jamaah, sosok Aswan menghadirkan ketenangan. Nanang, salah seorang jamaah Masjid Al Alam, mengaku selalu merasa damai ketika Aswan menjadi imam.

“Bacaannya tenang. Tidak tergesa. Seperti diajak pelan-pelan mendekat kepada Allah,” katanya.

Bagi Aswan sendiri, Al-Qur’an adalah jalan hidup. Ia bukan sekadar hafalan, tetapi pedoman yang harus dihidupi.

“Al-Qur’an tidak cukup dihafal,” ujarnya pelan. “Ia harus dipahami dan diamalkan. Ia penyembuh kegelisahan.”

Kepada para santri dan anak muda, Aswan selalu menitipkan pesan yang sama:

Jika lelah, ingat wajah ayah dan ibu. Hadiah terbaik bukan jabatan atau harta, tapi mahkota kemuliaan yang kelak kita pakaikan di kepala mereka di surga.

Di Masjid Al Alam Kendari, di antara laut, langit, dan doa-doa yang terangkat, ayat-ayat itu terus bergema. Dan di balik setiap lantunan, ada kisah panjang tentang seorang anak nelayan, seorang ibu rumah tangga, sebuah pesantren, dan seorang anak muda bernama Aswan—yang memilih setia menjaga Al-Qur’an, hingga Allah mengangkat derajatnya dengan cara yang paling lembut dan paling indah. (*)

× Advertisement
× Advertisement