SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Kesehatan
Beranda / Kesehatan / Mengenal Hipertensi: Penyakit Senyap yang Mengintai Kehidupan Sehari-hari

Mengenal Hipertensi: Penyakit Senyap yang Mengintai Kehidupan Sehari-hari

CELEBESPOS.ID — Hipertensi atau tekanan darah tinggi dikenal sebagai silent killer karena sering tidak menimbulkan gejala, namun dapat berujung pada komplikasi serius. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mencatat, hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian dini di dunia dan menjadi faktor risiko terbesar penyakit jantung, stroke, serta gagal ginjal.

Secara medis, hipertensi didefinisikan sebagai kondisi tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg yang terjadi secara konsisten. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, banyak penderita hipertensi di Indonesia tidak menyadari kondisi ini karena tidak merasakan keluhan berarti, sehingga sering terlambat mendapatkan penanganan.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes RI menunjukkan prevalensi hipertensi pada penduduk usia dewasa di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Yang mengkhawatirkan, sebagian besar penderita belum terdiagnosis atau tidak rutin mengontrol tekanan darahnya. Kondisi ini membuat hipertensi kerap baru diketahui setelah terjadi komplikasi.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

Gaya hidup menjadi faktor dominan penyebab hipertensi. WHO menegaskan bahwa konsumsi garam berlebihan, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta stres kronis berperan besar dalam meningkatkan tekanan darah. Di sisi lain, faktor usia, obesitas, dan riwayat keluarga juga turut memperbesar risiko.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menyebutkan bahwa hipertensi tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia. Saat ini, peningkatan kasus juga terjadi pada usia produktif akibat pola makan tinggi gula dan garam, kurang olahraga, serta jam kerja yang panjang tanpa keseimbangan istirahat.

Dampak hipertensi yang tidak terkontrol sangat luas. Tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah dan organ vital secara perlahan. Risiko stroke, serangan jantung, gagal ginjal, hingga gangguan penglihatan meningkat signifikan jika tekanan darah tidak dikendalikan dengan baik. Semua itu dapat terjadi tanpa tanda-tanda awal yang jelas.

Kabar baiknya, hipertensi dapat dicegah dan dikendalikan. Kementerian Kesehatan RI menganjurkan pemeriksaan tekanan darah secara rutin, terutama bagi masyarakat berusia di atas 30 tahun atau yang memiliki faktor risiko. Selain itu, penerapan pola hidup sehat menjadi langkah utama, seperti membatasi asupan garam, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, berolahraga minimal 150 menit per minggu, serta mengelola stres.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

WHO juga menekankan pentingnya berhenti merokok dan menjaga berat badan ideal sebagai bagian dari pencegahan hipertensi. Bila tekanan darah sudah tinggi, pengobatan harus dilakukan sesuai anjuran tenaga medis dan tidak dihentikan tanpa konsultasi.

Hipertensi bukan sekadar angka pada alat pengukur tekanan darah. Ia adalah peringatan dini tentang gaya hidup dan kesehatan jangka panjang. Dengan pengetahuan yang tepat dan kebiasaan sehat, risiko komplikasi dapat ditekan, dan kualitas hidup tetap terjaga. (*)

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya
× Advertisement
× Advertisement