CELEBESPOS.ID, KENDARI – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 78 kejadian gempa bumi mengguncang wilayah Sulawesi Tenggara dan sekitarnya selama periode 13–19 Februari 2026. Aktivitas tersebut menunjukkan dinamika tektonik kawasan yang masih aktif, meski mayoritas gempa berkekuatan kecil.
Data Stasiun Geofisika Kendari memperlihatkan sebagian besar gempa yang terjadi merupakan gempa dangkal dengan magnitudo rendah. Dari total 78 kejadian, sebanyak 64 gempa berkekuatan di bawah magnitudo 3 (M<3), kemudian 14 gempa berada pada rentang magnitudo 3 hingga kurang dari 5 (3≤M<5), dan tidak terdapat gempa dengan magnitudo 5 atau lebih.
Petugas Operasional BMKG Stasiun Geofisika Kendari, Waode Mudhalifana, mengatakan dominasi gempa dangkal menjadi ciri aktivitas kegempaan selama sepekan terakhir.
“Gempa yang terjadi pada periode 13 hingga 19 Februari 2026 didominasi gempa dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer. Persentasenya mencapai sekitar 91 persen,” ujar Waode Mudhalifana, Jumat, 20 Februari 2026.
Secara sebaran wilayah, episenter gempa tercatat berada di sejumlah kabupaten di Sulawesi Tenggara, antara lain Konawe, Konawe Selatan, Konawe Kepulauan, Kolaka Timur, Buton, dan Buton Utara. Selain itu, aktivitas gempa juga terpantau di wilayah sekitar seperti Teluk Tomini, Laut Banda, hingga sebagian wilayah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.
Jumlah kejadian gempa tercatat fluktuatif setiap hari, dengan peningkatan aktivitas pada 18 Februari 2026 yang menjadi hari dengan jumlah gempa terbanyak dalam periode tersebut.
Waode menjelaskan, secara geologis Sulawesi Tenggara berada pada kawasan pertemuan sejumlah struktur sesar aktif dan pengaruh pergerakan lempeng tektonik, sehingga aktivitas gempa relatif sering terjadi.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Informasi resmi hanya bersumber dari BMKG,” tegasnya.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar memahami langkah mitigasi saat terjadi gempa, seperti melakukan gerakan Drop, Cover, and Hold On ketika merasakan guncangan, serta segera menjauh dari bangunan yang berpotensi roboh setelah gempa.
BMKG memastikan pemantauan aktivitas kegempaan di wilayah Sulawesi Tenggara dan sekitarnya terus dilakukan secara intensif guna memberikan informasi cepat dan akurat kepada masyarakat. (red)






