CELEBESPOS.ID, KENDARI – Hujan sempat mengguyur Kota Kendari pada Selasa malam, 24 Februari 2026. Namun jamaah tetap memadati Masjid Miftahul Khair untuk mengikuti ceramah malam ketujuh Ramadan yang disampaikan Yuslan Azis Abu Fikri, SE.
Dalam tausiyahnya, Abu Fikri membuka dengan ajakan bersyukur karena masih dipertemukan dengan bulan suci Ramadan. Ia menegaskan bahwa pertemuan dengan Ramadan bukanlah peristiwa biasa, melainkan anugerah besar dari Allah SWT.
Ia mengutip Surah Yunus ayat 58 sebagai landasan bahwa karunia dan rahmat Allah lebih baik dari apa pun yang dikumpulkan manusia di dunia.
“Ramadan ini nikmat luar biasa. Maka harus kita jaga kualitas dan kuantitas ibadah kita,” ujarnya.
Jaga Semangat Sampai Malam 30
Suasana ceramah sempat mencair ketika Abu Fikri menyapa jamaah yang tetap hadir meski hujan turun cukup deras.
“Kalau sampai malam 30 masih rame begini, siap Pak?” tanyanya.
Respons jamaah disambut canda, namun pesannya jelas: konsistensi ibadah dari awal hingga akhir Ramadan menjadi kunci agar amal tidak sia-sia.
Menurutnya, semangat di awal Ramadan harus dijaga hingga akhir. Jangan sampai hanya ramai di pekan pertama lalu berkurang di pertengahan.
Warung Makan Tutup, MBG Jalan Terus
Dalam konteks sosial, Abu Fikri menyinggung fenomena di masyarakat selama Ramadan. Ia menyebut pemerintah mengeluarkan surat edaran agar warung makan ditutup di siang hari sebagai bentuk penghormatan terhadap umat yang berpuasa.
Namun di sisi lain, program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan kebijakan Presiden Prabowo Subianto tetap berjalan.
“Warung makan sudah banyak yang tutup. Tapi MBG masih jalan. Ujiannya luar biasa,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan kritik terhadap program pemerintah, melainkan ilustrasi bahwa iman selalu diuji dalam situasi apa pun. Keberadaan makanan di sekitar tidak mengurangi nilai puasa seseorang, karena puasa pada hakikatnya adalah pengendalian diri.
Menahan yang Halal, Apalagi yang Haram
Bagian penting dari ceramahnya adalah penekanan bahwa puasa bukan sekadar menahan diri dari yang haram, tetapi justru dari yang halal.
Makan halal. Minum halal. Hubungan suami-istri halal. Namun semuanya dilarang pada siang hari Ramadan demi menjaga sahnya puasa.
“Kalau yang halal saja bisa kita tahan karena Allah, apalagi yang haram,” tegasnya.
Menurutnya, Ramadan adalah madrasah pembentukan karakter. Jika selama sebulan umat Islam mampu menahan diri dari hal-hal yang diperbolehkan, maka setelah Ramadan seharusnya lebih mudah menjauhi maksiat.
Takwa Jadi Penentu Kemuliaan
Yuslan kemudian mengingatkan tujuan utama puasa sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yakni agar menjadi pribadi yang bertakwa.
Takwa, katanya, adalah hasil spesial dari Ramadan. Bukan harta, bukan jabatan, bukan rupa, bukan pula status sosial yang menentukan kemuliaan seseorang di hadapan Allah.
“Yang menentukan mulia atau tidaknya kita hanyalah takwa,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa usia manusia terbatas. Dengan gaya ringan, ia menyebut rata-rata umur umat Nabi Muhammad berkisar 60 hingga 70 tahun.
“Kalau lewat 63 itu bonus, kalau sebelum itu diskon,” katanya, disambut tawa jamaah.
Namun di balik candaan itu, pesan yang ia tekankan adalah pentingnya memanfaatkan umur, harta, jabatan, dan keluarga untuk meningkatkan ketakwaan.
Takwa dan Keberkahan Negeri
Menutup ceramahnya, Yuslan menyampaikan bahwa takwa tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada keberkahan sebuah bangsa. Jika masyarakat beriman dan bertakwa, Allah akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi.
Sebagai dalam Al-Qur’an surah Al-A‘raf ayat 96: Walau anna ahlal-qurā āmanū wattaqau la fataḥnā ‘alaihim barakātim minas-samā’i wal-arḍ.
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”
Ia berharap Ramadan kali ini benar-benar menjadi momentum perbaikan diri, sehingga umat Islam tidak hanya meraih pahala, tetapi juga menghadirkan keberkahan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. (red)






