Yā ayyuhalladzīna āmanū in tanṣurullāha yanṣurkum
CELEBESPOS.ID, KENDARI – Pagi belum sepenuhnya terbangun ketika kawasan Eks MTQ Kendari dipenuhi warna putih. Di bangku-bangku taman yang berjajar di bawah pepohonan, ratusan santri duduk tenang, sebagian membuka mushaf, sebagian lain melafalkan hafalan dengan suara nyaris tak terdengar. Udara lembap menyelimuti kota, menciptakan suasana hening yang jarang ditemui di ruang publik.
Santri ikhwan mengenakan jubah putih dan peci, sebagian memakai baju koko putih dengan celana gelap. Di bagian lain, santriwati duduk rapi dengan hijab putih dan gamis hitam. Di tangan mereka, Al-Qur’an terbuka—dibaca, diulang, dan dijaga. Muroja’ah berlangsung khidmat, menghadirkan suasana religius di jantung Kota Kendari.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Kendari Murojaah, sebuah program syiar Al-Qur’an yang digagas Pondok Pesantren Tahfidz Baitul Qur’an Al Askar Kendari. Sebagaimana tertuang dalam flyer kegiatan, Kendari Murojaah digelar untuk membumikan dan memasyarakatkan Al-Qur’an, sekaligus menyambut Bulan Suci Ramadhan, dengan harapan membawa dampak keberkahan bagi Kota Kendari dan Sulawesi Tenggara secara luas.
Sebanyak 1.000 santri terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA). Para wali santri turut hadir, menyatu dalam barisan, menjadi saksi langsung proses pendidikan Al-Qur’an yang selama ini berlangsung di lingkungan pesantren.

Usai muroja’ah, mushaf ditutup dengan rapi. Santri-santri bangkit dari tempat duduk. Barisan pun terbentuk. Perlahan, mereka bergerak mengelilingi Tugu MTQ Kendari, ikon kota yang pagi itu menjadi pusat syiar.
Di depan barisan, sebuah baliho kecil bertuliskan Kendari Murojaah diangkat tinggi. Di belakangnya, lautan putih bergerak tertib menyusuri jalanan sekitar MTQ. Shalawat dan murojaah surat-surat pendek dikumandangkan, dipandu oleh para pengurus dan pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Baitul Qur’an Al Askar Kendari.
Lantunan shalawat mengalir pelan namun konsisten, menarik perhatian warga yang melintas. Beberapa memperlambat langkah, sebagian berhenti sejenak, menyaksikan barisan santri yang berjalan sambil bershalawat di ruang publik kota.
Di tengah barisan itu, H. Muh. Nur Alfiq, pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Baitul Qur’an Al Askar Kendari, berjalan bersama para santri. Ia tidak berdiri di mimbar atau mengambil jarak. Wawancara berlangsung sambil melangkah, mengikuti irama shalawat dan langkah kaki.

“Kami ingin membumikan dan memasyarakatkan Al-Qur’an serta shalawat, menuju Kota Kendari menjadi Kota Al-Qur’an,” ujarnya.
Di sela langkah mengitari tugu, ia menyampaikan ayat Al-Qur’an yang menjadi pijakan keyakinannya: Yā ayyuhalladzīna āmanū in tanṣurullāha yanṣurkum wa yuṡabbit aqdāmakum (QS. Muhammad: 7)
Artinya, wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.
Menurut Nur Alfiq, Kendari Murojaah bukan kegiatan insidental. Program ini telah memasuki batch kedua, setelah sebelumnya digelar pada awal bulan Rajab dan kembali dilaksanakan pada awal bulan Sya’ban.

Ke depan, Kendari Murojaah dirancang menjadi agenda rutin bulanan. Khusus pada bulan Ramadhan, pelaksanaannya akan disesuaikan, yakni ba’da Ashar hingga menjelang waktu berbuka puasa.
Keyakinan bahwa Al-Qur’an mampu mengubah wajah sosial masyarakat, kata Nur Alfiq, lahir dari pengalaman panjang pembinaan di lapangan. Ia menyebut Kampung Dermaga, Kota Kendari, sebagai salah satu contoh nyata.
Di kawasan tersebut, pembinaan telah dilakukan selama sekitar 16 tahun. Pada masa awal pendampingan, Kampung Dermaga dikenal lekat dengan kebiasaan minum khamar dan praktik judi. Pendekatan dilakukan secara bertahap melalui pendidikan Al-Qur’an, pembinaan keluarga, dan pendampingan berkelanjutan.
“Hari ini, alhamdulillah, hampir tidak ada lagi aktivitas minum khamar dan judi di sana,” ujarnya.

Perubahan paling nyata terlihat di tingkat keluarga. Hampir setiap rumah kini memiliki anak penghafal Al-Qur’an. Salah seorang di antaranya bahkan dipercaya menjadi imam Masjid Al-Alam Kendari.
Selain Kampung Dermaga, pembinaan juga dilakukan di kawasan Jalan Lamasa, yang dikembangkan sebagai kampung hijrah dan kampung Al-Qur’an percontohan. Di wilayah ini, Al-Qur’an didorong menjadi pusat aktivitas keluarga dan lingkungan.
Dari pengalaman tersebut, Nur Alfiq menyampaikan harapan ke depan. Ia berharap Kendari Murojaah tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi melahirkan dampak sosial yang nyata.
“Harapan kami, ke depan setiap gang di Kota Kendari ada penghafal Al-Qur’an, bahkan di setiap rumah umat Muslim. Dengan begitu, penyakit-penyakit sosial seperti tawuran, begal, mabuk-mabukan, dan lainnya bisa terkikis secara perlahan,” ujarnya.
Ia kemudian mengutip ayat tentang keberkahan sebuah negeri: Walau anna ahlal qurā āmanū wattaqau lafataḥnā ‘alaihim barakātim minas-samā’i wal-arḍ (QS. Al-A’raf: 96)
Artinya, dan sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.
“Itu yang kita harapkan,” katanya.
Kegiatan Kendari Murojaah kemudian ditutup dengan foto bersama. Para santri, wali santri, dan para pengasuh berdiri rapi dengan latar Tugu MTQ Kendari. Mushaf diangkat, senyum merekah. Tugu MTQ berdiri tegak di belakang mereka—menjadi saksi pagi ketika Al-Qur’an dibaca bersama, shalawat dikumandangkan, dan sebuah gerakan membumikan Al-Qur’an kembali diteguhkan.
Pagi itu, Kendari mungkin belum sepenuhnya menjadi Kota Al-Qur’an. Namun melalui Kendari Murojaah, mushaf di tangan para santri, dan langkah yang mengitari tugu, sebuah ikhtiar besar sedang bergerak—tenang, konsisten, dan penuh harapan bagi Sulawesi Tenggara. (*)






