SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Figur & Inspirasi
Beranda / Figur & Inspirasi / Kisah Damkarmat Kendari Menjaga Kota Setiap Hari: Dari Buka Cincin hingga Terima Rapor

Kisah Damkarmat Kendari Menjaga Kota Setiap Hari: Dari Buka Cincin hingga Terima Rapor

Petugas Damkarmat Kota Kendari dengan penuh kehati-hatian membantu proses pelepasan cincin yang terjepit di jari warga pada malam hari.

Damkarmat bukan hanya soal kebakaran. Ini tentang hadir ketika masyarakat benar-benar membutuhkan.” — Kadis Damkarmat Kota Kendari, Ahriawandy Effendy.

CELEBESPOS.ID, KENDARI – Di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, sirene tidak selalu menandakan api. Kadang, ia hanya menjadi isyarat sunyi bahwa seseorang sedang kehabisan cara—dan berharap ada yang datang.

Harapan itu, lebih sering daripada yang disadari publik, berlabuh di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Kendari. Sebuah institusi yang selama ini identik dengan kobaran api, tetapi dalam kesehariannya justru bekerja di ruang-ruang paling manusiawi dari kehidupan kota.

Sepanjang tahun 2025, Damkarmat Kota Kendari mencatat 374 kasus penyelamatan non kebakaran. Angka itu terdengar sederhana, nyaris administratif. Namun di baliknya, tersimpan ratusan kisah tentang kepanikan, kebingungan, dan kelegaan yang datang tepat waktu.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

Kasus-kasus itu hadir dalam rupa yang beragam: ular dan biawak yang masuk ke halaman rumah,
monyet yang mengganggu permukiman, sarang tawon di atap rumah warga, cincin dan perhiasan yang menjepit jari membengkak,
hingga berbagai bantuan darurat yang tak pernah direncanakan, tapi harus segera ditangani.

“Damkarmat bukan hanya soal kebakaran. Ini tentang hadir ketika masyarakat benar-benar membutuhkan,” ujar Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Kendari, Drs. Ahriawandy Effendy.

Hari-hari Damkarmat berjalan tanpa pola yang pasti. Pagi bisa dimulai dengan pintu rumah yang terkunci dari luar. Siang berganti dengan laporan kunci motor jatuh ke selokan.
Sore diwarnai evakuasi hewan liar.
Dan malam—justru sering menjadi waktu paling sibuk—ketika ular muncul di depan rumah, mobil terjebak lumpur, atau tabung gas bocor di dapur warga.

Tim rescue bergerak cepat, dengan ketenangan yang lahir dari latihan dan pengalaman. Mereka tidak datang untuk menimbang seberapa besar masalah itu terlihat. Mereka datang karena seseorang membutuhkan pertolongan—dan itu sudah cukup.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

Ada tugas-tugas yang menuntut keberanian fisik: turun ke dalam sumur, berhadapan langsung dengan ular besar di tengah kerumunan warga, atau mengevakuasi sarang tawon di ketinggian. Semua dilakukan dengan prosedur yang ketat, sebab satu kesalahan kecil bisa berujung fatal.

Namun ada pula tugas-tugas yang menuntut kesabaran dan empati.
Seorang warga datang dengan wajah cemas. Cincin pernikahan menjepit jarinya yang membengkak. Tim rescue bekerja perlahan—mengalirkan air, mengatur alat, menenangkan pemilik tangan yang gemetar.

Ketika cincin itu akhirnya terlepas dan tergeletak di telapak tangan, tidak ada sorak-sorai. Hanya napas lega dan senyum kecil yang kembali ke wajah pemiliknya.

Momen-momen seperti itu jarang tercatat dalam statistik. Namun justru di sanalah makna penyelamatan bekerja.

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya

Di antara ratusan kasus non kebakaran itu, ada satu kisah yang memperlihatkan wajah lain Damkarmat—wajah yang tak tercantum dalam standar operasional mana pun.

Seorang siswi SMP di Kendari kebingungan menjelang pembagian rapor. Aturan sekolah mengharuskan kehadiran wali laki-laki. Sementara ayah dan ibunya telah berpisah. Dengan keberanian yang sederhana, ia mendatangi Damkarmat.

Seorang petugas datang ke sekolah. Berseragam lengkap. Duduk menemani. Berdiri mendampingi. Mengikuti prosesi dari awal hingga akhir. Hari itu, Damkarmat tidak memadamkan api. Ia memadamkan kesedihan.

“Yang kami lakukan mungkin terlihat kecil,” kata Ahriawandy pelan. “Tapi kalau itu bisa membuat seseorang merasa tidak sendirian, itu sudah cukup.”

Damkarmat Kota Kendari membagi personelnya dalam peleton-peleton siaga, masing-masing dengan tim pemadaman dan tim penyelamatan. Pos-pos disebar di sejumlah titik strategis, sementara layanan rescue terpusat di Markas Komando. Sistem ini membuat mereka selalu siap—entah menghadapi kebakaran besar, atau persoalan kecil yang datang tanpa aba-aba.

Dalam peristiwa kebakaran besar, kesiapsiagaan itu diuji. Armada dikerahkan, koordinasi lintas pos dilakukan, api dikendalikan agar tidak meluas. Di balik angka kerugian material, ada kerja senyap yang menyelamatkan kawasan lebih luas dan banyak nyawa.

Di antara 374 kasus penyelamatan non kebakaran dan sebanyak 354 kejadian kebakaran sepanjang tahun, Damkarmat menjalani tugasnya tanpa memilih sorotan. Mereka hadir di batas-batas paling rapuh kehidupan warga—saat panik, saat bingung, saat tak ada lagi yang bisa dihubungi. Mereka datang melalui sambungan call center 112.

Di Kota Kendari, Damkarmat menjaga lebih dari sekadar api. Mereka menjaga rasa aman. Menjaga harapan. Menjaga kemanusiaan.

Dari membuka cincin yang menjepit jari, hingga menemani seorang anak menerima rapor, Damkarmat menunjukkan bahwa menyelamatkan tidak selalu berarti berhadapan dengan kobaran api.

Kadang, menyelamatkan berarti hadir—tepat waktu, dengan hati. (Red)

× Advertisement
× Advertisement