SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Humaniora
Beranda / Humaniora / Safari Ramadan di Kendari, Ustaz Iful Fitrah Ingatkan: Hidup Tanpa Al-Qur’an Akan Terasa Sempit

Safari Ramadan di Kendari, Ustaz Iful Fitrah Ingatkan: Hidup Tanpa Al-Qur’an Akan Terasa Sempit

Ustaz Iful Fitrah menyampaikan ceramah Safari Ramadan di Masjid Miftahul Khair, Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Kamis malam, 12 Maret 2026.

CELEBESPOS.ID, KENDARI – Bulan Ramadan menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Pesan itu disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Al Mabda Yogyakarta, Ustaz Iful Fitrah, SE.I, saat menyampaikan ceramah dalam kegiatan Safari Dakwah Ramadan di Masjid Miftahul Khair, Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Kamis malam, 12 Maret 2026.

Ustaz Iful yang juga merupakan mahasiswa magister bidang Fikih dan Ushul Fikih di Universitas Al Qur’an Al Karim wal Ulum Al Islamiyyah Hadramaut, Yaman, menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber segala kebaikan bagi umat manusia.

Menurutnya, kitab suci tersebut diturunkan pada bulan yang paling mulia, yakni Ramadan. Karena itu, segala sesuatu yang berkaitan dengan Al-Qur’an akan membawa kebaikan bagi kehidupan seorang muslim.

“Al-Qur’an itu manba’ul khair, sumber segala kebaikan. Apa pun yang berhubungan dengan Al-Qur’an pasti menjadi baik,” ujarnya di hadapan jamaah.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

Ia menjelaskan bahwa bahkan sekadar membaca Al-Qur’an sudah bernilai pahala yang besar. Hal itu sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:

Kullu harfin min kitābillāhi ḥasanah, wal-ḥasanatu bi ‘asyri amtsālihā.”

Artinya: Setiap huruf dari Kitab Allah adalah satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.

Selain dibaca, mendengarkan Al-Qur’an juga menjadi sebab turunnya rahmat Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah:

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

Wa idzā quri’al-qur’ānu fastami‘ū lahu wa anṣitū la‘allakum turḥamūn.”

Artinya: Apabila Al-Qur’an dibacakan maka dengarkanlah dan diamlah agar kalian mendapat rahmat. (QS. Al-A’raf: 204)

Bahkan, lanjutnya, sekadar memandang mushaf Al-Qur’an juga bernilai ibadah. Nabi ﷺ bersabda:

An-naẓaru fī tsalātsati asy-yā’in ‘ibādah: an-naẓaru fī wajhi al-wālidayn, wa fī al-muṣḥaf, wa fī al-baḥr.”

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya

Artinya: Melihat tiga hal adalah ibadah, yaitu memandang wajah kedua orang tua, memandang mushaf Al-Qur’an, dan memandang lautan.

Ustaz Iful menegaskan bahwa hubungan seorang muslim dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada membaca saja. Al-Qur’an harus ditadabburi dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Allah berfirman:

Afalā yatadabbarūnal-qur’ān am ‘alā qulūbin aghlāquhā.”

Artinya: Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka telah terkunci? (QS. Muhammad: 24)

Ia juga mengutip sabda Nabi ﷺ:

Khairukum man ta‘allamal-qur’āna wa ‘allamah.”

Artinya: Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.

Menurutnya, Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk hidup bagi manusia. Allah berfirman:

Syahru Ramaḍān alladzī unzila fīhil-qur’ān hudan lin-nās.”

Artinya: Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. (QS. Al-Baqarah: 185)

Ia menambahkan bahwa orang yang mengikuti petunjuk Al-Qur’an tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara.

Famanittaba‘a hudāya falā yaḍillu wa lā yasyqā.

Artinya: Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaha: 123)

Sebaliknya, orang yang berpaling dari Al-Qur’an akan merasakan kehidupan yang sempit.

Wa man a‘raḍa ‘an dzikrī fa inna lahu ma‘īsyatan ḍankā.”

Artinya: Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka baginya kehidupan yang sempit. (QS. Thaha: 124)

Menurut tafsir Ibnu Katsir, kehidupan sempit tersebut tidak selalu berarti kekurangan harta. Seseorang bisa saja memiliki kekayaan, jabatan, atau popularitas, tetapi tetap tidak merasakan ketenangan dalam hidupnya karena jauh dari petunjuk Al-Qur’an.

Dalam ceramah tersebut, Ustaz Iful juga mengingatkan pentingnya memperbanyak sedekah di bulan Ramadan. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Munafiqun ayat 10:

Wa anfiqū mimmā razaqnākum min qabli an ya’tiya aḥadakumul-maut.

Artinya: Infakkanlah sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada kalian sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kalian. (QS. Al-Munafiqun: 10)

Menurutnya, sedekah memiliki keutamaan besar karena pahalanya dapat dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali lipat.

Matsalul-ladzīna yunfiqūna amwālahum fī sabīlillāhi kamatsali ḥabbah anbatat sab‘a sanābil, fī kulli sumbulatin mi’atu ḥabbah.”

Artinya: Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti satu biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. (QS. Al-Baqarah: 261)

Dalam kegiatan Safari Dakwah Ramadan tersebut, Ustaz Iful juga mengajak jamaah untuk berpartisipasi dalam program wakaf Al-Qur’an yang digagas oleh Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA).

Menurutnya, wakaf Al-Qur’an termasuk sedekah jariyah, yaitu amal yang pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah wafat.

Idzā māta al-insānu inqaṭa‘a ‘amaluhu illā min tsalāṡ.”

Artinya: Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, salah satunya sedekah jariyah.

Ia menjelaskan bahwa mushaf Al-Qur’an wakaf akan disalurkan ke berbagai daerah yang membutuhkan, termasuk wilayah yang terdampak bencana.

Bagi yang berminat untuk berwakaf dapat mendaftarkan diri melalui Badan Wakaf Al-Qur’an Sulawesi Tenggara. (*)

× Advertisement
× Advertisement