CELEBESPOS.ID, ANDOOLO — Pagi itu, langit Desa Andoolo Utama, Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan, tampak cerah. Jalan menuju Pondok Pesantren Minhajut Thullab mulai dipadati kendaraan sejak pagi. Mobil, motor, hingga truk kecil berjejer di sepanjang jalan desa. Dari kejauhan, suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari pengeras suara pesantren.
Ribuan orang datang hari itu.
Ada wali santri yang menempuh perjalanan berjam-jam dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara. Ada alumni yang pulang setelah lama merantau. Ada tokoh agama, para kiai, pejabat daerah, hingga masyarakat sekitar yang sejak pagi sibuk membantu menyiapkan acara.
Di bawah tenda besar yang berdiri di halaman pesantren, ibu-ibu jamaah majelis taklim tampak mondar-mandir membawa nasi kotak. Jumlahnya bukan puluhan, melainkan ribuan.
Sekitar 3.000 porsi makanan disiapkan secara gotong royong.
Hari itu, Kamis, 14 Mei 2026, Pondok Pesantren Minhajut Thullab Sultra menggelar Tasyakur Milad ke-18 yang dirangkaikan dengan Wisuda Santri Al-Qur’an Bin Nadlor ke-18 dan Bil Ghoib ke-2.

Di atas panggung utama, seorang pria bersarung dengan peci hitam berdiri sambil memegang mikrofon.
Dialah KH. Mohammad Wildan Habibi AR, S.Pd.I.
Suaranya tenang. Sesekali ia tersenyum menatap para santri yang duduk berbaris rapi di hadapannya.

“Delapan belas tahun lalu kami memulai dari rumah panggung sederhana dengan empat orang santri,” ucapnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, kegagalan, kehilangan, ketekunan, dan keyakinan yang terus dijaga selama hampir dua dekade.

FASE 1 Titik Nol — Awal yang Sederhana (2008)
Tahun 2008 menjadi awal perjalanan Minhajut Thullab Sultra.
Saat itu kawasan tempat berdirinya pesantren masih sepi. Jalan belum ramai. Di kiri-kanan hanya terlihat kebun dan lahan kosong. Belum ada bangunan permanen. Belum ada asrama bertingkat. Hanya rumah panggung sederhana dan beberapa santri yang mulai belajar mengaji.
Minhajut Thullab Sultra sendiri merupakan cabang dari Pondok Pesantren Minhajut Thullab Sumberberas, Banyuwangi, Jawa Timur, yang didirikan ulama kharismatik KH. Abdul Mannan. Semangat dakwah dan pendidikan dari pesantren induk itulah yang kemudian dibawa ke Sulawesi Tenggara.

Namun membangun pesantren di daerah baru tentu bukan perkara mudah.
KH Wildan dan para pengurus pesantren harus memulai semuanya dari nol. Benar-benar nol.
Untuk menopang kebutuhan pesantren, mereka berjualan snack dan perlengkapan mandi santri. Barang-barang itu dijual sendiri, dari tangan ke tangan, dari pintu ke pintu. Tanpa gengsi. Tanpa rasa malu.
“Yang kami bangun pertama bukan gedung, tetapi keberanian untuk memulai,” kenang KH Wildan.
Dalam dokumen perjalanan pesantren berjudul Dari Titik Nol Menuju Cahaya, fase itu disebut sebagai fase pembentukan karakter. Bukan fase mencari keuntungan.
Sebab pada tahap itu, yang paling penting bukanlah besar kecilnya hasil, melainkan kemampuan bertahan dalam keterbatasan.

