CELEBESPOS.ID, KENDARI — Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bersuara Sulawesi Tenggara menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Tugu Eks MTQ, Kota Kendari, Sabtu, 1 Maret 2026. Di bawah terik matahari siang, mereka membentangkan spanduk dan poster sebagai bentuk penolakan terhadap wacana pengiriman tentara Republik Indonesia dalam struktur misi internasional yang disebut berada di bawah komando Amerika Serikat.
Aksi dipusatkan di kawasan Tugu Eks MTQ dengan satu unit kendaraan komando yang dilengkapi pengeras suara. Para orator berdiri bergantian di atas kendaraan tersebut, menyampaikan tuntutan di hadapan massa yang membawa bendera tauhid hitam dan berbagai poster penolakan. Sejumlah spanduk memuat seruan penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai “Board of Peace” serta peringatan agar tentara Indonesia tidak ditempatkan di bawah kendali negara asing.
Koordinator Aliansi Mahasiswa Bersuara Sultra, Hikma Sanggala, menyatakan bahwa pihaknya menolak keras setiap kebijakan yang dinilai menempatkan prajurit Indonesia di bawah komando negara lain. Menurutnya, militer nasional harus tetap berada dalam garis komando nasional dan tidak tunduk pada kepentingan kekuatan asing.
Dalam pernyataan sikap resminya, aliansi mahasiswa menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang mereka nilai sebagai bentuk ketergantungan kepada kekuatan global. Mereka menyebut rencana pengiriman tentara dalam kerangka “Board of Peace” yang dipimpin Amerika Serikat sebagai langkah yang berbahaya dan berpotensi merugikan kedaulatan bangsa.
Mahasiswa juga menilai bahwa dominasi negara-negara besar dalam urusan militer internasional berpotensi menempatkan tentara Indonesia dalam struktur komando yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali nasional. Mereka menyampaikan kekhawatiran bahwa hal tersebut dapat berdampak pada independensi militer Indonesia sebagai alat pertahanan negara.
Selain argumentasi politik dan kedaulatan, aliansi mahasiswa juga menyertakan dasar pandangan keagamaan dalam pernyataannya. Mereka mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 141 yang menyebutkan bahwa Allah tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman. Dalam pandangan mereka, ayat tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga kemandirian umat, termasuk dalam aspek kepemimpinan militer dan politik.
Aliansi Mahasiswa Bersuara Sultra kemudian menyampaikan tiga poin utama tuntutan. Pertama, mereka menolak keras kebijakan pemerintah yang dinilai akan mengirim militer Indonesia dalam kerangka “Board of Peace” di bawah komando Amerika Serikat. Kedua, mereka mengingatkan pemerintah dan pimpinan militer agar tidak menyerahkan komando tentara Indonesia kepada negara lain, karena dinilai bertentangan dengan prinsip menjaga kedaulatan dan amanah negara. Ketiga, mereka mendesak agar militer Indonesia tetap bersikap independen serta memprioritaskan perlindungan kedaulatan dan kepentingan nasional.
Dalam pernyataan tersebut, mahasiswa juga menyerukan pentingnya menjaga kemandirian negara dari pengaruh kekuatan asing. Mereka menegaskan bahwa militer Indonesia harus tetap berdiri sebagai alat pertahanan negara yang sepenuhnya berada di bawah kendali nasional.
Selain menyampaikan orasi, massa aksi juga membentangkan spanduk besar di tengah jalan sebagai bentuk simbolik penolakan. Aksi berlangsung secara terbuka dan menarik perhatian masyarakat serta pengguna jalan yang melintas di kawasan Tugu Eks MTQ.
Aliansi Mahasiswa Bersuara Sultra menyatakan akan terus mengawal isu tersebut dan mengajak berbagai pihak untuk mencermati setiap kebijakan yang berkaitan dengan kerja sama militer internasional, khususnya yang menyangkut struktur komando dan kedaulatan negara. Mereka menegaskan bahwa sikap tersebut merupakan bagian dari peran mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi dan mengawal kebijakan publik yang dinilai strategis bagi kepentingan bangsa. (red)






