CELEBESPOS.ID, KENDARI — Di tengah suasana Ramadan yang penuh kekhusyukan, isu-isu global justru menjadi bagian penting dalam ceramah yang disampaikan Ustadz Muh. Yasin, S.Pd., M.Pd., di Masjid Miftahul Khair, Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Senin, 2 Maret 2026.
Dalam tausiyahnya, ia mengajak umat Islam tidak hanya meningkatkan ibadah personal, tetapi juga menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam membaca dan merespons dinamika dunia.
Ramadan, Bulan Diturunkannya Petunjuk
Ustadz Yasin menegaskan bahwa Ramadan adalah Syahrul Qur’an, bulan diturunkannya kitab suci sebagai petunjuk dan pembeda antara yang benar dan yang batil.
Ia membacakan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
“Syahru Ramadhānal-ladzī unzila fīhil Qur’ānu hudal lin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal furqān.”
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Menurutnya, semangat membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan adalah hal yang patut disyukuri. Namun, ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca demi pahala, melainkan dipahami dan diamalkan.
“Al-Qur’an itu pedoman hidup. Kalau kita tidak menjadikannya pedoman, maka banyak persoalan hidup yang tidak akan selesai,” ujarnya.
Gejolak Timur Tengah dan Dampaknya ke Indonesia
Dalam ceramahnya, Ustadz Yasin juga menyinggung situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah, termasuk serangan Zionis Israel terhadap Iran yang didukung Amerika Serikat.
Ia menjelaskan bahwa konflik tersebut berpotensi berdampak luas, terutama pada sektor energi dan ekonomi global.
Menurutnya, posisi Iran yang strategis di Selat Hormuz menjadikan kawasan itu jalur vital distribusi minyak mentah dunia. Jika jalur tersebut terganggu, harga minyak global bisa melonjak dan berdampak pada Indonesia.
“Kalau harga minyak dunia naik, bahan bakar naik. Kalau bahan bakar naik, ongkos produksi dan distribusi naik. Akhirnya sembilan bahan pokok ikut naik. Ekonomi rakyat menjadi semakin sulit,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa persoalan modern seperti ini harus dibaca dengan perspektif nilai-nilai Al-Qur’an, bukan semata-mata logika kepentingan ekonomi global.
Peringatan Rasulullah tentang Umat yang Mengabaikan Al-Qur’an
Ustadz Yasin kemudian mengingatkan jamaah pada keluhan Rasulullah ﷺ sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Furqan ayat 30:
“Wa qālar-rasūlu yā rabbi inna qaumit-takhadzū hādzal Qur’āna mahjūrā.”
“Dan Rasul berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan.’” (QS. Al-Furqan: 30)
Menurutnya, ayat tersebut menjadi refleksi bagi umat Islam agar tidak menjadikan Al-Qur’an sekadar simbol atau bacaan ritual tanpa penerapan dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan pemerintahan.
“Jangan sampai kita termasuk umat yang membuat Nabi bersedih karena menelantarkan Al-Qur’an,” katanya.
Keadilan Sosial dan Pengelolaan Sumber Daya
Dalam konteks ekonomi dan pengelolaan sumber daya alam, ia mengutip Surah Al-Hasyr ayat 7:
“Kay lā yakūna dūlatan bainal aghniyā’i minkum.”
“Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7)
Ia juga membawakan hadis riwayat Imam Ahmad:
“An-nāsu syurakā’u fī tsalāts: fil mā’i wal kalā’i wan nār.”
“Manusia berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Ahmad)
Menurutnya, air, hutan, dan energi termasuk kepemilikan umum yang harus dikelola untuk kemakmuran rakyat.
Ia kemudian mengaitkannya dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi:
“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”
“Nilai Al-Qur’an, hadis Nabi, dan konstitusi negara sebenarnya sejalan dalam meletakkan keadilan sosial,” ujarnya.
Dakwah dan Kesabaran
Sebagai penutup, Ustadz Yasin mengingatkan pentingnya iman yang diwujudkan dalam amal saleh, dakwah, dan kesabaran sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-‘Ashr:
“Wal ‘ashr. Innal insāna lafī khusr. Illalladzīna āmanū wa ‘amilus shālihāti wa tawāshau bil haqqi wa tawāshau bish shabr.”
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Ia mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk kembali secara total kepada Al-Qur’an—dibaca, dipahami, diamalkan, dan diperjuangkan—agar kehidupan umat mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat.
Ceramah ditutup dengan doa dan harapan agar umat Islam mampu menghadapi tantangan zaman dengan keteguhan iman dan panduan wahyu. (red)






