SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Humaniora
Beranda / Humaniora / Malam Kedua Ramadhan, Arsyad Junaidin Bahas Empat Golongan Dirindukan Surga

Malam Kedua Ramadhan, Arsyad Junaidin Bahas Empat Golongan Dirindukan Surga

Imam Masjid Miftahul Khair, Dr. Ir. H. Arsyad Junaidin, menandatangani buku kegiatan Ramadhan milik anak-anak usai ceramah Tarawih malam kedua di Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari.

CELEBESPOS.ID, KENDARI – Ceramah Tarawih malam kedua Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Miftahul Khair, Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Kamis malam, 19 Februari 2026, diisi oleh Imam Masjid, Dr. Ir. H. Arsyad Junaidin, MM, MCP. Dalam tausiyahnya, ia mengangkat tema tentang empat golongan manusia yang disebut dirindukan oleh surga.

Di hadapan jamaah yang memadati saf masjid, Arsyad mengawali ceramah dengan mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum perbaikan diri. Ia juga menyinggung bahwa tahun lalu, di saf yang sama, masih ada jamaah yang beribadah bersama, namun tahun ini telah dipanggil oleh Allah SWT.

“Kita doakan semoga almarhum diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, dilapangkan kuburnya, dan ditempatkan dalam rahmat Allah,” ujarnya.

Menurut Arsyad, surga bukan hanya harapan setiap Muslim, tetapi tujuan akhir kehidupan. Ia kemudian menyampaikan riwayat yang menyebutkan bahwa surga merindukan empat golongan manusia.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

Golongan pertama adalah mereka yang membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an. Ia mengutip Surah Al-Muzzammil ayat 4, “Warottilil Qur’aana tartiilaa” (Bacalah Al-Qur’an dengan tartil). Selain itu, ia mengingatkan hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa setiap huruf Al-Qur’an diganjar sepuluh kebaikan.

Golongan kedua adalah mereka yang menjaga lisan. Ia membacakan Surah Al-Ahzab ayat 70, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu ittaqullaha wa quuluu qawlan sadiidaa” (Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar). Arsyad juga mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”

Menurutnya, menjaga ucapan mencerminkan kedewasaan iman, termasuk memiliki sikap tahu diri dan tahu batas dalam berbicara.

Golongan ketiga adalah mereka yang memberi makan kepada orang yang kelaparan. Ia menjelaskan bahwa memberi takjil kepada orang yang berbuka puasa termasuk dalam kategori tersebut. Dalam ceramahnya, Arsyad mengisahkan keteladanan Sayyidina Ali r.a. yang mendahulukan orang lain yang kelaparan meski dirinya dalam keadaan kekurangan.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

Golongan keempat adalah mereka yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan penuh pengharapan kepada Allah. Ia membacakan hadis, “Man shaama Ramadhaana iimaanan wahtisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzambih” (Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu).

Di akhir ceramah, Arsyad mengajak jamaah melakukan evaluasi diri atas kualitas ibadah di bulan suci ini. Ia menegaskan bahwa Ramadhan merupakan kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbaiki akhlak.

Ceramah berlangsung khidmat. Sejumlah anak-anak terlihat mengikuti tausiyah dengan membawa buku kegiatan Ramadhan, sebagian mencatat isi ceramah dengan pendampingan orang tua mereka.

Melalui tausiyah tersebut, jamaah diingatkan bahwa surga bukan sekadar harapan, melainkan tujuan yang harus diperjuangkan melalui amal nyata dan kesungguhan dalam beribadah. (red)

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya

× Advertisement
× Advertisement