SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Figur & Inspirasi Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Potret Ihqwa Abil, Siswa SMAS Kartika Kendari dalam Lintasan Prestasi

Potret Ihqwa Abil, Siswa SMAS Kartika Kendari dalam Lintasan Prestasi

Ihqwa Abil, siswa SMAS Kartika Kendari, mengenakan busana adat Sulawesi Tenggara saat tampil sebagai Duta SMA 2025 tingkat nasional.

CELEBESPOS.ID, KENDARI – Di Kecamatan Baruga, Kendari, ada seorang pelajar SMA yang tumbuh tanpa banyak kegaduhan. Ia tidak dikenal sebagai anak yang paling keras suaranya di kelas, juga bukan sosok yang sibuk mencari sorotan. Namun namanya perlahan muncul, berulang kali, dalam lintasan prestasi yang diraih dengan cara yang sunyi dan konsisten. Namanya Ihqwa Abil A, siswa SMAS Kartika Kendari, seorang anak muda yang memilih berjalan pelan namun tidak pernah berhenti.

Ihqwa tidak memulai langkahnya dengan keyakinan penuh. Ia justru tumbuh bersama keraguan. “Saya merupakan pribadi yang cenderung lebih aktif dari beberapa siswa pada umumnya,” tuturnya. Ia menggambarkan dirinya sebagai elemen air—fleksibel, mudah beradaptasi, dan bisa berdaya di mana saja. Metafora itu bukan sekadar perumpamaan, melainkan cara hidup yang ia jalani hari demi hari.

Ia lahir di Kendari, 13 Februari 2008, sebagai anak ketiga dari empat bersaudara. Di rumah, ia tumbuh dalam suasana yang sederhana namun hangat. Ayahnya, Arman Jaya, bekerja di salah satu BUMN, sementara ibunya, Hermawani Z., adalah ibu rumah tangga yang setia merawat keseharian dan doa. Dari rumah itulah Ihqwa belajar bahwa mimpi tidak perlu diburu dengan paksaan, cukup dirawat dengan kesabaran.

“Jujur, saya pernah sempat meragukan kemampuan diri sendiri,” katanya tanpa berusaha menutupi. Keraguan itu bahkan hadir pada salah satu momen paling menentukan dalam hidupnya. Saat pengumuman seleksi Duta SMA 2025 tingkat nasional, ia sedang berada di rumah, duduk bersama kedua orang tuanya, menatap layar ponsel yang menyiarkan langsung YouTube Direktorat SMA.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

Ketika nama Sulawesi Tenggara disebut, waktu seolah melambat. “Apa yang pertama kali terlintas di pikiran saya cuma satu kata: ‘Wah!’,” ujarnya. Ia kaget, nyaris tak percaya. Namun di detik yang sama, ada perasaan lain yang tumbuh pelan—perasaan bahwa dirinya ternyata cukup. Cukup untuk bersaing. Cukup untuk berdiri sejajar dengan siswa-siswa berprestasi dari berbagai daerah.

Langkah menuju Duta SMA sendiri tidak lahir dari keyakinan bulat. Informasi awal tentang program itu ia dapatkan dari Kak Afifah, Duta SMA 2024. Namun keputusan untuk mendaftar tetap menjadi pergulatan batin. Ada rasa ragu, ada rasa takut. Hingga akhirnya ia berpegang pada satu kalimat yang terus ia ulang dalam dirinya: lebih baik gagal karena sudah mencoba, dibandingkan gagal sebelum mencoba.

Seleksi yang ia jalani tidak ringan. Ada uji akademik, penilaian kemampuan public speaking, serta pengukuran keterampilan personal. Dari semua tahapan itu, satu fase paling membekas baginya adalah wawancara dengan tim juri Direktorat SMA. “Jujur, itu fase paling menegangkan,” katanya. Walaupun dilakukan secara daring, tekanan terasa nyata. Ia merasa berhadapan dengan orang-orang yang memiliki pengaruh besar di dunia pendidikan.

Namun tantangan terbesarnya justru datang dari dalam diri. Rasa malas. Rasa ingin menunda latihan wawancara, menunda pembuatan video visi-misi. “Tantangan terbesar saya itu rasa malas,” akunya jujur. Hingga ia bertanya pada dirinya sendiri: kalau saya malas, berarti kemenangan ini saya berikan ke orang lain. Dan ia tidak mau itu terjadi.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

Di tengah proses seleksi, ia bahkan hampir gugur. Jadwal seleksi bertepatan dengan ulangan sekolah. “Saya sempat hampir menyerah,” katanya lirih. Namun kesempatan kembali datang ketika pihak Direktorat SMA memperpanjang masa pendaftaran. Dari situlah langkahnya berlanjut, membawa dirinya semakin jauh.

