SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Dari UHO hingga Malaysia, Empat Universitas Belajar Model Pertanian Terpadu di Agrowisata California

Dari UHO hingga Malaysia, Empat Universitas Belajar Model Pertanian Terpadu di Agrowisata California

Dekan FISIP UHO Prof. Dr. H. Eka Suaib, M.Si. (kanan) bersama rombongan saat meninjau kawasan Agrowisata California, Cialam Jaya, Konda.

CELEBESPOS.ID, KONAWE SELATAN — Ketika ancaman krisis pangan global terus membayangi, jawaban atas persoalan ketahanan pangan tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Desa dengan lahan, petani, ternak, dan sumber daya alam yang tersedia di sekitarnya justru dapat menjadi laboratorium penting untuk membangun sistem pangan yang mandiri.

Gagasan itu menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang mempertemukan akademisi dari empat perguruan tinggi dengan masyarakat Desa Tanea–Cialam Jaya, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Kegiatan yang berlangsung di Agrowisata California, Rabu (2/9/2026), tersebut mempertemukan FISIP Universitas Halu Oleo (UHO), Universitas Putra Jaya Malaysia, Universitas Teuku Umar Aceh, serta Universitas Ubudiyah Indonesia/Aceh.

Dari UHO, rombongan dipimpin langsung Dekan FISIP UHO, Prof. Dr. H. Eka Suaib, M.Si. Sementara Universitas Putra Jaya Malaysia hadir di bawah pimpinan Prof. Halizah Abdul Rahman dan Prof. Rusli Abdullah. Delegasi Universitas Teuku Umar dipimpin Dr. Afrizal Tjoetra, S.Pd., S.Sos., M.Si., sedangkan Universitas Ubudiyah Indonesia/Aceh dipimpin Dr. Lensoni.

Pordasi Konawe Bidik Prestasi Nasional hingga Internasional, La Bihanas: Ini Amanah yang Berat

Kepala Desa Cialam Jaya, tokoh masyarakat, dan para petani turut terlibat dalam kegiatan tersebut.

Bukan sekadar kunjungan akademik, kegiatan ini diarahkan menjadi ruang bertemunya ilmu pengetahuan dengan pengalaman masyarakat di lapangan. Para peserta melihat langsung bagaimana konsep integrated farming atau pertanian terpadu dikembangkan di Agrowisata California.

Dari lahan pertanian hingga peternakan, dari limbah menjadi pupuk, hingga gagasan mengintegrasikan pertanian dengan edukasi dan pariwisata, semuanya dipelajari sebagai satu ekosistem.

Kampus Tidak Cukup hanya di Ruang Kelas

Sekum KONI Konawe: Pordasi Bukan Sekadar Olahraga, Bisa Jadi Jalan Pembinaan Generasi Muda

Dekan FISIP UHO, Prof. Dr. H. Eka Suaib, M.Si., mengatakan perubahan paradigma perguruan tinggi membuat kampus tidak lagi cukup hanya menghasilkan pengetahuan di ruang kelas.

Kampus harus hadir dan memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

“Paradigma sekarang kampus itu bukan hanya kita di kampus belajar, tetapi bagaimana kampus berdampak,” kata Prof. Eka.

Menurut dia, Agrowisata California memiliki karakter yang menarik untuk dijadikan ruang pembelajaran karena menggabungkan potensi alam, pendidikan, kewirausahaan, pertanian, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat.

Pordasi Konawe Lahir, Olahraga Berkuda Disiapkan Jadi Wadah Pembinaan Generasi Muda

Konsep tersebut juga dinilai relevan dengan pengembangan pariwisata berbasis komunitas.

“Pariwisata itu harus dikembangkan berbasis komunitas. Kalau pariwisata tidak berbasis pada komunitas, itu tidak akan bertahan,” ujarnya.

Prof. Eka melihat model seperti Agrowisata California dapat menjadi ruang belajar bersama. Perguruan tinggi membawa pengetahuan dan riset, sementara masyarakat memiliki pengalaman serta pengetahuan lokal yang tidak kalah penting.

Dari pertemuan tersebut, ia berharap lahir kolaborasi yang lebih luas, tidak hanya antara perguruan tinggi, tetapi juga dengan dunia usaha, pemerintah desa, petani, dan masyarakat.

Dari Guru di Malaysia Kembali Menjadi Petani

Salah satu owner Agrowisata California, Saharudin atau yang akrab disapa Mr. Saha, menyambut kedatangan para akademisi tersebut sebagai sebuah momentum istimewa.

Baginya, kehadiran rombongan dari Malaysia dan sejumlah daerah di Indonesia merupakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan ketika Agrowisata California mulai dirintis.

“Saya sendiri yang merintis ini tidak pernah bermimpi ada kejadian besar seperti ini, datang dari Malaysia, dari ujung Indonesia, dari Aceh, datang ke tempat ini,” tutur Mr. Saha.

Mr. Saha memiliki kedekatan tersendiri dengan Malaysia. Ia pernah mengajar sekaligus menjadi pendiri beberapa sekolah di negara tersebut pada 2014 hingga 2018.

