SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Hukum Pemerintahan
Beranda / Pemerintahan / Korsleting Listrik Dominasi Kebakaran di Kendari Sepanjang 2025, Puuwatu dan Kadia Tertinggi

Korsleting Listrik Dominasi Kebakaran di Kendari Sepanjang 2025, Puuwatu dan Kadia Tertinggi

Petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Kendari berjibaku memadamkan api saat menangani kebakaran di salah satu wilayah permukiman. Sepanjang 2025, Damkarmat Kendari mencatat 138 kejadian kebakaran, dengan korsleting listrik sebagai penyebab paling dominan.

CELEBESPOS.ID, KENDARI – Sepanjang tahun 2025, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Kendari mencatat sebanyak 138 kejadian kebakaran yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Dari keseluruhan kasus tersebut, korsleting listrik menjadi penyebab paling dominan, sekaligus menegaskan bahwa persoalan keselamatan instalasi listrik masih menjadi tantangan serius di tengah permukiman warga.

Data Damkarmat Kota Kendari menunjukkan, kebakaran akibat korsleting listrik mencapai 68 kejadian atau hampir setengah dari total kebakaran yang ditangani. Selain itu, kebakaran juga dipicu oleh aktivitas membakar lahan, alang-alang, sampah, tumpukan kayu, hingga puntung rokok yang tercatat sebanyak 43 kejadian.

Faktor lain seperti penggunaan BBM, kompor gas, las listrik, petasan, minyak, hingga obat nyamuk menyumbang 10 kasus, sementara satu kejadian diketahui disebabkan unsur kesengajaan. Sebanyak 16 kasus lainnya masih dalam kategori penyebab belum diketahui.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Kendari, Drs. Ahriawandy Effendy, mengatakan dominasi kebakaran akibat korsleting listrik harus menjadi perhatian bersama, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

Menurutnya, masih banyak warga yang belum sepenuhnya menyadari risiko penggunaan instalasi listrik yang tidak standar.

“Korsleting listrik ini sebagian besar terjadi karena instalasi yang sudah lama, sambungan tidak sesuai standar, serta penggunaan listrik yang berlebihan. Ini menjadi pengingat agar masyarakat lebih peduli pada aspek keselamatan di rumah,” ujar Ahriawandy, Jumat, 30 Januari 2026.

Ia menambahkan, kebakaran tidak selalu bermula dari hal besar. Percikan kecil dari kabel yang terkelupas atau colokan yang kelebihan beban bisa dengan cepat berubah menjadi api yang membahayakan bangunan dan lingkungan sekitar.

Jika dilihat dari sebaran wilayah, Kecamatan Kadia menjadi daerah dengan jumlah kebakaran tertinggi sepanjang 2025, yakni 23 kejadian. Disusul Kecamatan Puuwatu dengan 22 kejadian dan Baruga sebanyak 20 kejadian. Kecamatan Poasia mencatat 18 kejadian, sementara Kendari, Kambu, Wua-wua, dan Mandonga berada di kisaran belasan kasus. Kecamatan Nambo hanya mencatat satu kejadian, dan Abeli tercatat nihil kebakaran sepanjang tahun ini.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

Dari sisi waktu, tren kebakaran cenderung meningkat pada paruh kedua tahun. Puncak kejadian terjadi pada September dengan 25 kasus, disusul Oktober sebanyak 21 kasus. Kondisi cuaca kering serta meningkatnya aktivitas masyarakat dinilai ikut berkontribusi terhadap lonjakan tersebut.

Jenis kebakaran yang paling banyak ditangani adalah kebakaran bangunan dengan total 69 kejadian. Kebakaran lahan, kebun, dan hutan tercatat 40 kejadian, disusul kebakaran tiang listrik sebanyak 24 kejadian dan kebakaran kendaraan sebanyak lima kejadian.

Meski angka kebakaran cukup tinggi, Damkarmat Kota Kendari memastikan tidak ada korban jiwa akibat kebakaran sepanjang tahun 2025. Ahriawandy menyebut hal ini tidak lepas dari kecepatan respon petugas di lapangan.

“Hampir seluruh kejadian kebakaran bisa kami tangani dalam waktu 15 menit sejak laporan diterima. Respon cepat ini menjadi komitmen kami untuk meminimalkan dampak dan risiko yang lebih besar,” katanya.

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya

Selain menangani kebakaran, Damkarmat Kota Kendari juga mencatat 374 kasus penyelamatan non kebakaran sepanjang 2025. Penanganan tersebut meliputi evakuasi hewan liar seperti ular, biawak, dan monyet, pelepasan cincin atau perhiasan yang terjepit di tubuh warga, penanganan sarang tawon, hingga berbagai bentuk bantuan darurat lainnya.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah kebakaran di Kendari sempat menurun drastis dari 253 kejadian pada 2023 menjadi 110 kejadian pada 2024. Namun pada 2025, angka tersebut kembali meningkat menjadi 138 kejadian.

Sementara untuk penanganan non kebakaran, trennya terus meningkat dari tahun ke tahun, menandakan tingginya kebutuhan layanan kedaruratan di tengah masyarakat.

Ahriawandy menegaskan, peran Damkarmat saat ini tidak hanya sebatas memadamkan api, tetapi juga hadir sebagai garda terdepan dalam pelayanan keselamatan dan penyelamatan warga Kota Kendari.

Ia pun kembali mengimbau masyarakat agar lebih waspada, khususnya terhadap potensi kebakaran akibat listrik.
“Pencegahan adalah kunci. Jika masyarakat lebih disiplin dan peduli pada keselamatan, potensi kebakaran bisa ditekan,” pungkasnya. (Red)

× Advertisement
× Advertisement