CELEBESPOS.ID, KENDARI — Di tengah geliat pendidikan tinggi di Indonesia Timur, ada fakultas yang tumbuh tanpa gemuruh berlebihan. Tidak dibesarkan oleh sorotan metropolitan, tidak ditopang oleh klaim-klaim bombastis, melainkan oleh kerja panjang, disiplin akademik, dan pembentukan karakter yang konsisten.
Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Kendari (UM Kendari) bergerak pelan, tetapi berjarak jauh. Dari ruang-ruang kelas yang sederhana hingga laboratorium peradilan yang serius, dari organisasi kemahasiswaan hingga panggung kompetisi nasional, reputasi itu dibangun lapis demi lapis.
Di ruang kerjanya yang tenang, Dekan Fakultas Hukum UM Kendari, Dr. Ahmad Rustam, S.H., M.H., berbicara tanpa nada berlebihan. Tidak ada retorika yang memekik, hanya keyakinan yang matang.
“Sejak 2001, kami tidak hanya ingin melahirkan sarjana hukum. Kami ingin membentuk manusia hukum. Manusia yang paham aturan, tetapi juga paham nilai,” kata Rustam pelan.
Kalimat itu bukan slogan. Ia menjadi benang merah seluruh perjalanan fakultas ini.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Kendari, Dr. Ahmad Rustam, SH., MH.
Dari C ke A dan Mimpi ‘Unggul’
Jika perjalanan sebuah institusi digambarkan sebagai anak tangga, Fakultas Hukum UM Kendari adalah contoh pendaki yang tidak tergesa-gesa, tetapi tidak pernah berhenti.
Dimulai dari akreditasi C, fakultas ini perlahan membenahi diri: kurikulum diperkuat, metode pembelajaran diperbarui, fasilitas ditingkatkan, dan kualitas dosen terus ditopang. Hasilnya, akreditasi naik ke B, lalu kini berada di level A. Sebuah pencapaian yang tidak datang secara instan.
Namun bagi Rustam, akreditasi A bukanlah garis finish.
Saat ini, fakultas sedang memasuki fase krusial: menyiapkan diri menuju Akreditasi Unggul, kategori tertinggi dalam sistem akreditasi baru yang menilai tata kelola mutu perguruan tinggi secara menyeluruh. Targetnya jelas. Proses ini diharapkan rampung pada Juli 2026.
“Unggul itu bukan sekadar predikat. Itu cerminan bagaimana kami mengelola kualitas. Dari ruang kelas, riset dosen, pembinaan mahasiswa, hingga dampak lulusan di masyarakat,” jelas Rustam.

Optimisme itu beralasan. Hari ini, 70 persen dosen Fakultas Hukum UM Kendari telah bergelar doktor, sebuah angka yang mengirim sinyal serius tentang komitmen akademik. Dalam dua tahun ke depan, fakultas ini bahkan berpotensi memiliki guru besar. Tonggak prestisius bagi kampus di Indonesia Timur.
Di balik angka-angka itu, ada kultur kerja yang pelan-pelan menguat: dosen tidak hanya mengajar, tetapi meneliti; mahasiswa tidak hanya menghafal, tetapi berlatih; fakultas tidak hanya bertumbuh, tetapi bertransformasi.
Akhlak Sebelum Gelar
Di banyak fakultas hukum, kecerdasan sering ditempatkan sebagai nilai tertinggi. Di UM Kendari, Rustam memilih pendekatan berbeda: akhlak didahulukan, intelektual mengiringi.
Mahasiswa hukum tidak hanya ditempa di ruang kuliah, tetapi juga dibentuk melalui organisasi kemahasiswaan, terutama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Di sinilah nilai akhlakul karimah; kejujuran, tanggung jawab, empati, dan integritas ditanamkan sejak dini.
Dari IMM, mahasiswa kemudian menyebar ke berbagai unit kegiatan. Ada Komunitas Peradilan Semu (KPS), tempat mereka belajar beracara, berargumentasi, dan berpikir seperti praktisi hukum.