FASE 2 Masa Bertumbuh dan Belajar — Ujian Pertama (2008–2012)
Tetapi perjalanan Minhajut Thullab ternyata jauh dari kata mudah. Pesantren itu pernah jatuh berkali-kali.
Salah satu ujian paling berat datang ketika mereka mencoba usaha peternakan sapi. Saat itu sekitar 40 ekor sapi dipelihara dengan harapan bisa menopang ekonomi pesantren.
Namun satu demi satu musibah datang.
Ada sapi yang mati di kandang. Ada yang tertabrak kendaraan. Ada yang hilang. Bahkan ada yang dijual tanpa sepengetahuan pengelola. Tak ada satu pun yang tersisa. Semua habis. Bangkrut.
KH Wildan mengenang masa itu sebagai fase pembentukan mental. Fase ketika mereka belajar bahwa membangun usaha bukan hanya soal keberanian memulai, tetapi juga kesiapan menghadapi kehilangan.
“Fase ini adalah fase pembentukan mental. Jiwa pejuang ditempa dalam ketidakpastian,” ujarnya.
Di fase ini, Minhajut Thullab mulai memahami bahwa membangun usaha tidak selalu berakhir dengan keberhasilan. Kadang yang tersisa hanyalah pengalaman dan keteguhan untuk tetap melangkah.

FASE 3 Titik Kebangkitan — Buah Kesabaran (2009–2017)
Di tengah keterbatasan dan kegagalan, perlahan muncul tanda-tanda kebangkitan.
Tahun 2009, mereka mencoba usaha tembakau. Awalnya sangat kecil. Setahun penuh hanya mampu menjual satu bungkus per minggu seharga Rp5 ribu.
Tetapi perlahan keadaan berubah. Usaha itu mulai berkembang.
Dari satu bungkus per minggu menjadi satu mobil per bulan. Lalu meningkat menjadi satu truk. Hingga akhirnya mencapai dua kontainer per bulan sampai tahun 2017.
“Itu menjadi penguat keyakinan kami bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan,” ujar KH Wildan.
Pada masa yang hampir bersamaan, Minhajut Thullab juga menjadi distributor jamu keluarga H. Husni. Usaha itu berkembang cukup pesat hingga mencapai distribusi satu kontainer per bulan sebelum akhirnya berhenti akibat persoalan di tingkat pabrik.
Meski tidak semua usaha bertahan lama, fase ini menjadi titik penting bahwa kerja keras dan kesabaran mulai memperlihatkan hasil.

FASE 4 Ujian Besar — Runtuhnya Banyak Harapan (2012–2020)
Namun perjalanan belum benar-benar tenang.
Ketika sebagian usaha mulai berkembang, ujian yang lebih besar datang silih berganti.
Mereka pernah mendirikan pabrik pupuk organik: gagal. Menjadi agen pupuk: rugi. Menjadi agen semen: tidak bertahan. Membuka usaha tambak udang dan bandeng di Tinanggea: kembali merugi.
Pesantren itu juga pernah mengelola usaha transportasi antar jemput sekolah dan travel Kendari. Namun usaha tersebut berhenti setelah sopir utama meninggal dunia.
Mereka bahkan sempat mendirikan CV Birrunaja yang bergerak di bidang proyek pemerintah, outsourcing, cleaning service, hingga kontraktor listrik.
Tetapi akhirnya memilih mundur.
“Bukan karena rugi, tetapi karena kami tidak sanggup menghadapi birokrasi yang rumit dan sistem yang tidak sehat,” kata KH Wildan.
Ujian terbesar datang saat pandemi Covid-19 melanda.
Usaha travel umrah dan haji plus yang mulai berkembang tiba-tiba berhenti total. Aktivitas ekonomi melambat. Kondisi kesehatan juga menurun.
Dalam dokumen perjalanan pesantren, masa itu disebut sebagai “fase pengosongan”.
Fase ketika banyak hal runtuh sekaligus dan yang tersisa hanyalah iman, kesabaran, dan harapan.

FASE 5 Kebangkitan — Memulai Kembali dengan Kesadaran Baru (2020–Sekarang)
Namun justru dari titik itulah Minhajut Thullab kembali bangkit. Kali ini dengan arah yang lebih matang.
Mereka mulai membangun sistem ekonomi yang terintegrasi dengan kebutuhan pesantren dan masyarakat sekitar.
Lahirlah kantin-kantin sekolah, minimarket Al Fatih Mart, laundry santri NADIFA, usaha air minum isi ulang Dhania Water, pabrik beras UD Barokah Sholawat, hingga Rice Milling Unit (RMU) terintegrasi.
Pada 2023, Minhajut Thullab juga menerima bantuan penggilingan padi modern dari Bank Indonesia, Kementerian Agama, dan HEBITREN.

