SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Pemerintahan
Beranda / Pemerintahan / Sampah di Jalur Alternatif Kendari Menuai Sorotan Warganet

Sampah di Jalur Alternatif Kendari Menuai Sorotan Warganet

Tumpukan sampah terlihat di jalur permukiman Kota Kendari, sebagian meluber hingga badan jalan dan mengganggu pengguna jalan. (Foto Facebook: Arham Rasyid)

Delapan tahun lalu saya pertama lewat sini, sudah seperti itu.

CELEBESPOS.ID, KENDARI — Persoalan tumpukan sampah di salah satu jalur permukiman Kota Kendari kembali menyita perhatian publik. Kali ini, kondisi memprihatinkan tersebut mencuat setelah diunggah oleh warga melalui media sosial dan mendapat respons luas dari netizen yang mengeluhkan masalah serupa telah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan tuntas.

Keluhan itu disampaikan oleh Arham Rasyid melalui akun Facebook pribadinya. Dalam unggahannya, Arham menggambarkan tumpukan sampah yang menggunung di sebuah jalur alternatif yang kerap ia lalui setiap hari saat mengantar anaknya ke sekolah. Meski bukan jalan utama, jalur tersebut berada di kawasan permukiman warga dan masih aktif dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

“Merinding tiap melintas di jalan ini. Hampir tiap hari saya lewati kalau ngantar anak sekolah,” tulis Arham.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

Ia menjelaskan, lokasi tumpukan sampah berada di sekitar jalur penghubung dari Jalan Rauf Tarimana menuju Orinunggu–Martandu, tepatnya di depan SDN 51 Kendari, pada pembelokan ke kiri yang dikenal warga sebagai Jalan Merpati II. Sampah terlihat menumpuk di lahan kosong di pinggir jembatan dan sebagian sudah meluber hingga menutupi badan jalan.

Dari dokumentasi foto yang beredar, terlihat berbagai jenis sampah rumah tangga, mulai dari kantong plastik, styrofoam bekas makanan, hingga limbah campuran yang dibiarkan terbuka. Kondisi ini tidak hanya mengganggu estetika lingkungan, tetapi juga berpotensi membahayakan pengguna jalan, terutama saat hujan ketika jalan menjadi licin dan menyempit.

Arham menduga, tumpukan sampah tersebut bermula dari segelintir orang yang membuang sampah secara sembarangan. Namun, kebiasaan buruk itu kemudian diikuti oleh orang lain hingga akhirnya membentuk gunungan sampah yang terus bertambah.

“Padahal tidak ada bak sampah di situ. Mungkin awalnya cuma satu dua kantong, lama-lama yang lain ikut-ikutan,” ungkapnya.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

Unggahan tersebut memantik beragam respons dari netizen. Sejumlah warga mengaku kondisi serupa sudah terjadi sejak lama. Bahkan, ada yang menyebut tumpukan sampah di lokasi itu telah ada lebih dari delapan tahun.

“Delapan tahun lalu saya pertama lewat sini, sudah seperti itu,” tulis akun Sasa Saha Raha dalam kolom komentar.

Netizen lain menilai, masalah ini bukan semata kesalahan warga sekitar. Beberapa menyebut sampah justru banyak dibuang oleh warga dari luar lingkungan yang memanfaatkan lokasi tersebut sebagai tempat pembuangan liar.

“Di situ lorongku, bang. Itu sepenuhnya sampah bukan dari warga sekitar, banyak dari warga luar yang buang ke situ,” tulis Aruf Arsan Yusuf.

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya

Sejumlah komentar juga menawarkan solusi. Ada yang menyarankan keterlibatan aktif kelurahan dengan mendatangkan alat berat dan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup, serta menghidupkan kembali budaya gotong royong warga.

“Kalau lokasi seperti ini dua kali setahun dibersihkan dan dijaga, bisa bersih kembali,” tulis akun Jamaluddin bin Basar.

Usulan lain mencuat, mulai dari pemasangan papan larangan, penempatan petugas jaga, hingga pemasangan CCTV berbasis panel surya untuk memantau pelaku pembuangan sampah liar. Bahkan, ada warga yang mengusulkan skema iuran jasa angkut sampah rumah tangga agar sampah tidak lagi dibuang sembarangan.

Arham sendiri mengaku bukan warga setempat, namun merasa perlu menyuarakan keprihatinan agar persoalan ini mendapat perhatian serius dari pihak berwenang.

“Apa tidak ada himbauan dari lurah atau RT/RW? Pasang papan larangan atau pembatas. Semoga ada solusinya,” tulisnya.

Persoalan ini kembali menegaskan bahwa masalah sampah di kawasan permukiman tidak bisa diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, aparat kelurahan, dan kesadaran masyarakat agar penanganan sampah tidak hanya bersifat sementara, tetapi berkelanjutan, demi menjaga lingkungan dan kesehatan bersama. (*)

× Advertisement
× Advertisement