SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Humaniora
Beranda / Humaniora / Kendari Baru Rayakan HUT dan Forum Internasional, Kini Darurat Banjir

Kendari Baru Rayakan HUT dan Forum Internasional, Kini Darurat Banjir

CELEBESPOS.ID, KENDARI — Sabtu malam, 9 Mei 2026, hujan turun sejak acara belum dimulai sepenuhnya di pusat Kota Kendari.

Di tengah cuaca yang basah itu, ribuan warga tetap memadati arena pesta rakyat Hari Ulang Tahun ke-195 Kota Kendari. Lampu panggung menyala terang, musik terus dimainkan, sementara delegasi dari berbagai negara Asia Pasifik tampak menikmati malam penutupan forum internasional United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC) 2026.

Kota Kendari malam itu sedang berada di panggung internasional.

Wali Kota Kendari Siska Karina Imran berdiri di podium dengan nada optimistis. Ia menyebut Kendari telah membuktikan diri mampu menjadi tuan rumah forum dunia secara mandiri.

Kemendiktisaintek Tunjuk Prof Khairul Munadi Jabat Plh Rektor UHO

Alhamdulillah, hari ini kita buktikan bahwa Kota Kendari mampu menyelenggarakan event internasional sebesar ini secara mandiri,” ujarnya.

Ia berbicara tentang pengakuan internasional, keramahan warga Kendari, peluang investasi, hingga masa depan kota yang mulai dilirik kawasan Asia Pasifik.

Namun hujan malam itu rupanya bukan sekadar latar acara.

Air terus turun hingga larut malam. Beberapa warga mulai mengunggah kondisi genangan di media sosial bahkan ketika pesta rakyat masih berlangsung.

Mentan Amran Tinjau Sawah Banjir di Kendari, Bantuan Rp10 Miliar Digelontorkan untuk Petani dan Warga

Dan hanya dalam hitungan jam, suasana Kota Kendari berubah total.

Ahad, 10 Mei 2026, sejumlah wilayah mulai terendam banjir. Air masuk ke rumah-rumah warga, jalan utama tergenang, dan aktivitas masyarakat perlahan lumpuh.

Video-video banjir cepat menyebar di media sosial: warga mengevakuasi barang, kendaraan mogok di tengah genangan, hingga anak-anak yang dievakuasi menggunakan perahu seadanya.

Hanya semalam setelah pesta ulang tahun kota dan forum internasional digelar, Kendari mendadak sibuk menghadapi banjir besar.

Nelayan di Buton Dilaporkan Hilang saat Melaut dengan Sampan, Tim SAR Dikerahkan

Pemerintah Kota Kendari kemudian menetapkan status tanggap darurat bencana selama tujuh hari, mulai 11 hingga 17 Mei 2026.

Sedikitnya tujuh kecamatan terdampak.

Di Kelurahan Lapulu, air mencapai paha orang dewasa. Sebanyak 71 kepala keluarga terdampak banjir.

Wali Kota Siska bersama Wakil Wali Kota dan jajaran Forkopimda turun langsung meninjau lokasi dan menyalurkan bantuan berupa beras, telur, serta mi instan.

“Jika ada masyarakat yang merasa sakit pascabanjir, segera lapor agar tim medis dari puskesmas bisa langsung menangani,” kata Siska kepada warga.

Dari Lapulu, rombongan bergerak menuju Lorong Aklamasi, Jalan Kedondong, Kelurahan Andonohu, salah satu titik banjir terparah di Kota Kendari.

Di wilayah itu, air sempat mencapai setinggi leher orang dewasa dan berdampak pada sekitar 85 kepala keluarga.

Warga menyebut air naik sangat cepat selepas hujan deras mengguyur sepanjang malam.

Di lokasi tersebut, persoalan drainase kembali menjadi sorotan. Saluran air dinilai tak mampu lagi menampung debit hujan yang tinggi.

“Kami akan melihat apa yang harus diperbaiki secara teknis agar bencana seperti ini tidak menjadi rutinitas setiap hujan deras,” ujar Siska.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Jalan Mangkerey, Kelurahan Kambu, dengan sekitar 100 kepala keluarga terdampak banjir.

Di sana, Siska mengatakan penanganan banjir membutuhkan keterlibatan lintas sektor, mulai dari pemerintah kota hingga Balai Wilayah Sungai.

Banjir tak hanya merendam permukiman warga. Kawasan pertanian juga ikut lumpuh.

Selasa siang, Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman datang meninjau kawasan persawahan terdampak di Amohalo, Kecamatan Baruga.

Hamparan sawah yang biasanya hijau berubah menjadi genangan kecokelatan.

Di kawasan itu, dari total 337 hektare lahan pertanian, sebanyak 151 hektare terdampak banjir akibat rusaknya saluran irigasi.

Para petani hanya berdiri di pematang sawah sambil memperhatikan tanaman mereka yang terendam.

“Semua yang kena banjir kami akan berikan benih padi gratis untuk 2.000 hektare,” kata Amran.

Pemerintah pusat juga menyalurkan bantuan alat pertanian berupa 20 unit hand traktor dan lima unit combine harvester. Nilai bantuan yang digelontorkan mencapai sekitar Rp10 miliar.

Amran turut menyoroti tanggul jebol dan sistem irigasi yang rusak. Ia meminta perbaikan segera dilakukan agar banjir tidak terus meluas ke area pertanian.

Di tengah situasi itu, sebagian kalangan mulai menilai bahwa penanganan banjir di Kota Kendari tidak bisa lagi dilakukan secara parsial. Persoalan banjir dianggap membutuhkan penanganan lintas sektoral dan lintas daerah karena aliran air berkaitan langsung dengan kondisi wilayah dari hulu hingga hilir.

Kerusakan drainase perkotaan, sedimentasi sungai, alih fungsi lahan, hingga persoalan daerah resapan disebut saling berkaitan dan membutuhkan koordinasi antara pemerintah kota, pemerintah provinsi, Balai Wilayah Sungai, hingga daerah penyangga di sekitar Kendari.

Kini, kontras itu terasa begitu dekat di Kota Kendari.

Pada Sabtu malam, kota ini masih berbicara tentang forum internasional, tamu mancanegara, dan optimisme menuju kota global. Hanya beberapa jam kemudian, kota yang sama berubah menjadi kawasan darurat banjir, dengan warga yang sibuk menyelamatkan barang-barang mereka dari genangan air.

Kendari seperti dipaksa melihat dua wajahnya sendiri dalam waktu hampir bersamaan: wajah kota yang ingin mendunia, dan wajah kota yang masih bergulat dengan persoalan drainase, tata ruang, dan pengendalian lingkungan yang belum selesai. (red)

× Advertisement
× Advertisement