CELEBESPOS.ID, KENDARI – Malam kelima bulan suci Ramadan di Masjid Miftahul Khair, Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Ahad, 22 Februari 2026, berlangsung khusyuk dan penuh antusiasme. Saf-saf tarawih dipenuhi jamaah yang ingin menghidupkan malam Ramadan dengan ibadah.
Dalam ceramahnya, Hasan Salam, S.Ag., M.H., mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat terbesar: masih diberi umur untuk bertemu Ramadan tahun ini.
“Banyak orang tahun lalu masih bersama kita, tetapi tahun ini tidak lagi diberi izin oleh Allah untuk memasuki Ramadan. Maka kesempatan ini jangan kita sia-siakan,” ujarnya.
Ramadan, Hadiah untuk Umat Nabi Muhammad ﷺ
Hasan menjelaskan, Ramadan adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 tentang Ramadan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an.
Menurutnya, umat Nabi Muhammad memiliki usia yang relatif pendek dibanding umat terdahulu. Nabi Nuh, misalnya, berdakwah hingga 950 tahun. Sementara Rasulullah ﷺ menyebut rata-rata usia umatnya antara 60 sampai 70 tahun.
“Kalau dibandingkan dengan umat terdahulu yang usianya ratusan tahun, tentu ibadah kita terlihat sedikit. Karena itulah Allah menghadiahkan Lailatul Qadar,” jelasnya.
Ia mengingatkan firman Allah dalam Surah Al-Qadr ayat 3, bahwa Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan atau sekitar 83 tahun.
“Artinya satu malam saja kita bersungguh-sungguh, nilainya bisa melebihi puluhan tahun ibadah,” kata mantan imam di Masjid Raya Nurul Huda, Pomalaa, Kabupaten Kolaka ini.
Seruan Malaikat di Awal Ramadan
Hasan juga mengutip hadits tentang suasana malam pertama Ramadan, ketika pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.
“Ada seruan malaikat: Ya baghiyal khair aqbil, wa ya baghiyasy syarr aqshir — Wahai pencari kebaikan, datanglah! Wahai pencari keburukan, berhentilah!” tuturnya.
Menurutnya, ini menunjukkan betapa Allah membuka peluang selebar-lebarnya bagi umat Islam untuk berubah dan memperbaiki diri.
Tarawih Tak Ada di Luar Ramadan
Ia menegaskan bahwa salat tarawih hanya ada di bulan Ramadan.
“Tidak ada tarawih di luar Ramadan. Maka kalau Ramadan kita lewatkan tanpa tarawih, kita kehilangan kesempatan yang tidak bisa diganti,” tegasnya.
Hasan juga menyinggung fenomena sebagian umat yang semangat di awal Ramadan, namun mulai berkurang memasuki pertengahan bulan.
“Justru sepuluh malam terakhir itulah puncaknya,” katanya.
Perbaiki Istighfar
Dalam ceramahnya, Hasan mengingatkan pentingnya istighfar yang benar, bukan sekadar ucapan spontan.
“Istighfar itu kesadaran, penyesalan, dan tekad untuk berubah,” ujarnya.
Ia mengutip hadits Nabi ﷺ tentang orang yang celaka, yakni mereka yang memasuki Ramadan lalu keluar darinya dalam keadaan belum diampuni dosanya.
“Jangan sampai kita termasuk golongan itu,” pesannya.
Ajal Tak Pernah Menunggu
Hasan juga berbagi kisah tentang orang-orang yang wafat sebelum menyempurnakan Ramadan, bahkan ada yang meninggal sehari sebelum Idul Fitri.
“Kita tidak tahu apakah Ramadan ini yang terakhir bagi kita,” ucapnya.
Ceramah ditutup dengan doa agar jamaah diberi kekuatan menuntaskan ibadah hingga akhir Ramadan, mendapatkan ampunan Allah, serta dipertemukan kembali dengan Ramadan di tahun-tahun mendatang.
Malam itu, jamaah meninggalkan masjid dengan wajah yang tampak lebih tenang—seolah diingatkan kembali bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi kesempatan emas yang belum tentu datang dua kali. (red)






