SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Kembali ke Kampus yang Penuh Kenangan, Mentan Amran Ingin Mengajar di UHO Setelah Tak Lagi Menjabat

Kembali ke Kampus yang Penuh Kenangan, Mentan Amran Ingin Mengajar di UHO Setelah Tak Lagi Menjabat

Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman memberikan keterangan kepada awak media usai menyampaikan kuliah umum di Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sabtu, 6 Juni 2026.

CELEBESPOS.ID, KENDARI – Kunjungan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, ke Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sabtu, 6 Juni 2026, bukan sekadar agenda kuliah umum. Di hadapan ratusan mahasiswa dan dosen yang memadati Auditorium Mokodompit, Amran bernostalgia mengenang perjalanan hidupnya di Sulawesi Tenggara yang telah menjadi bagian penting dari karier dan pengabdiannya selama tiga dekade terakhir.

Dengan nada santai namun penuh makna, Amran mengaku memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Bumi Anoa, termasuk dengan kampus hijau Universitas Halu Oleo.

“Sebenarnya saya hanya singgah sebentar mengenang 30 tahun yang lalu saya di Sulawesi Tenggara. Tepatnya tahun 1996. Masa muda saya sampai masa tua saya lebih banyak di Sulawesi Tenggara daripada di Sulawesi Selatan,” ujar Amran.

Kenangan itu pula yang membuat Menteri Pertanian tersebut menyampaikan keinginan yang mungkin tidak banyak diketahui publik. Jika suatu saat tak lagi menjabat sebagai menteri, ia ingin kembali ke dunia kampus dan mengajar generasi muda.

Menghilang di Kebun, Bocah 12 Tahun di Konawe Selatan Ditemukan 462 Meter dari LKP

“Nanti Pak Rektor, undang saya kalau sudah tidak menjadi menteri lagi. Saya mau mengajar, keliling mengajar termasuk di Halu Oleo. Tidak usah dibayar,” katanya yang langsung disambut tepuk tangan para mahasiswa.

Kuliah umum bertema “Dari Kampus untuk Negeri: Penguatan Nilai Kebangsaan, Inovasi Pertanian dan Kemandirian Pangan Nasional” itu dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Hugua, Bupati Konawe Selatan Irham Kalenggo, unsur Forkopimda, pimpinan perguruan tinggi, serta sejumlah pejabat daerah.

Di hadapan para mahasiswa, Amran tidak hanya berbicara tentang pertanian dan ketahanan pangan. Ia lebih banyak menyampaikan pesan tentang mimpi, kerja keras, dan keberanian mengubah nasib.

Menurutnya, masa depan seseorang tidak ditentukan oleh asal kampus atau latar belakang keluarga, melainkan oleh tekad dan kemauan untuk terus berjuang.

Pergi Memancing, Nelayan di Buton Hilang, Longboat Ditemukan Terdampar

“Kalau mau berubah nasibnya, itu tergantung kalian. Mau jadi apa pun harus punya tekad dari sekarang,” tegasnya.

Amran kemudian mengingatkan bahwa doa harus berjalan beriringan dengan tindakan nyata. Ia menilai banyak orang memiliki cita-cita besar, tetapi tidak berani mengambil langkah untuk mewujudkannya.

“Kalau doa, Indonesia nomor satu dunia. Kita paling rajin berdoa. Tapi nomor terakhir bertindak,” ujarnya yang memancing tawa peserta.

Menurutnya, keberhasilan selalu lahir dari kombinasi antara gagasan besar, doa, kerja keras, dan konsistensi menghadapi berbagai tekanan.

Hari Kedua Pencarian, Bocah Hilang di Konawe Selatan Masih Belum Ditemukan

“Harus ada mimpi besar, doa besar, kemudian take action. Bertindak. Tapi yang paling sulit adalah bertahan dalam tekanan,” katanya.

Ia meyakini Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi negara maju jika generasi mudanya berani keluar dari zona nyaman dan memiliki mental pejuang.

“Bayangkan kalau semua anak muda berubah mindset-nya. Berdoa, bekerja keras, dan persisten. Kalian bisa mengubah bangsa ini menjadi negara super power,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama, Sistem Informasi, dan Hubungan Masyarakat UHO, Prof. Dr. H. Takdir Saili, M.Si, mengatakan kampus siap mendukung berbagai program strategis pemerintah, termasuk program Kementerian Pertanian.

Takdir menjelaskan bahwa saat ini UHO sedang berada dalam masa transisi kepemimpinan. Pelaksana Tugas Rektor sedang menjalankan ibadah haji, sementara Pelaksana Harian Rektor yang juga menjabat Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi berhalangan hadir karena bertugas di Mataram.

Meski persiapan kegiatan dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam, UHO tetap berhasil menyelenggarakan kuliah umum tersebut dengan baik.

Ia juga mengungkapkan bahwa UHO saat ini memiliki 171 guru besar, termasuk 42 guru besar di bidang pertanian, yang menjadi modal penting untuk mendukung program swasembada pangan nasional.

“Dengan kekuatan guru besar yang kami miliki, insya Allah kami bisa berpartisipasi secara maksimal dalam mendukung program ketahanan pangan dan swasembada pangan nasional,” katanya.

Bagi Amran, kunjungan ke UHO bukan hanya tentang menyampaikan materi kuliah umum. Lebih dari itu, kunjungan tersebut menjadi perjalanan pulang ke tempat yang menyimpan banyak kenangan, sekaligus kesempatan menanamkan optimisme kepada generasi muda bahwa mimpi besar dapat diwujudkan melalui kerja keras dan keberanian bertindak. (red)

× Advertisement
× Advertisement