Perlahan, pesantren itu mulai membangun konsep kemandirian ekonomi berbasis komunitas.
“Sekarang kami ingin membangun usaha yang bukan hanya menghasilkan uang, tetapi juga menopang pendidikan dan kemandirian pesantren,” ujar KH Wildan.
Hari ini jumlah santri yang menetap di Minhajut Thullab mencapai sekitar 515 orang.
Mereka belajar di TPQ, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Diniyah, SMP Integral Minhajut Thullab, SMA Integral Minhajut Thullab, hingga Balai Latihan Kerja Komunitas.

Di pesantren itu, santri tidak hanya belajar agama.
Mereka juga belajar pencak silat NU Pagar Nusa, sepak bola, marching band, pramuka, hadrah Al-Banjari, hingga tilawah Al-Qur’an.
“Anak-anak di sini kurikulumnya berbasis ketuntasan. Tuntas Al-Qur’annya, tuntas tajwidnya, tuntas bahasa Arabnya, tuntas fikihnya, dan tuntas hafalan Al-Qur’annya,” kata KH Wildan.
Yang menarik, sebagian besar bangunan di pesantren itu lahir dari gotong royong.

Ada aula bantuan tokoh masyarakat. Ada material yang disumbangkan jamaah sedikit demi sedikit. Ada bangunan yang berdiri karena bantuan para dermawan.
Bahkan konsumsi milad pun dimasak sendiri oleh ibu-ibu jamaah yasin di sekitar pesantren.
“Di Minhajut Thullab tidak usah khawatir kelaparan,” kata KH Wildan sambil tersenyum, disambut tawa jamaah.
FASE 6 Menuju Cahaya — Membangun Peradaban Berbasis Nilai
Milad ke-18 tahun ini mengangkat tema “Pesantren dan Ikhtiar, Memperkuat Moralitas di Ruang Publik.”
Tema itu terasa relevan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Hugua yang hadir dalam acara tersebut mengingatkan bahwa wisuda bukan akhir dari perjalanan para santri.
“Yang lebih penting adalah bagaimana Al-Qur’an itu hidup dalam perilaku sehari-hari,” ujarnya.
Sementara Bupati Konawe Selatan Irham Kalenggo menyebut pesantren memiliki peran penting dalam membangun karakter generasi muda.

“Kami sangat mengapresiasi peran Pondok Pesantren Minhajut Thullab dalam pendidikan akhlak dan Al-Qur’an,” katanya.
Namun perjalanan Minhajut Thullab tampaknya belum selesai.
Kini mereka mulai merancang pembangunan Pondok Pesantren Minhajut Thullab Lamomea di Kecamatan Konda.
Yang menarik, pesantren itu dirancang khusus untuk lansia dan penyintas cuci darah.
Di sana nantinya akan ada masjid, asrama, sarana olahraga, kolam ikan, kebun organik, layanan kesehatan, hingga konsultasi psikologi.
Programnya pun lebih menenangkan: tahsin Al-Qur’an, dzikir, fikih harian, olahraga ringan, dan tadabur alam.
Konsepnya sederhana: “Hidup Bahagia, Menggapai Berkah, Meraih Husnul Khatimah.”
Menjelang sore, acara milad perlahan selesai.
Para wali santri mulai pulang. Anak-anak kembali ke asrama. Panitia mulai beres-beres.
Tetapi Pondok Pesantren Minhajut Thullab tampaknya masih akan terus berjalan.
Karena pesantren ini memang tidak dibangun dari kemudahan.
Ia tumbuh dari jatuh yang berulang. Dari bangkrut. Dari kehilangan. Dari kesabaran panjang.
Dan mungkin justru karena itulah, Minhajut Thullab tetap bertahan hingga hari ini.
Sebab seperti yang tertulis dalam dokumen perjalanan mereka:
“Ini bukan sekadar kisah keberhasilan. Ini adalah kisah tentang iman yang tidak runtuh, meski dunia berkali-kali runtuh di sekitarnya.” (*)

