CELEBESPOS.ID, KENDARI — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Miftahul Khair, Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Senin malam, 16 Maret 2026. Pada malam ke-27 Ramadan itu, sejumla jamaah salat tarawih yang mulai longgar mengikuti ceramah yang disampaikan Ustadz Syahril Abu Khalid tentang pentingnya memaksimalkan ibadah di penghujung Ramadan.
Di hadapan jamaah, Ustadz Syahril mengingatkan bahwa Ramadan merupakan anugerah besar dari Allah SWT yang diberikan kepada umat Islam sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan. Karena itu, ia mengajak kaum muslimin untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa di bulan suci ini.
Ia kemudian menyampaikan bahwa tujuan utama disyariatkannya puasa Ramadan adalah membentuk ketakwaan. Hal itu sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Yā ayyuhallażīna āmanū kutiba ‘alaikumush-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Ustadz Syahril menjelaskan bahwa Allah juga menyebut Ramadan sebagai waktu yang terbatas.
“Ayyāman ma‘dūdāt.”
(QS. Al-Baqarah: 184)
Artinya: Yaitu beberapa hari yang tertentu.
Menurutnya, ayat ini mengingatkan bahwa Ramadan hanyalah hari-hari yang singkat. Namun justru karena waktunya terbatas, bulan ini menjadi sangat berharga bagi orang-orang beriman.
“Para sahabat bahkan berangan-angan seandainya Ramadan berlangsung sepanjang tahun. Karena mereka memahami bahwa Ramadan adalah rahmat besar dari Allah,” katanya.
Ia juga menyinggung fenomena yang sering terjadi di tengah masyarakat, yakni semangat ibadah yang tinggi di awal Ramadan namun mulai menurun di pertengahan hingga akhir bulan.
Ustadz Syahril menyebut adanya kaidah yang sering dikutip para ulama terkait psikologi manusia:
“Kasratul i‘tiyād tumītu al-iḥsās.”
Artinya, terlalu sering melakukan sesuatu dapat mematikan sensitivitas terhadap hal tersebut.
“Ketika sesuatu menjadi rutinitas, manusia sering merasa jenuh dan bosan. Ini berbahaya jika terjadi pada ibadah,” jelasnya.
Padahal, kata dia, amal ibadah yang dilakukan manusia di dunia yang sangat singkat ini akan dibalas dengan surga yang kekal selama-lamanya.
“Bayangkan, umur kita di dunia mungkin hanya 60 atau 70 tahun. Tetapi Allah membalas amal yang sedikit ini dengan surga yang kekal, sebagaimana firman-Nya: khālidīna fīhā abadā, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya,” ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa grafik ibadah seorang muslim seharusnya terus meningkat hingga akhir Ramadan, bukan justru menurun.
Ustadz Syahril kemudian mengingatkan teladan Rasulullah SAW ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Ia mengutip hadis yang diriwayatkan Aisyah RA:
“Kāna Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam iżā dakhala al-‘asyrul awākhir aḥyā al-laila wa aiqaẓa ahlahu wa syadda mi’zarah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya: Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah SAW menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan sarungnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah).
Menurutnya, Rasulullah SAW bahkan selalu beriktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan hingga beliau wafat. Ibadah ini menjadi sangat penting karena pada malam-malam tersebut terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Namun ia juga mengingatkan adanya ancaman bagi orang yang menyia-nyiakan Ramadan tanpa memperoleh ampunan dari Allah SWT.
“Rasulullah SAW sampai mengucapkan peringatan keras,” katanya.
“Raġima anf(u) rajulin adraka Ramaḍāna tsumma insalakha qabla an yugfara lah.”
(HR. Tirmidzi)
Artinya: Sungguh celaka seseorang yang mendapati Ramadan, lalu Ramadan berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.
Padahal, lanjutnya, Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang sangat penyayang bahkan kepada orang yang menyakitinya. Nabi pernah berdoa:
“Allāhummaġfir lahum fa innahum lā ya‘lamūn.”
Artinya: Ya Allah, ampunilah mereka, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.
Namun ketika berbicara tentang orang yang menyia-nyiakan Ramadan, Rasulullah memberikan peringatan yang sangat keras.
Ustadz Syahril juga mengutip nasihat ulama besar, Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali, yang mengingatkan agar umat Islam tidak hanya rajin beribadah ketika Ramadan saja.
“Jadilah kalian hamba Allah yang sejati, bukan hamba Ramadan. Ada orang yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadan, tetapi setelah Ramadan berakhir mereka kembali dalam kesibukan bermaksiat,” ujarnya.
Menurutnya, Tuhan yang disembah di bulan Ramadan adalah Tuhan yang sama di bulan-bulan lainnya. Karena itu Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan membentuk pribadi yang benar-benar bertakwa.
Di akhir ceramahnya, Ustadz Syahril mengingatkan bahwa tidak semua puasa otomatis diterima oleh Allah SWT. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW:
“Rubba ṣā’im(in) laisa lahu min ṣiyāmihi illā al-jū‘u wa al-‘aṭasy.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Artinya: Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.
Karena itu ia mengajak jamaah untuk terus berdoa agar seluruh amal ibadah selama Ramadan benar-benar diterima oleh Allah SWT.
“Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadan ini dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa,” tutupnya. (red)