Kemudian ada juga Pusat Studi Hukum dan Debat, ruang di mana logika dipertajam, bahasa diasah, dan keberanian berbicara ditempa.
Hasilnya terasa. Mahasiswa Fakultas Hukum UM Kendari tidak hanya cerdas, tetapi juga beretika; tidak hanya kritis, tetapi juga santun.
“Di mana pun mereka berkarier, nilai etik itu ikut bersama mereka. Itu modal yang tidak bisa diukur dengan angka,” kata Rustam.
Tak mengherankan jika tim debat hukum mereka kerap meraih prestasi di tingkat regional hingga nasional. Namun bagi fakultas ini, piala bukan tujuan utama. Ia hanyalah bukti bahwa proses pendidikan berjalan di jalur yang benar.
Laboratorium Peradilan: Tempat Teori Menjadi Nyata
Di jantung fakultas berdiri Laboratorium Peradilan, ruang yang mungkin tampak sederhana, tetapi sarat makna. Di sinilah buku-buku tebal bertemu dengan praktik, pasal bertemu dengan realitas, dan mahasiswa berubah dari pembaca menjadi pelaku.
Di ruang inilah mereka belajar menyusun berkas perkara, menulis gugatan, memeriksa saksi, berperan sebagai jaksa, penasihat hukum, atau hakim. Setiap simulasi bukan sekadar latihan teknis, tetapi juga latihan mental: bagaimana tetap tenang di bawah tekanan, bagaimana berargumentasi tanpa kehilangan adab.

Dari ruang inilah pula lahir sebuah momen penting yang menggetarkan reputasi fakultas ini.
Pada ajang National Moot Court Competition (NMCC) Piala Mahkamah Agung, kompetisi peradilan semu paling bergengsi di Indonesia yang diselenggarakan Universitas Hasanuddin, Fakultas Hukum UM Kendari berhasil meraih Juara III — pada debut pertama mereka sebagai delegasi.
Persaingan tidak main-main. Dari 13 kampus peserta, sebagian besar adalah fakultas hukum negeri papan atas: Universitas Padjadjaran (juara bertahan), Universitas Jember, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Sriwijaya, Universitas Syiah Kuala, hingga UIN Alauddin Makassar. UM Kendari adalah salah satu dari hanya dua kampus swasta yang lolos sebagai delegasi.
Namun Rustam menolak membaca prestasi itu sebagai tujuan akhir.
“Kompetisi itu memang level tertinggi bagi mahasiswa hukum. Tapi yang lebih penting adalah enam bulan proses latihan, kerja tim 22 mahasiswa, dan mental yang mereka bangun,” terang mantan Asisten Ombudsman RI Perwakilan Sultra ini.

Sebelum berangkat ke Makassar, tim berlatih langsung di Pengadilan Tipikor Kendari, disaksikan oleh orang tua mereka. Bukan sekadar simulasi, tetapi ritual kedewasaan: mahasiswa belajar bertanggung jawab atas apa yang mereka ucapkan di ruang publik.
Bagi Rustam, kemenangan itu hanyalah satu fragmen dari cerita yang lebih besar: tumbuhnya kepercayaan diri fakultas ini di tingkat nasional.
Apa yang Dipetik Mahasiswa
Prestasi itu berdampak jauh melampaui podium.
Pertama, kepercayaan diri mahasiswa melonjak. Mereka menyadari bahwa kualitas mereka setara dengan kampus-kampus besar di Jawa dan nasional.
Kedua, mereka memperoleh kemahiran nyata dalam hukum acara dan praktik peradilan: menyusun berkas perkara, membuat gugatan, memeriksa saksi dan ahli, berargumentasi di persidangan, hingga memimpin jalannya sidang simulasi.
“Pengetahuan hukum saja tidak cukup. Harus ditopang dengan keterampilan praktik. Tanpa skill, pengetahuan yang luas bisa kehilangan makna,” tegas Rustam.
Tim beranggotakan 22 mahasiswa bekerja seperti sebuah firma hukum mini. Ada yang berperan sebagai hakim, jaksa, penasihat hukum, saksi, dan tim riset hukum. Sinergi inilah yang membentuk mereka menjadi calon praktisi yang matang.
Seribu Mahasiswa, Lima Ribu Alumni
Hari ini, Fakultas Hukum UM Kendari menaungi sekitar 1.000 mahasiswa aktif, dengan 23 dosen tetap yang berkomitmen pada pengajaran, riset, dan pembinaan.

