CELEBESPOS.ID, MUNA — Daun kelor di Muna tumbuh nyaris tanpa suara. Ia berdiri di pekarangan rumah, mengayun pelan diterpa angin, dipetik seperlunya untuk sayur harian. Bagi banyak orang, kelor hanyalah pelengkap dapur—bukan komoditas, apalagi simbol kebangkitan ekonomi lokal.
Namun, di Desa Lupia, Kecamatan Kabangka, Kabupaten Muna, sehelai demi sehelai daun kelor justru mengantar seorang anak desa menembus rak supermarket modern. Namanya Anshar, S.Pi., M.Pi. Dari sinilah kisah Te Wuna Moringa bermula.
Dari Latugho, dengan Pelajaran Kerja Keras
Anshar lahir di Desa Latugho, Kecamatan Lawa, 30 Agustus 1981. Ia anak kedua dari empat bersaudara—satu-satunya laki-laki di antara saudarinya. Ayahnya seorang pensiunan guru; ibunya ibu rumah tangga. Kehidupan mereka sederhana, nyaris asketis.

Anshar, pemilik UD Wuna Bharakati, menunjukkan produk Teh Kelor Te Wuna Moringa di rumah produksinya di Desa Lupia, Kabupaten Muna.
Pada masa kecilnya, belum ada televisi. Dunia Anshar adalah lapangan desa: bermain bola, terpal, enggo, memasang jerat burung, kelereng, karet, ketapel, dan aneka permainan tradisional lain yang membentuk ketangguhan sekaligus kecerdikan.
Sejak kelas 4 SD, sebelum berangkat sekolah, ia berkeliling kampung menjual donat dan pawang buatan ibunya—seharga Rp50 per biji. Meski ayahnya guru, keluarga tetap menggarap kebun yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumah.
Sepulang sekolah, Anshar sering langsung ke kebun menjaga tanaman dari hewan liar; saat libur, ia bahkan menginap di sana. Jika air PDAM tak mengalir, ia berjalan ratusan meter ke sumur. Jika kayu bakar habis, ia mencarinya sendiri.
Sebagai satu-satunya anak laki-laki, ia ditempa untuk disiplin, bekerja keras, tidak gengsi, dan selalu bersyukur. Nilai-nilai itulah yang kelak menjadi fondasi perjalanannya.

Dari Teknologi Perikanan ke Potensi Kelor
Tahun 2000, Anshar lulus SMA Negeri 1 Lawa dan memilih jurusan Teknologi Hasil Perikanan di Universitas Brawijaya Malang—tertarik pada kata “teknologi” yang terasa modern pada zamannya. Ia menuntaskan S1 pada 2005, lalu melanjutkan S2 Ilmu Perikanan di Universitas Halu Oleo (2016–2019) agar linear dan semakin mendalam di bidang perikanan.
Tahun 2019, ia sempat mengajar di ITK Avicena Kendari, sebelum akhirnya fokus membangun usaha dan kemudian kembali mengajar di STIP Wuna Raha pada Program Studi Budidaya Perairan.
Kelor sendiri telah akrab dengannya sejak kecil. “Bagi orang Muna, makan tanpa kelor rasanya kurang lengkap,” katanya suatu waktu. Namun, saat itu kelor hanyalah sayur—tak lebih.

Titik balik terjadi pada 2017, saat ia menyusun tesis S2 tentang pakan ikan berbasis sumber daya lokal. Dari berbagai literatur, ia tertarik pada daun kelor. Di Muna, kelor melimpah, tetapi risetnya minim. Ia pun membuat bubuk kelor dan mengujinya di Laboratorium Saraswanti Indo Genetech, Bogor.
Di titik itu ia sadar: kelor bukan sekadar sayur, tetapi potensi ekonomi dan kesehatan yang belum tergarap.
Lahir di Tengah Pandemi
Awal 2020, pandemi Covid-19 memaksa banyak orang bekerja dari rumah. Di tengah keterbatasan itu, kreativitas Anshar justru menemukan ruangnya. Untuk mengusir kejenuhan, ia mencoba mengolah daun kelor menjadi minuman.
Awalnya, ia membuat bubuk kelor yang diseduh dengan saringan. Lalu, seorang temannya—Syam Rahadi, dosen Fakultas Peternakan UHO—memberi saran penting: “Kalau mau diterima pasar, buat seperti teh celup. Praktis seperti Sariwangi.”

