CELEBESPOS.ID, KENDARI — Pagi Jumat, 6 Februari 2026, Teluk Kendari tampak berkilau di bawah sinar matahari. Riak air bergerak pelan, memantulkan cahaya ke garis pesisir yang dibingkai pepohonan RTH Papalimba Puday, Kecamatan Abeli. Namun ketenangan itu dipecah oleh deru mesin chainsaw dan aktivitas puluhan aparat Pemerintah Kota Kendari yang sibuk bergerak terkoordinasi.
Kawasan yang biasanya menjadi ruang rekreasi warga pagi itu berubah menjadi medan kerja. Truk pengangkut sampah berjejer di tepi jalan, sementara petugas lapangan—bersepatu boot, berrompi, dan bersarung tangan—berada di garis pantai. Fokus mereka satu: bangkai kapal tua yang teronggok di bibir teluk, berkarat, rapuh, dan telah lama menjadi bagian dari pemandangan pesisir.
Tali-tali tebal melilit bagian-bagian badan kapal yang telah dipotong-potong. Beberapa petugas menariknya perlahan, kaki menapak kuat di permukaan beton yang licin oleh air laut. Suara mesin chainsaw meraung-raung memisahkan sedikit demi sedikit bagian kapal. Di sisi lain, petugas lain memberi aba-aba, memastikan setiap gerakan aman dan terukur. Angin laut berembus membawa aroma asin bercampur dengan dengung mesin dan instruksi singkat yang saling bersahutan.

Aksi ini bukan insiden terpisah. Pembersihan di Papalimba Puday merupakan bagian dari program besar Pemkot Kendari untuk menata Teluk Kendari dari bangkai kapal. Dari 30 bangkai kapal yang telah teridentifikasi di sepanjang teluk, pemerintah kota menargetkan 17 unit ditangani melalui pembongkaran terkoordinasi, dengan tenggat penyelesaian paling lambat 3 Mei 2026.
Operasi tidak hanya berpusat di Abeli. Pekerjaan berlangsung paralel di Lapulu, Punggaloba, pesisir Kendari Barat, dan beberapa kelurahan lain di sepanjang teluk. Setiap titik dikerjakan oleh perangkat daerah berbeda sesuai pembagian tugas yang telah ditetapkan.
Kepala Dinas Perikanan Kota Kendari, Makmur, menegaskan prinsip dasar program ini sederhana tetapi tegas: tidak ada pembongkaran tanpa persetujuan pemilik kapal. Semua aspek administrasi dan verifikasi kepemilikan diselesaikan terlebih dahulu sebelum alat dan personel diturunkan ke lapangan.
Metode yang digunakan pun jelas—potong, angkat, dan musnahkan di darat. Bangkai kapal dipotong bertahap, diangkat secara gotong royong, lalu dimusnahkan sesuai standar lingkungan. Pembakaran di laut atau penenggelaman ulang dilarang demi mencegah pencemaran dan menghindari risiko bagi jalur pelayaran.
Dari total 30 bangkai kapal, rinciannya menunjukkan pendekatan yang fleksibel tetapi terukur: 17 kapal ditangani Pemkot, 8 kapal akan dibongkar sendiri oleh pemilik karena masih akan diperbaiki, 2 kapal juga dibongkar mandiri, sementara 2 kapal lain belum diketahui pemiliknya sehingga belum dapat ditindaklanjuti.
Program ini berjalan di bawah koordinasi Dinas Perikanan dengan dukungan Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PUPR, Satpol PP, camat dan lurah pesisir, serta pengamanan dari Polairud, Brimob, dan Basarnas. Kolaborasi lintas instansi ini menegaskan bahwa pembersihan Teluk Kendari bukan kerja satu dinas, melainkan agenda kota.
Plt. Sekretaris Daerah Kota Kendari Amir Hasan, dalam Apel Kesiapan Pembersihan Bangkai Kapal, menyampaikan pesan kunci: Teluk Kendari adalah aset ekologis sekaligus identitas kota yang harus dijaga. Ia mengingatkan bahwa bangkai kapal yang dibiarkan bertahun-tahun telah memicu pencemaran, mengganggu keselamatan pelayaran, dan merusak estetika kawasan pesisir.
Karena itu, ia menekankan agar pembersihan dilakukan secara terkoordinasi, aman, dan sesuai ketentuan lingkungan, dengan keselamatan personel sebagai prioritas utama. Amir Hasan juga mengajak masyarakat berperan aktif menjaga teluk—tidak membuang sampah sembarangan dan ikut mengawasi aktivitas yang berpotensi merusak pesisir.
Di balik kerja teknis yang berat, ada pula tangan-tangan yang bekerja tanpa sorotan kamera. Salah satunya Rosmawati, pegawai Pemkot Kendari yang ikut terlibat dalam gerakan bersih-bersih ini. Ia tidak turun ke laut, tetapi berperan di darat, mengangkut potongan kayu dan serpihan besi kecil yang sudah dipisahkan tim lapangan.
“Kami perempuan hanya mengangkut yang kecil-kecil saja di atas, tidak turun ke laut,” katanya sambil terus bekerja cekatan.
Kalimat singkat itu menggambarkan semangat gotong royong yang menggerakkan program ini—bahwa pembersihan Teluk Kendari adalah kerja kolektif, melibatkan banyak peran, besar maupun kecil.
Menjelang siang, bangkai kapal di Papalimba Puday perlahan terangkat bagian demi bagian. Setiap potongan yang dipindahkan seolah menandai satu langkah maju—mengikis sisa masa lalu yang mengotori teluk, membuka ruang bagi masa depan yang lebih bersih.
Operasi ini lebih dari sekadar pekerjaan teknis. Ia adalah pernyataan komitmen: bahwa Teluk Kendari layak dipulihkan, dilindungi, dan diwariskan dalam kondisi yang lebih baik. Di bawah terik matahari, para aparat bukan hanya mengangkat bangkai kapal—mereka mengangkat harapan akan Teluk Kendari yang lebih lestari, aman, dan berdaya guna bagi generasi mendatang. (red)