Pengalaman itu pula yang membuatnya mudah membangun komunikasi dengan para akademisi dari Malaysia.

Namun, setelah kembali ke Indonesia pada 2018, perjalanan hidupnya berubah. Dari dunia pendidikan, ia mulai menekuni pertanian.

Kini, ia justru melihat pertanian sebagai salah satu bidang yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi industri.

Menurutnya, pertanian tidak boleh berhenti pada aktivitas produksi. Nilai tambah harus diciptakan melalui teknologi, pengolahan, pemasaran, edukasi, dan pariwisata.

“Selama ini kita mengenal kampus sebagai tempat yang ada gedung dan dosen. Tapi sekarang kita datang belajar di sini. Membawa nama kampus ke sini,” katanya.

Ia menyebut Agrowisata California sebagai semacam “kampus nyata”, tempat berbagai pengetahuan bertemu langsung dengan praktik di lapangan.

Pertanian, Peternakan, dan Limbah dalam Satu Ekosistem

Sementara itu, Direktur Petani Milenial (PTM), La Mimin, memaparkan konsep integrated farming dalam sesi Sharing Inspirasi Bisnis: Membangun Properti Syariah dan Konsep Pertanian Terpadu.

Dalam konsep tersebut, pertanian tidak berdiri sendiri. Peternakan, perkebunan, pengelolaan limbah, pengolahan hasil, edukasi, dan pariwisata dapat dirancang menjadi satu sistem yang saling mendukung.

Salah satu contohnya adalah pemanfaatan limbah peternakan.

Limbah dari peternakan kuda dan ayam kampung, rerumputan, serta bahan organik lainnya dapat diolah melalui proses fermentasi menjadi kompos dan media tanam.

Dengan pendekatan tersebut, sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah justru dapat kembali menjadi sumber daya untuk mendukung kegiatan pertanian.

Begitu pula limbah dapur yang dapat diolah menjadi komposter.

Konsep ekonomi sirkular juga diperkenalkan melalui rencana pemanfaatan dan pengolahan limbah plastik dengan teknologi yang memperhatikan aspek keselamatan serta lingkungan.

Bagi La Mimin, pendekatan semacam ini penting karena ketahanan pangan tidak cukup hanya berbicara tentang berapa banyak pangan yang diproduksi.

Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat memiliki sistem produksi yang mandiri, efisien, berkelanjutan, dan mampu memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitarnya.

Desa sebagai Laboratorium Ketahanan Pangan

Setelah sesi berbagi, para peserta melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah unit kegiatan di Agrowisata California.

Mereka melihat peternakan lebah, peternakan kuda dan ayam, pemanfaatan limbah peternakan, pengolahan limbah dapur menjadi komposter, serta berbagai rencana pengembangan teknologi pengolahan limbah.

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi ruang diskusi.

Akademisi, pelaku usaha, pemerintah desa, petani, dan masyarakat bertukar pandangan mengenai bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

Di sinilah konsep integrated farming menemukan maknanya.

Pertanian tidak lagi dilihat sebagai aktivitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagai sebuah ekosistem.

Kotoran ternak dapat menjadi pupuk. Limbah organik dapat kembali ke tanah. Lahan menghasilkan pangan. Peternakan menyediakan sumber daya. Kawasan pertanian menjadi ruang edukasi. Dan seluruh rangkaian tersebut dapat dikembangkan menjadi destinasi agrowisata.

Model semacam ini sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh lebih dari satu sumber pendapatan.

Dari Cialam Jaya untuk Kolaborasi yang Lebih Luas

Kehadiran empat perguruan tinggi dalam satu kegiatan memperlihatkan bahwa persoalan desa dapat menjadi ruang kolaborasi lintas disiplin dan lintas wilayah.

Sulawesi Tenggara membawa potensi lahannya. Aceh membawa pengalaman dan perspektifnya. Malaysia membawa pengalaman pengembangan pendidikan dan masyarakat. Perguruan tinggi mempertemukan semuanya melalui riset, pengabdian, dan pertukaran pengetahuan.

Prof. Eka berharap kunjungan tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan.

Menurutnya, apa yang dilihat dan dipelajari di Agrowisata California perlu didiskusikan kembali untuk merumuskan langkah bersama ke depan.

Sebab, kampus berdampak bukan sekadar slogan.

Ia harus terlihat dalam bentuk pengetahuan yang diterapkan, masyarakat yang diberdayakan, dan potensi lokal yang berkembang.

Dari Desa Tanea–Cialam Jaya, gagasan itu sedang diuji dalam bentuk yang sederhana: menghubungkan pertanian, peternakan, lingkungan, pendidikan, pariwisata, dan ekonomi dalam satu ekosistem.

Jika model tersebut mampu terus berkembang dan direplikasi, maka desa tidak hanya menjadi tempat produksi pangan.

Desa dapat menjadi pusat pembelajaran, pusat inovasi, sekaligus salah satu benteng ketahanan pangan Indonesia di tengah ketidakpastian global. (red)

× Advertisement
× Advertisement