CELEBESPOS.ID, RAHA—Jarak geografis dan perbedaan negara ternyata tak selalu memisahkan sebuah perjalanan. Ada kalanya, dua jejak yang bermula dari tempat yang sama kembali dipertemukan di ruang yang jauh lebih luas.
Itulah yang terjadi pada dua putri kelahiran Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Keduanya sama-sama pernah menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 1 Raha. Kini, keduanya telah tumbuh menjadi akademisi yang berkiprah di dua negara berbeda.
Mereka adalah Dr. Sumarni Sumai, S.Sos., M.Si., Ketua Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam Pascasarjana IAIN Parepare, Indonesia, dan Fitrilailah Mokui, SKM., MSR., M.ComHealthDev., Ph.D., akademisi University of New South Wales (UNSW), Sydney, Australia.
Keduanya kembali dipertemukan dalam panggung akademik internasional melalui International Guest Lecture of Postgraduate Academic Studies (IGLOPAS) 2026, Selasa, 8 September 2026.
Kegiatan yang mengangkat tema “Transforming Social and Communication Research in the Digital and Artificial Intelligence Era” tersebut diselenggarakan Pascasarjana IAIN Parepare secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti ratusan peserta, mulai mahasiswa pascasarjana, dosen, akademisi hingga peserta dari luar IAIN Parepare.
Bagi keduanya, pertemuan tersebut tentu memiliki makna lebih dari sekadar agenda akademik.
Dari sebuah sekolah dasar di Kota Raha, perjalanan pendidikan mereka dimulai. Setelah itu, jalan hidup membawa keduanya menempuh perjalanan berbeda. Sumarni berkiprah di IAIN Parepare, sementara Fitrilailah mengembangkan karier akademiknya di Australia.
Kini, keduanya bertemu kembali dalam sebuah forum ilmiah internasional untuk membicarakan persoalan yang sama-sama penting: bagaimana penelitian sosial dan komunikasi beradaptasi menghadapi perubahan besar akibat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.
Acara dibuka Direktur Pascasarjana IAIN Parepare, Prof. Dr. Rahmawati, M.Ag., dan dipandu Muh. Arsil, S.Sos. sebagai moderator.
Dalam sambutannya, Prof. Rahmawati mengapresiasi kedua narasumber yang telah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan perspektif akademik kepada peserta.
Menurutnya, kuliah tamu internasional tidak semata-mata menjadi agenda akademik formal, tetapi juga ruang dialog untuk memperluas wawasan, membangun jejaring akademik lintas negara, sekaligus merespons perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Mahasiswa pascasarjana, kata dia, dituntut mampu membaca perubahan zaman, peka menemukan persoalan baru, merumuskan pertanyaan penelitian yang relevan, serta menghasilkan karya ilmiah yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Dalam sesi pertama, Dr. Sumarni Sumai membawakan materi berjudul “From Classical Qualitative Research to Digital Qualitative Inquiry”.
Ia menjelaskan bahwa perubahan masyarakat dari era tradisional menuju era media massa, internet, media sosial hingga kecerdasan buatan telah mengubah lanskap komunikasi secara mendasar.
Perubahan tersebut, menurutnya, juga menuntut dunia penelitian untuk bergerak.
Metodologi penelitian tidak dapat terus menggunakan pendekatan yang sama ketika objek dan realitas sosial yang diteliti telah berubah. Peneliti perlu menyesuaikan metode, instrumen, serta cara membaca data dengan karakter masyarakat digital.
“Metodologi bukan sekadar alat, melainkan jembatan untuk memahami makna, konteks, dan perubahan dalam lanskap komunikasi,” ungkap Dr. Sumarni.
Ia juga menguraikan sejumlah pendekatan yang tetap relevan dalam penelitian komunikasi kontemporer, antara lain naratif, fenomenologi, grounded theory, etnografi atau netnografi, serta studi kasus.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi, peneliti tetap dituntut berpijak pada paradigma penelitian yang jelas dan memiliki kepekaan terhadap konteks sosial maupun budaya.
Sesi berikutnya diisi Fitrilailah Mokui yang membahas pemanfaatan kecerdasan buatan, Natural Language Processing (NLP), serta pentingnya validasi peneliti dalam penelitian.
Menurut Fitrilailah, AI dapat membantu berbagai tahapan penelitian, mulai dari transkripsi, pengodean awal, pencarian pola narasi, analisis sentimen hingga pengolahan data dalam jumlah besar.
Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi tetap memiliki batas.
AI dapat mengandung bias algoritma, menghasilkan halusinasi data, bahkan tidak selalu mampu menangkap konteks budaya secara mendalam.
Karena itu, kehadiran AI tidak boleh menghilangkan peran utama peneliti.
“Dalam penelitian kualitatif, peneliti tetap menjadi pemegang kendali. AI dapat membantu menyarankan pola, tetapi makna, refleksivitas, dan konteks budaya harus berasal dari peneliti,” jelasnya.
Di balik diskusi tentang metodologi penelitian dan kecerdasan buatan itu, terselip kisah perjalanan dua perempuan asal Muna yang cukup menarik.
Keduanya pernah berada di lingkungan sekolah yang sama di Raha. Dari tempat yang sederhana itu, perjalanan mereka kemudian berkembang menuju ruang akademik yang lebih luas—melewati kota, institusi, bahkan negara.
Satu kini mengabdikan diri di perguruan tinggi di Parepare. Satu lainnya berkiprah di lingkungan akademik internasional di Sydney.
IGLOPAS 2026 akhirnya menjadi titik temu dua perjalanan tersebut.
Bukan hanya mempertemukan dua akademisi dalam satu forum ilmiah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pendidikan dari daerah dapat menjadi titik awal perjalanan menuju panggung yang lebih luas.
Dari Raha menuju Parepare dan Sydney, keduanya membawa jejak yang sama: pernah belajar di SD Negeri 1 Raha, tumbuh dari tanah Muna, lalu mengambil bagian dalam percakapan akademik yang melampaui batas negara.
Kisah mereka menjadi pengingat bahwa daerah asal bukanlah batas untuk bermimpi dan berkembang. Ia justru bisa menjadi akar yang menguatkan seseorang ketika melangkah menuju dunia yang lebih luas. (red)