Sejak berdiri pada 2001 hingga wisuda Desember lalu, fakultas ini telah melahirkan sekitar 5.000 alumni — jumlah yang terus bertambah setiap tahun.
Sebagian besar alumni bekerja di bidang yang relevan dengan hukum: mulai dari pengacara dan konsultan hukum, jaksa dan hakim, staf hukum di pemerintah kota dan provinsi, pegawai KPU dan Bawaslu, aparatur di Kantor Pertanahan dan Kementerian Hukum, anggota TNI dan Polri, hingga operator di AirNav Indonesia yang bertugas mengatur jalur penerbangan.
Jejak mereka tidak terbatas di Sulawesi Tenggara, tetapi menyebar ke seluruh Indonesia, dari ruang sidang hingga ruang kendali lalu lintas udara.
Brand yang Tumbuh dari Dalam
Jika harus dirumuskan, kekuatan branding Fakultas Hukum UM Kendari bertumpu pada tiga pilar:
Pertama, karakter. Mahasiswa dibentuk dengan nilai-nilai etika yang kokoh, bukan sekadar kecerdasan akademik.
Kedua, kompetensi. Kurikulum menekankan praktik hukum melalui laboratorium peradilan, simulasi sidang, dan kompetisi nasional.
Ketiga, reputasi yang teruji. Alumni yang tersebar di sektor strategis, serta prestasi di ajang nasional seperti NMCC Piala Mahkamah Agung.
Rustam merangkai pandangannya dengan kalimat yang tegas namun rendah hati:
“Capaian mahasiswa kami menegaskan bahwa Fakultas Hukum UM Kendari kini berdiri sebagai salah satu yang terbaik di kawasan timur Indonesia, dan siap bersaing secara nasional,” ujar Rustam.
Menempa Integritas, Mengukir Reputasi
Pada akhirnya, perjalanan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Kendari bukan sekadar kisah tentang gedung, kurikulum, atau prestasi. Ini adalah cerita tentang sebuah institusi yang bertekad menyeimbangkan ilmu dan akhlak, teori dan praktik, lokalitas dan daya saing global.
Sejalan dengan visinya — menjadi fakultas hukum yang unggul, berkemajuan, dan berlandaskan akhlakul karimah — UM Kendari terus mengasah kualitas pendidikannya: mengintegrasikan penguasaan teori dengan keterampilan praktik, mendorong penelitian hukum yang berkeadilan, memperluas pengabdian kepada masyarakat, serta membina mahasiswa menjadi insan yang beretika, mandiri, dan kompeten.
Di ruang-ruang kelas, laboratorium peradilan, organisasi kemahasiswaan, hingga panggung kompetisi nasional, integritas ditempa dan reputasi diukir perlahan.
Dan di situlah letak kekuatan sejati Fakultas Hukum UM Kendari — bukan pada gemerlapnya trofi, melainkan pada konsistensi membentuk manusia hukum yang berkarakter, profesional, dan siap berkontribusi bagi bangsa.
Rustam menutup dengan undangan yang hangat, namun berwibawa:
“Berikan ruang bagi putra-putri Anda untuk belajar di sini. Kami akan mendidik mereka dengan baik. Bukan hanya menjadi sarjana hukum, tetapi menjadi manusia hukum yang berkualitas, berintegritas, dan siap berkontribusi bagi bangsa,” tutup Rustam sambil tersenyum. (red)






