CELEBESPOS.ID, KENDARI — Aktivitas kegempaan di Sulawesi Tenggara pada akhir Januari hingga awal Februari 2026 menunjukkan dinamika yang cukup padat. Dalam rentang waktu 30 Januari–5 Februari 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kendari mencatat 19 gempa bumi yang tersebar di enam wilayah kabupaten/kota di provinsi tersebut. Karakteristiknya seragam: sebagian besar berkekuatan kecil dan terjadi di kedalaman dangkal.
Petugas Operasional BMKG Stasiun Geofisika Kendari, Waode Mudhalifana, mengatakan pola ini tidak mengejutkan mengingat posisi Sulawesi Tenggara yang berada di zona tektonik aktif dengan sejumlah sesar darat.
“Periode 30 Januari sampai 5 Februari didominasi gempa lokal berskala kecil dan dangkal. Ini lazim terjadi di Sulawesi Tenggara karena aktivitas sesar di daratan,” kata Waode Mudhalifana, Jumat, 6 Februari 2026.

Catatan seismisitas mingguan BMKG menunjukkan bahwa gempa tidak hanya terjadi di Sultra. Aktivitas serupa juga terdeteksi di Sulawesi Selatan (Luwu Timur, Bone, Maros, dan Pangkep), Sulawesi Tengah (Poso, Sigi, Morowali Utara, Toli-Toli, Banggai, Donggala, dan Parigi Moutong), serta Sulawesi Barat (Polewali Mandar, Mamuju, Mamuju Tengah, Pasangkayu, dan Mamasa). Sejumlah kejadian juga tercatat di perairan Teluk Tomini, Laut Banda, Selat Makassar, Laut Sulawesi, dan Laut Maluku.
Peta sebaran titik gempa periode tersebut memperlihatkan bahwa episenter di Sultra cenderung terkonsentrasi di daratan, terutama di Kolaka Timur, Konawe Selatan, dan sekitar Kota Kendari, serta sebagian wilayah Buton Utara, Muna, dan Bombana.
Menurut Waode Mudhalifana, pola ini memperkuat indikasi bahwa gempa-gempa tersebut bersumber dari sesar lokal, bukan dari zona subduksi laut dalam.
“Sebaran titik gempa yang dominan di daratan menunjukkan peran sesar lokal sebagai pemicu utama,” ujarnya.
Dua gempa dalam periode ini sempat dirasakan warga dan terekam dalam Peta Guncangan (Shakemap) BMKG. Pertama, gempa di Konawe Selatan pada 30 Januari 2026 (UTC), dan kedua, gempa di Kolaka Timur pada 5 Februari 2026 (UTC). Keduanya tercatat pada skala II–III Modified Mercalli Intensity (MMI).
Skala tersebut tergolong ringan. Getaran terasa di dalam rumah, tetapi tidak menimbulkan kerusakan bangunan.
“Intensitas II–III MMI berarti sebagian orang merasakan getaran, namun tidak ada dampak struktural,” kata Waode.
Data statistik BMKG menggambarkan pola yang jelas:
- Puncak frekuensi gempa terjadi pada 4 Februari 2026, dengan 28 kejadian dalam sehari.
- 86,3 persen gempa berkekuatan kecil (magnitudo < 3).
- 91,6 persen terjadi pada kedalaman dangkal, yakni kurang dari 60 kilometer.
Waode Mudhalifana menjelaskan bahwa gempa dangkal lebih mudah dirasakan meski energinya kecil.
“Gempa dangkal cenderung terasa lebih kuat di permukaan dibanding gempa dalam, meski magnitudonya rendah,” katanya.
Secara spesifik di Sulawesi Tenggara, 19 gempa tersebut tersebar di enam wilayah:
- Konawe Selatan — 5 kejadian (1 dirasakan warga)
- Kolaka Timur — 10 kejadian (1 dirasakan warga)
- Muna
- Muna Barat
- Kota Kendari
- Bombana
- Kolaka Timur tercatat sebagai daerah dengan frekuensi gempa tertinggi dalam sepekan tersebut.
BMKG meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak jelas sumbernya. Waode Mudhalifana menekankan pentingnya mitigasi dasar.
“Masyarakat perlu mengenali jalur evakuasi, menyiapkan tas siaga, dan memastikan bangunan tempat tinggal memenuhi standar keamanan gempa,” ujarnya. (red)






