CELEBESPOS.ID, KENDARI – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan kondisi iklim terbaru di Sulawesi Tenggara yang menunjukkan pola hujan tidak merata antarwilayah, sekaligus mengingatkan potensi penurunan curah hujan akibat indikasi menguatnya El Nino pada pertengahan tahun 2026.
Data tersebut tertuang dalam Buletin Iklim Sulawesi Tenggara Edisi April 2026 yang dirilis Stasiun Klimatologi Sultra.
Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara, Kusairi, menjelaskan bahwa kondisi global saat ini masih netral, namun mulai mengarah ke El Nino lemah hingga moderat.
“Fenomena ENSO diprediksi berkembang menjadi El Nino pada Mei hingga Juli 2026, yang berpotensi menurunkan curah hujan di sebagian besar wilayah Sulawesi Tenggara,” ujarnya.
BMKG mencatat, pada Maret 2026 curah hujan di Sulawesi Tenggara berada pada rentang yang cukup lebar, mulai dari kategori rendah hingga tinggi.
- Curah hujan tinggi terjadi di sebagian wilayah Buton dan Konawe Utara
- Curah hujan menengah (dominan) meliputi sebagian besar wilayah seperti Kendari, Konawe, Konawe Selatan, Muna, dan Baubau
- Curah hujan rendah terpantau di wilayah Bombana, Kolaka, dan Kolaka Timur
Dari sisi sifat hujan, sebagian besar wilayah Sultra justru berada pada kategori bawah normal, meski ada beberapa daerah seperti Konawe dan Konawe Selatan yang mengalami hujan di atas normal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa hujan yang terjadi tidak merata, baik secara intensitas maupun distribusi wilayah.
BMKG menjelaskan, tidak meratanya hujan di Sultra dipengaruhi beberapa faktor utama:
- Suhu muka laut di sekitar wilayah Sultra yang cenderung normal hingga lebih dingin, sehingga pembentukan awan hujan berkurang
- Angin baratan yang masih dominan membawa uap air, namun tidak cukup kuat menghasilkan hujan merata
Akibatnya, ada wilayah yang masih diguyur hujan cukup tinggi, sementara daerah lain mulai mengalami penurunan curah hujan.
BMKG memproyeksikan tren penurunan curah hujan akan terus terjadi hingga Juli 2026:
- Mei 2026 → 101–400 mm (kategori menengah)
- Juni 2026 → 51–300 mm (mulai menurun, dominan bawah normal)
- Juli 2026 → 21–200 mm (sebagian wilayah masuk kategori rendah)
Wilayah bagian tengah hingga selatan Sulawesi Tenggara diprediksi lebih cepat mengalami penurunan curah hujan dibanding wilayah lainnya.
BMKG mengingatkan bahwa pola ini merupakan sinyal awal peralihan menuju musim kemarau di sejumlah wilayah Sultra.
Kusairi menekankan pentingnya kewaspadaan, terutama bagi sektor yang bergantung pada curah hujan.
“Wilayah dengan curah hujan rendah seperti Bombana, Kolaka, dan Kolaka Timur perlu lebih waspada terhadap potensi kekeringan lebih awal,” jelasnya.
Sebaliknya, wilayah yang masih menerima hujan tinggi tetap perlu mengantisipasi potensi dampak seperti genangan atau gangguan aktivitas.
BMKG meminta masyarakat dan pemerintah daerah untuk mulai menyesuaikan langkah antisipasi, terutama dalam:
- Perencanaan pola tanam
- Pengelolaan sumber daya air
- Mitigasi potensi kekeringan
“Informasi ini penting sebagai dasar pengambilan kebijakan dan langkah adaptasi terhadap perubahan iklim,” tegas Kusairi.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk selalu mengikuti informasi resmi agar tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan pola hujan yang tidak merata dan potensi El Nino yang mulai menguat, Sulawesi Tenggara kini memasuki fase krusial dalam transisi musim—di mana kewaspadaan dan kesiapan menjadi kunci menghadapi perubahan cuaca ke depan. (red)






