CELEBESPOS.ID, KENDARI — Tawa anak-anak pecah di halaman Panti Asuhan Al Ikhlas Baruga, Baruga, Kota Kendari, pagi tadi, Selasa, 3 Maret 2026. Di bawah langit Ramadan yang teduh, puluhan bocah berseragam RA datang bukan sekadar berkunjung, tetapi membawa pelajaran tentang empati yang tak tertulis di papan tulis.
Mereka adalah siswa dari RA Annisa Muslimat NU Anduonohu dan RA Ar-Rahmah Muslimat NU Jalan Kosgoro Baruga—dua lembaga pendidikan usia dini binaan Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU Sulawesi Tenggara. Dalam kunjungan ini, mereka membawa bingkisan berisi bahan makanan/sembako dan pakaian layak pakai. Sederhana, tetapi penuh makna.
Begitu memasuki area panti, suasana yang semula tenang berubah menjadi riuh ceria. Anak-anak RA langsung berbaur dengan penghuni panti. Tak ada sekat, tak ada rasa canggung. Mereka duduk berhadap-hadapan, saling melempar senyum, lalu tertawa bersama. Ramadan, yang sering dimaknai sebagai bulan menahan diri, justru menjadi ruang untuk menumbuhkan kepedulian.

Di antara mereka, seorang guru memberi aba-aba. Seketika, nyanyian anak-anak RA mengalun. Lagu-lagu ceria khas usia dini disusul yel-yel penuh semangat. Anak-anak panti pun ikut larut. Tepuk tangan menggema, beberapa berdiri mengikuti gerakan sederhana yang dicontohkan. Wajah-wajah polos itu tampak sumringah—sebagian tersenyum malu, sebagian lain tertawa lepas.
Ketua PW Muslimat NU Sulawesi Tenggara, Hj. Suhaena, M.Pd, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari pembiasaan karakter yang ditanamkan sejak dini. “Kami ingin anak-anak belajar berempati dan berbagi. Jangan sampai mereka tumbuh tanpa merasakan pentingnya peduli kepada sesama,” ujarnya.
Menurutnya, anjang sana seperti ini bukan kegiatan insidental. Tahun sebelumnya, kegiatan serupa digelar di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Puwatu. Lokasi sengaja berganti agar anak-anak mengenal lingkungan sosial yang beragam.

“Supaya mereka melihat langsung kehidupan di tempat lain, merasakan, dan belajar bahwa kita semua sama sebagai ciptaan Allah,” katanya.
Bagi anak-anak panti, kunjungan itu menjadi hiburan yang menyegarkan. Bagi siswa RA, pengalaman tersebut menjadi pelajaran hidup yang tak tergantikan. Mereka belajar bahwa berbagi tak selalu harus besar; cukup dengan niat tulus dan hati lapang.
Kepala Sekolah RA An-Nisa Muslimat NU, Kasri, S.Pd., M.Pd., menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari pendidikan di luar kelas. “Nilai empati tidak cukup diajarkan lewat cerita. Anak-anak perlu melihat dan merasakan langsung,” tuturnya.

Turut hadir para orang tua siswa, guru-guru, dan kepala sekolah dari kedua RA. Kehadiran mereka memperkuat suasana kekeluargaan yang hangat. Beberapa orang tua terlihat mengabadikan momen ketika anak-anak mereka menyanyi bersama penghuni panti—sebuah potret kecil tentang kebahagiaan yang lahir dari kebersamaan.
Perwakilan panti, Rizal Efendy Yusuf, menyampaikan terima kasih atas kunjungan tersebut. Ia berharap silaturahmi dan perhatian seperti ini terus terjalin. “Anak-anak merasa senang dan terhibur. Semoga kebersamaan ini membawa berkah bagi kita semua,” ujarnya.
Di penghujung acara, bingkisan diserahkan. Tak ada seremoni berlebihan. Hanya senyum yang saling bertukar dan doa yang terucap lirih. Di bulan suci ini, anak-anak belajar satu hal penting: bahwa kebahagiaan sering kali tumbuh dari memberi, bukan menerima.

Dan siang itu, di sudut Baruga, pelajaran tentang kemanusiaan diajarkan dengan cara yang paling sederhana—bernyanyi bersama, berbagi makanan, dan tertawa tanpa perbedaan. (red)






