CELEBESPOS.ID, KENDARI — Ahad, 22 Februari 2026. Ba’da Ashar.
Sebuah mobil pick up pengangkut bibit tabebuya perlahan memasuki pelataran Masjid Al Alam. Roda-rodanya berhenti di atas paving blok yang tersusun rapi, menghadap langsung ke bangunan masjid yang berdiri anggun di tepian Teluk Kendari.
Sore itu, halaman masjid tak hanya dipenuhi jamaah yang menanti waktu berbuka. Lapak-lapak dari bekas kontainer berjejer menghadap masjid. Di depannya, para pedagang menata minuman dingin, camilan, hingga menu berbuka puasa. Aroma gorengan sesekali tercium, bercampur angin laut yang berembus pelan.
Di sisi lain, anak-anak menguasai ruang dengan tawa. Sepeda listrik melintas perlahan di atas paving blok. Mobil-mobil remote dikendalikan dengan penuh konsentrasi. Para orang tua duduk bercengkerama, menunggu azan magrib sambil sesekali melirik aktivitas kecil yang riuh itu.
Di tengah suasana tersebut, puluhan batang tabebuya mulai diturunkan dari bak mobil. Lubang-lubang tanam telah lebih dulu digali di taman sekitar halaman masjid. Tanah merah menganga, siap menerima akar-akar baru.
Sore itu, 40 batang tabebuya dengan ketinggian kurang lebih 3 meter ditegakkan.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Kendari, Apriliani Puspitawati, terlihat turun langsung. Ia mengenakan rompi putih beraksen merah dengan logo partai di dada kiri, jilbab hitam yang rapi, celana jins biru, dan sepatu kasual. Sesekali ia melepas kacamata hitamnya saat membungkuk, mengayun pacul, memastikan batang muda itu berdiri lurus.
“Merawat Pertiwi bukan hanya sekadar menanam pohon. Ini tentang kepedulian nyata terhadap lingkungan dan ruang publik kita,” ujarnya di sela kegiatan.
Batang-batang muda itu ditegakkan perlahan. Setelah ditimbun tanah, tiga kayu penopang dipasang mengelilinginya dan diikat kuat agar tak mudah miring diterpa angin dari arah teluk.
Di antara kader yang sibuk, tampak Muhammad Fajar Hasan aktif mengatur jalannya kegiatan. Mengenakan kaos putih, celana hitam, dan sepatu senada, ia terlibat sejak pengangkutan bibit hingga pendistribusian ke titik tanam. Ia membantu mengangkat batang dari bak mobil, mengarahkan jarak tanam, memastikan setiap pohon berdiri tegak sebelum tanah dipadatkan.
Tak lama berselang, mobil tandon masuk ke halaman. Selang panjang digelar. Satu per satu tabebuya yang baru ditanam disiram hingga tanah di sekelilingnya basah dan mengikat akar lebih kuat.
Menurut Apriliani, penanaman 40 pohon ini bagian dari target besar DPC PDI Perjuangan Kota Kendari untuk menanam 1.000 tabebuya di berbagai sudut kota. Hingga kini, sekitar 250 pohon telah ditanam secara bertahap.
“Kita lakukan sesuai ketersediaan bibit. Tidak selalu banyak, tapi komitmen menuju 1.000 pohon tetap kita jaga,” katanya.
Pemilihan tabebuya bukan tanpa alasan. Ia terinspirasi dari Surabaya, yang dikenal dengan deretan tabebuya berbunga di sejumlah ruas jalannya.
“Ketika berbunga, tabebuya memberi warna tersendiri pada kota. Harapannya, Kendari juga semakin asri dan menarik,” ujarnya.
Sehari sebelumnya, kader partai telah melakukan kerja bakti membersihkan kawasan masjid sebagai rangkaian menyambut Ramadan. Selain di Masjid Al Alam, bantuan sosial juga disalurkan ke sejumlah masjid lain yang menyampaikan kebutuhan, seperti semen dan lampu.

“Yang kita lakukan hari ini bukan hanya menanam. Kita ingin memastikan pohon-pohon ini dirawat dan tumbuh dengan baik,” kata Fajar.
Menjelang magrib, aktivitas penanaman berangsur selesai. Lapak-lapak kuliner kian ramai. Buka puasa bersama digelar di halaman masjid, sekaligus memberdayakan pelaku usaha kecil di sekitar kawasan tersebut.
Ketika azan magrib berkumandang, matahari yang sejak sore tertutup awan tipis perlahan menampakkan diri. Semburat jingga membelah langit Kendari, memantul di permukaan teluk.
Di antara deretan kontainer, tawa anak-anak, dan meja-meja berbuka, 40 batang tabebuya berdiri dengan penopangnya. Masih muda. Masih kecil. Namun dari sinilah langkah panjang menuju seribu pohon itu dimulai—merawat Pertiwi di Kota Teluk, satu akar pada satu waktu. (red)