Prestasi yang diraih Ihqwa Abil sejatinya tidak datang sekaligus. Ia tumbuh dari lintasan yang panjang dan beragam. Iqhwa bergerak lintas bidang—kepemimpinan, literasi, jurnalistik, seni, hingga kerja tim yang menuntut disiplin tinggi. Ia terbiasa berdiri di depan publik, lalu kembali menjadi pendengar. Terbiasa tampil di panggung, lalu menulis dalam sunyi. Dari sanalah terbentuk seorang pelajar yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga matang secara karakter.

Terpilih sebagai Duta SMA 2025 tingkat nasional mewakili Sulawesi Tenggara menjadi salah satu simpul penting dari perjalanan itu, bukan garis akhir. Kepala SMAS Kartika Kendari, La Ode Suaib, S.Pd., M.Pd., menilai capaian tersebut bukan hasil persiapan instan.

Menurutnya, sekolah tidak melakukan perlakuan khusus menjelang seleksi karena Iqhwa memang telah terbiasa mengikuti berbagai ajang kompetisi sejak sebelumnya. Sekolah hadir sebagai pendukung, memastikan kebutuhan administratif dan teknis terpenuhi agar siswa dapat fokus menjalani prosesnya.

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya

Bagi Ihqwa, membawa nama Sulawesi Tenggara di tingkat nasional bukan soal gelar. “Saya hadir bukan hanya untuk diri saya sendiri,” katanya. “Saya membawa nama SMA negeri dan swasta, serta teman-teman SMA se-Sulawesi Tenggara.”

Momen paling membanggakan baginya adalah ketika berdiri di panggung nasional dan disebut sebagai perwakilan Sulawesi Tenggara. Di situlah ia merasa tidak lagi dipanggil sebagai siswa semata, melainkan sebagai wakil daerah.

Ia memaknai peran Duta bukan sebagai posisi tertinggi. “Menjadi Duta bukan tentang siapa yang paling jauh naik ke atas,” ujarnya. “Tapi tentang siapa yang bisa membawa teman-temannya dari bawah untuk naik bersama-sama.”

Sebagai Duta SMA, ia menjalankan Rancangan Tindak Lanjut atau RTL setiap bulan. Dari proses itu, ia merasakan perubahan besar dalam dirinya—etika yang semakin terjaga dan rasa percaya diri yang tumbuh perlahan.

Ia juga memegang satu pesan hidup yang selalu ia ulangi: selalu rendah hati dan selalu mengosongkan gelas ketika bertemu orang baru, agar ilmu tidak berhenti di tempat yang sama.

Di balik semua capaian itu, Iqhwa tetap seorang remaja dengan mimpi yang lembut namun dalam. Ia bercita-cita menjadi psikolog, ingin mendengar dan memahami isi hati orang-orang yang sudah lama tertutup.

Untuk pelajar seusianya, pesannya sederhana namun menggetarkan: jangan pernah takut bermimpi tinggi. Jika seseorang tidak takut pada mimpinya, mungkin mimpi itu belum cukup tinggi. Teruslah bermimpi setinggi langit, karena di bawah langit masih ada langit. Dan jika suatu hari terjatuh, masih ada bintang-bintang yang menahan.

Di Baruga, Kendari, kisah itu terus berjalan. Tanpa gegap gempita. Tanpa perlu pengakuan berlebihan. Seperti air, Ihqwa Abil mengalir—menemukan jalannya sendiri, sambil memberi ruang bagi orang lain untuk ikut bertumbuh. Dari bangku SMAS Kartika Kendari, ia membuktikan bahwa prestasi sejati lahir dari keberanian melangkah, bahkan ketika hati masih gemetar.

Prestasi Ihqwa Abil:

  1. Duta SMA 2025 tingkat nasional, mewakili Provinsi Sulawesi Tenggara
  2. Juara 3 lomba baca puisi tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara, 2024
  3. Juara 3 lomba fashion show tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara, 2024
  4. Juara 1 color guard group tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara, 2024
  5. Juara 2 color guard solo tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara, 2024
  6. Juara 3 color guard solo tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara, 2023
  7. Juara 2 lomba poster ilmiah tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara, 2024
  8. Juara 1 Duta Siswa Kota Kendari, 2024
  9. Juara 2 lomba video edukasi “Zero Waste” tingkat Kota Kendari, 2024
  10. Juara Harapan 1 lomba pidato tingkat Kota Kendari, 2024
  11. Juara 3 lomba poster HIV tingkat Kota Kendari, 2024
  12. Juara 2 lomba poster infografis tingkat Kota Kendari, 2025
  13. Juara 2 lomba jurnalistik tingkat Kota Kendari, 2025
  14. Penulis dua artikel di website resmi Direktorat SMA
  15. Penulis novel berjudul “Kau Pulang, Tapi Bukan Untukku” (*)

× Advertisement
× Advertisement