SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Humaniora
Beranda / Humaniora / Satu Hari Menggantikan Sebulan: Ketika Hujan di Kolaka Tak Lagi Datang Seperti Dulu

Satu Hari Menggantikan Sebulan: Ketika Hujan di Kolaka Tak Lagi Datang Seperti Dulu

CELEBESPOS.ID, KOLAKA — Di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, hujan tidak lagi sekadar soal musim. Ia kini menjadi soal intensitas, waktu, dan perubahan yang diam-diam menggeser keseimbangan alam yang selama ini dianggap stabil.

Data terbaru Stasiun Meteorologi Sangia Nibandera menunjukkan sebuah fakta yang mencolok. Pada 27 Oktober 2025, curah hujan di Kolaka tercatat mencapai 99,2 milimeter hanya dalam waktu 24 jam—angka yang hampir setara dengan total curah hujan normal bulanan.

Peristiwa itu bukan sekadar angka ekstrem dalam catatan meteorologi. Ia menjadi simbol perubahan pola hujan yang kini semakin nyata.

Kepala Stasiun Meteorologi Sangia Nibandera, Danu Triatmoko, mengatakan karakter hujan di Kolaka telah mengalami pergeseran signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

BMKG: Curah Hujan Sultra Masih Fluktuatif hingga Juni 2026, Potensi Ekstrem Tetap Ada

“Alih-alih turun secara stabil sepanjang musim, hujan kini lebih sering hadir dalam bentuk kejadian singkat namun sangat intens. Dalam beberapa kasus, satu hari hujan mampu menyumbang sebagian besar akumulasi hujan bulanan,” kata Danu dalam laporan Catatan Iklim Kolaka Edisi 2025.

Menurut dia, perubahan ini menunjukkan dinamika atmosfer yang semakin tidak stabil dibandingkan masa lalu.

Secara klimatologis, Kolaka masih berada dalam sistem monsun yang sama seperti wilayah lain di Indonesia. Musim hujan tetap terjadi, dan musim kemarau tetap datang. Namun distribusi hujan tidak lagi mengikuti pola yang konsisten.

Data BMKG menunjukkan curah hujan tahunan Kolaka pada 2025 mencapai 2.307,1 milimeter atau sekitar 15 persen di atas rata-rata normal klimatologis periode 2001–2020.

Seorang Pria Dilaporkan Jatuh dari Longboat di Perairan Ereke, Tim SAR Dikerahkan

Namun yang menjadi perhatian bukan hanya jumlahnya, melainkan cara hujan itu turun.

Alih-alih tersebar dalam banyak hari, hujan kini lebih sering terkonsentrasi dalam satu atau dua kejadian besar. Dalam kondisi seperti itu, akumulasi air yang biasanya turun perlahan selama berminggu-minggu dapat terjadi hanya dalam satu hari.

Fenomena ini mencerminkan perubahan dalam sistem atmosfer lokal, yang kini lebih sering menghasilkan hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi singkat.

Danu menjelaskan bahwa perubahan pola hujan tidak terjadi secara terpisah, melainkan berkaitan dengan perubahan parameter iklim lain, terutama suhu udara dan kelembapan.

Ratusan Warga Kendari Salat Id Lebih Awal, Ini Alasan dan Naskah Khutbah Lengkapnya

“Tren kenaikan suhu dan perubahan dinamika atmosfer meningkatkan kapasitas udara untuk menyimpan uap air. Ketika dilepaskan, energi tersebut menghasilkan hujan dengan intensitas yang lebih tinggi,” ujarnya.

Secara ilmiah, udara yang lebih hangat mampu menahan lebih banyak uap air. Ketika kondisi atmosfer memicu pembentukan awan hujan, uap air tersebut dilepaskan sekaligus, menghasilkan curah hujan yang lebih deras.

Proses ini menjelaskan mengapa hujan kini lebih sering datang dalam bentuk ekstrem, meskipun secara tahunan total curah hujan tidak selalu meningkat secara drastis.

Perubahan karakter hujan membawa konsekuensi yang nyata, terutama terhadap risiko bencana hidrometeorologi.

Ketika hujan turun dalam intensitas tinggi dalam waktu singkat, kemampuan tanah untuk menyerap air menjadi terbatas. Air lebih banyak mengalir di permukaan, meningkatkan risiko banjir genangan, banjir bandang, dan gangguan pada sistem drainase.

BMKG menilai perubahan ini menjadi tantangan baru bagi wilayah seperti Kolaka, yang memiliki kombinasi wilayah pesisir, kawasan permukiman, serta aktivitas industri dan pertambangan.

“Dinamika atmosfer yang berubah meningkatkan potensi kejadian cuaca ekstrem, yang pada akhirnya berdampak pada berbagai sektor, termasuk infrastruktur, pertanian, dan kehidupan masyarakat,” kata Danu.

Laporan iklim yang disusun BMKG didasarkan pada analisis data pengamatan selama dua dekade terakhir, periode yang secara ilmiah digunakan untuk memahami karakter iklim suatu wilayah.

Data tersebut menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi bukan sekadar variasi tahunan, melainkan bagian dari tren jangka panjang.

Bagi BMKG, informasi ini menjadi dasar penting dalam upaya mitigasi risiko bencana dan perencanaan pembangunan daerah.

Kolaka mungkin masih memiliki musim hujan dan musim kemarau. Namun cara hujan datang kini berbeda.

Bukan lagi soal berapa banyak hujan turun dalam setahun, melainkan seberapa cepat ia jatuh dalam satu waktu.

Dan dalam perubahan ritme itu, tersimpan pesan yang lebih besar: bahwa iklim, seperti waktu, tidak pernah benar-benar diam. (red)

× Advertisement
× Advertisement