SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Humaniora
Beranda / Humaniora / Ketika Penceramah Ramadan Menghidupkan Masjid dengan Hadiah Amplop bagi Jamaah

Ketika Penceramah Ramadan Menghidupkan Masjid dengan Hadiah Amplop bagi Jamaah

H. Muhammad Kasim, S.Sos menyampaikan ceramah Ramadan malam keenam di Masjid Miftahul Khair, Anggoeya, Kendari, Senin (23 Februari 2026).

CELEBESPOS.ID, KENDARI – Suasana Ramadan malam keenam di Masjid Miftahul Khair, Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Senin, 23 Februari 2026, berlangsung khidmat namun hangat.

Ceramah yang disampaikan H. Muhammad Kasim, S.Sos, tak hanya menegaskan makna puasa dan keutamaan Al-Qur’an, tetapi juga menghadirkan pendekatan interaktif yang menghidupkan semangat jamaah, khususnya anak-anak.

Di tengah tausiyahnya, penceramah menyiapkan dua amplop berisi uang sebagai hadiah bagi anak-anak atau remaja yang mampu menjawab pertanyaan seputar wahyu Al-Qur’an. Langkah sederhana itu langsung mengubah suasana.

Anak-anak yang sebelumnya biasa bermain di luar masjid saat ceramah Ramadan berlangsung, sontak ramai-ramai masuk ke dalam masjid begitu mendengar ada pertanyaan berhadiah.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

Suasana yang semula tenang berubah menjadi lebih hidup, dipenuhi antusiasme dan tangan-tangan kecil yang terangkat ingin menjawab.

“Saya siapkan dua amplop. Siapa yang bisa menjawab, silakan maju. Ini ada isinya,” ujar Muhammad Kasim, disambut senyum jamaah.

Ceramah diawali dengan doa Nabi Musa AS dalam QS. Thaha ayat 25–28, dilanjutkan pembacaan QS. Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa. Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan bahwa Ramadan adalah kesempatan yang belum tentu terulang.

“Tidak ada jaminan kita akan bertemu Ramadan tahun depan. Karena itu, mari kita manfaatkan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya. Bisa jadi ini yang terakhir bagi kita,” katanya.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

Ia menegaskan keistimewaan puasa sebagaimana hadits qudsi yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim: “Setiap amal anak Adam dilipatgandakan sepuluh sampai tujuh ratus kali, kecuali puasa. Puasa itu untuk Allah dan Allah sendiri yang akan membalasnya.”

Menurutnya, puasa adalah ibadah yang sangat personal karena hanya Allah yang mengetahui kadar keikhlasan seorang hamba.

Muhammad Kasim juga mengingatkan bahwa Ramadan dan Al-Qur’an tidak dapat dipisahkan. Mengacu pada QS. Al-Baqarah ayat 185, ia menjelaskan bahwa bulan suci adalah momentum memperbanyak tilawah dan mendekatkan diri kepada kitab suci.

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat kepada kita di hari kiamat. Jangan pisahkan Ramadan dari membaca Al-Qur’an,” ujarnya.

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya

Dalam sesi tanya jawab, pertanyaan pertama yang diajukan adalah tentang wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menjelaskan bahwa wahyu pertama adalah QS. Al-‘Alaq ayat 1–5 dengan perintah “Iqra’”.

Pertanyaan berikutnya ayat terakhir yang turun. Ia menjelaskan bahwa salah satu pendapat kuat menyebut QS. Al-Baqarah ayat 281 sebagai ayat terakhir yang diturunkan, yang berisi peringatan agar manusia bertakwa dan menyadari akan kembali kepada Allah. Sebagian ulama juga menyebut bagian dari QS. Al-Ma’idah ayat 3 yang turun saat Haji Wada’.

Anak-anak yang berhasil menjawab pertanyaan tersebut menerima amplop hadiah secara langsung. Jamaah pun menyambut dengan apresiasi. Pendekatan sederhana ini dinilai efektif menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sekaligus membangun keberanian generasi muda untuk tampil dan belajar.

Menutup ceramah, Muhammad Kasim mengutip hadits Nabi SAW tentang keutamaan berpuasa dengan iman dan mengharap pahala yang akan menghapus dosa-dosa yang telah lalu. Ia juga mengingatkan riwayat bahwa awal Ramadan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka.

“Kalau kita yakin ini Ramadan terakhir, tentu kita tidak akan menyia-nyiakannya,” tutupnya.

Melalui metode dialogis dan apresiasi sederhana, ceramah malam itu bukan hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga menghidupkan masjid sebagai ruang pembelajaran yang hangat dan membangun. (red)

× Advertisement
× Advertisement