Saran itu menjadi titik lompatan.
Dari dapur sederhana di Desa Lupia, lahirlah Te Wuna Moringa—sebuah nama yang sarat makna dan identitas.
“Te Wuna” dalam bahasa lokal berarti “di Muna”, sementara “Moringa” merujuk pada nama latin tanaman kelor (Moringa oleifera). Dengan kata lain, Te Wuna Moringa bisa dimaknai sebagai “Kelor Muna”—sebuah penegasan bahwa produk ini lahir dari tanah Muna, berakar pada budaya, alam, dan kehidupan masyarakatnya.
Secara kelembagaan, produksi Te Wuna Moringa dinaungi oleh badan usaha UD Wuna Bharakati—unit usaha milik Anshar yang menjadi payung produksi, legalitas, dan manajemen bisnisnya. Di bawah UD Wuna Bharakati, Te Wuna Moringa berkembang dari eksperimen rumahan menjadi lini produk terstandar yang kini dikenal sebagai salah satu UMKM unggulan berbasis kelor di Kabupaten Muna.

Jalan awal tak mudah. Banyak yang meremehkan. Ada yang berujar sinis, “Tinggi-tinggi sekolah, ujung-ujungnya jualan kelor.” Kalimat itu, meski sering dilontarkan bercanda, justru menjadi bahan bakar motivasi baginya.
Dari Daun ke Teh Celup Bermerek
Proses produksi Te Wuna Moringa terukur dan higienis:
Daun kelor dipetik, dipisahkan dari tangkai, dicuci bersih, lalu dikeringkan dalam oven pada suhu maksimal 40°C selama 24–30 jam. Setelah kering, daun digiling menjadi serbuk, dimasukkan ke dalam tea bag, lalu dikemas dalam box dan standing pouch berlabel Te Wuna Moringa.
Bahan baku berasal dari kebun sendiri dan petani sekitar—tanpa pupuk kimia. Produk ini murni 100 persen daun kelor, tanpa campuran apa pun. Keunggulannya diperkuat oleh hasil uji laboratorium yang menunjukkan kandungan asam amino esensialnya cukup lengkap.

Pada tahap awal, istrinya terlibat langsung dalam produksi, sementara pemasaran dibantu saudara. Kini, usaha ini telah mempekerjakan dua warga lokal di bagian produksi dan tiga orang di pemasaran—dengan harapan terus berkembang dan menyerap lebih banyak tenaga kerja di Lupia.
Pasar, Tantangan, dan Dukungan
Respons pasar beragam. Sebagian menyambut positif karena melihatnya sebagai alternatif minuman alami tanpa pengawet. Tantangan terbesar tetap pada edukasi—menjelaskan bahwa kelor bukan sekadar sayur, tetapi pangan fungsional dengan manfaat kesehatan.
Saat ini, Te Wuna Moringa telah beredar di Raha, Kendari, dan Makassar. Momen paling berkesan bagi Anshar adalah ketika produknya tampil dalam pameran UMKM di Kendari yang dihadiri Menteri Koperasi dan UMKM, serta pada ajang PENAS di Padang, Sumatera Barat.
Rumah BUMN Muna berperan penting sejak awal—mendampingi pengembangan usaha, membantu pengemasan, branding, hingga akses pameran. Pada 2023, Te Wuna Moringa mendapat bantuan kompor listrik dan kemasan standing pouch, serta difasilitasi sebagai salah satu contoh UMKM “Naik Kelas.” Pemerintah daerah juga menjadikan produk ini sebagai oleh-oleh resmi bagi tamu dan pejabat yang berkunjung ke Muna.
Titik Sepi, Titik Yakin
Pernahkah hampir menyerah? “Tidak,” jawabnya tegas. Meski sempat mengalami masa sepi pesanan selama dua hingga tiga bulan di awal perjalanan, ia berpegang pada keyakinan bahwa rezeki telah diatur. Baginya, sukses bukan kebetulan—tetapi hak yang harus diperjuangkan.
Momen paling membanggakan? Saat melihat Te Wuna Moringa berdiri satu rak dengan produk industri besar di supermarket modern. Dari pekarangan desa ke etalase kota—itulah lompatan maknanya.
Mimpi Go Internasional
Lima hingga sepuluh tahun ke depan, Anshar menargetkan Te Wuna Moringa Go Internasional. Ia telah mulai mempersiapkan rumah produksi berstandar, mesin yang lebih modern, legalitas usaha yang lengkap, serta keikutsertaan dalam pameran global seperti Trade Expo Indonesia dan webinar perdagangan luar negeri bersama Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, dan diaspora Indonesia.
Pesannya untuk pemuda Muna sederhana, tetapi tajam:
“Kurangi diskusi, perbanyak aksi. Banyak potensi di Muna yang bisa menghasilkan rupiah—asal fokus dan konsisten.”
Di tangan Anshar, daun kelor bukan lagi sekadar sayur dapur. Melalui Te Wuna Moringa dan UD Wuna Bharakati, ia telah menjelmakannya menjadi simbol kemandirian, inovasi, dan kebanggaan lokal Muna—dari Lupia untuk Indonesia, bahkan menuju etalase dunia. (red)






