CELEBESPOS.ID, JAKARTA – Rekrutmen Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) dalam Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 menunjukkan ketimpangan kebutuhan tenaga antar daerah.
Hal ini sebagaimana tertuang dalam Pengumuman Nomor 3176/Peng/BWS.17.08/2026 yang diterbitkan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari pada 2 April 2026.
Dalam pengumuman tersebut, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) menjadi wilayah dengan kebutuhan TPM terbanyak, yakni mencapai 239 orang. Sementara itu, Kota Kendari menjadi daerah dengan kebutuhan paling sedikit, hanya 2 orang. Informasi selengkapnya klik link berikut ini: https://bit.ly/3NNeXrj
635 Lokasi, Didominasi Wilayah Pertanian
Secara keseluruhan, program P3-TGAI 2026 di Sulawesi Tenggara mencakup 635 lokasi kegiatan yang tersebar di 14 kabupaten/kota.
Selain Konawe Selatan, daerah lain dengan kebutuhan cukup besar antara lain:
- Bombana sebanyak 125 orang
- Kolaka Timur sebanyak 80 orang
- Kolaka sebanyak 63 orang
Sementara itu, daerah dengan kebutuhan paling kecil di antaranya:
- Kota Kendari: 2 orang
- Kota Baubau: 3 orang
Perbedaan ini mencerminkan fokus program yang lebih banyak menyasar wilayah pedesaan dan kawasan pertanian yang membutuhkan dukungan sistem irigasi.
Peran TPM Jadi Ujung Tombak
Dalam program ini, Tenaga Pendamping Masyarakat memiliki peran strategis sebagai penghubung antara pemerintah dan kelompok tani.
Mereka bertugas mendampingi proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pengelolaan kegiatan irigasi berbasis partisipasi masyarakat.
Pendaftaran Dibuka 3–7 April 2026
Pendaftaran TPM dilakukan secara daring mulai 3 April hingga 7 April 2026 melalui laman resmi P3-TGAI.
Pelamar diwajibkan mengunggah dokumen administrasi seperti surat lamaran, KTP, NPWP, ijazah, transkrip nilai, dan daftar riwayat hidup.
Panitia menegaskan bahwa proses seleksi ini tidak dipungut biaya, serta mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap oknum yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan tertentu.
Peluang Besar bagi Masyarakat Lokal
Besarnya kebutuhan tenaga di daerah seperti Konawe Selatan membuka peluang luas bagi masyarakat lokal untuk terlibat langsung dalam pembangunan infrastruktur desa.
Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. (red)






