CELEBESPOS.ID, KENDARI — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Miftahul Khair pada Rabu malam, 4 Maret 2026. Usai melaksanakan salat Isya, ratusan jamaah yang hadir melanjutkan ibadah salat Tarawih. Pada kesempatan itu, Ustadz Dr. La Ode Mahmud menyampaikan tausiyah Ramadan yang mengajak umat Islam merenungkan nikmat iman serta pentingnya menjaga perkataan dan perbuatan.
Di awal ceramahnya, ia mengingatkan jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang tidak terhitung jumlahnya.
“Di antara sekian banyak nikmat yang diberikan Allah kepada kita, nikmat terbesar adalah iman dan Islam. Dengan nikmat itulah kita terdorong hadir di rumah Allah malam ini untuk melaksanakan salat Isya dan Tarawih,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kesempatan bertemu kembali dengan bulan Ramadan merupakan karunia besar dari Allah SWT, yang tidak semua orang dapatkan.
“Banyak orang yang Ramadan tahun lalu masih beribadah seperti kita hari ini. Namun pada Ramadan tahun ini mereka telah dipanggil oleh Allah. Karena itu kita harus bersyukur dan berdoa semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadan di tahun-tahun mendatang,” katanya.
Dua Hal Penting yang Keluar dari Diri Manusia
Dalam ceramahnya, Ustadz La Ode Mahmud mengajak jamaah untuk merenungkan hal-hal yang keluar dari tubuh manusia.
Menurutnya, sebagian besar yang keluar dari tubuh manusia adalah sesuatu yang kotor atau tidak menyenangkan.
“Dari kepala keluar ketombe, dari telinga keluar kotoran, dari mata keluar belek, dari hidung keluar ingus. Dari kulit keluar keringat, dan dari dua lubang tubuh manusia juga keluar kotoran. Sebagian besar yang keluar dari tubuh manusia adalah sesuatu yang tidak baik,” jelasnya.
Namun, ia menegaskan bahwa ada dua hal yang keluar dari diri manusia yang memiliki potensi menjadi sangat baik atau justru sangat buruk.
“Dua hal itu adalah perbuatan dan perkataan. Jika dua hal ini juga buruk, maka hampir tidak ada lagi yang baik dari diri kita. Karena itu, kita harus memastikan bahwa yang keluar dari diri kita adalah perbuatan dan ucapan yang baik,” tuturnya.
Standar Baik dan Buruk dalam Islam
Menurutnya, ukuran baik dan buruk tidak boleh diserahkan kepada manusia, karena penilaian manusia bersifat relatif.
“Ada orang mengatakan sesuatu itu baik, tetapi bagi orang lain itu buruk. Sebaliknya ada yang dianggap buruk, namun oleh sebagian orang dianggap baik. Karena itu standar baik dan buruk harus dikembalikan kepada Allah SWT,” katanya.
Ia menegaskan bahwa sesuatu disebut baik apabila Allah menyatakan itu baik, dan sesuatu disebut buruk apabila Allah menyatakan itu buruk.
Dakwah adalah Perkataan Terbaik
Dalam ceramahnya, Ustadz La Ode Mahmud mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Fussilat ayat 33 yang menjelaskan tentang perkataan terbaik.
Ia membacakan ayat tersebut:
“Wa man ahsanu qaulan mimman da‘ā ilallāhi wa ‘amila shāliḥan wa qāla innanī minal-muslimīn.”
Artinya:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim.’” (QS. Fussilat: 33)
Ayat ini, menurutnya, menjelaskan bahwa perkataan terbaik adalah seruan menuju jalan Allah atau dakwah Islam.
“Dakwah adalah aktivitas yang sangat mulia. Para nabi diutus oleh Allah untuk menjalankan tugas ini, termasuk Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sejak menerima wahyu pertama pada 17 Ramadan, Nabi Muhammad SAW tidak pernah berhenti berdakwah dan menyeru manusia kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran.
Keteguhan Rasulullah dalam Berdakwah
Ustadz La Ode Mahmud juga mengisahkan bagaimana keteguhan Rasulullah SAW ketika menghadapi tekanan dari kaum Quraisy.
Para pemuka Quraisy pernah menawarkan berbagai hal agar Nabi Muhammad SAW menghentikan dakwahnya, mulai dari harta, kekuasaan, hingga wanita.
Namun Rasulullah menolak tawaran tersebut dengan tegas.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW menyampaikan sikapnya:
“Wallāhi law wada‘ū asy-syamsa fī yamīnī wal-qamara fī yasārī ‘alā an atruka hādzal-amra mā taraktuhu hattā yuzh-hirahu Allāhu aw ahlika dūnahu.”
Artinya:
“Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya.”
“Ini menunjukkan betapa kuat komitmen Rasulullah dalam menjalankan dakwah,” ujarnya.
Relevansi Dakwah di Zaman Sekarang
Ustadz La Ode Mahmud juga menegaskan bahwa dakwah tetap relevan hingga saat ini, karena berbagai bentuk kemaksiatan masih terjadi dalam kehidupan modern.
Ia mencontohkan tradisi jahiliyah pada masa Rasulullah yang mengubur bayi perempuan hidup-hidup karena dianggap aib.
“Jika dulu bayi perempuan dibunuh setelah lahir, hari ini bahkan ada bayi yang diaborsi sebelum diketahui jenis kelaminnya. Ini juga bentuk kezaliman,” katanya.
Selain itu, ia juga menyinggung praktik riba yang kini hadir dalam berbagai bentuk, seperti pinjaman online dan kredit berbasis bunga.
“Jika dulu ada riba, hari ini juga ada dengan berbagai variasinya. Jika dulu ada perjudian, hari ini bahkan muncul judi online yang menyebar luas melalui media sosial,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, dakwah Islam harus terus disampaikan, baik kepada individu maupun kepada penguasa.
Ia kemudian mengutip sabda Rasulullah SAW tentang keutamaan menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim:
“Afdhalul jihād kalimatul ḥaqq ‘inda sulṭānin jā’ir.”
Artinya:
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Memaksimalkan Ramadan dengan Amal Terbaik
Menutup ceramahnya, Ustadz La Ode Mahmud mengajak jamaah untuk memanfaatkan bulan Ramadan dengan memperbanyak amal kebaikan, terutama menjaga perbuatan dan perkataan.
“Mudah-mudahan perbuatan dan perkataan kita yang keluar dari diri kita adalah hal-hal yang baik. Terlebih di bulan Ramadan ini, kita bisa memaksimalkan amal saleh dan aktivitas dakwah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah,” ujarnya.
Ceramah tersebut disambut antusias oleh jamaah yang memenuhi Masjid Miftahul Khair. Banyak di antara mereka terlihat menyimak dengan khusyuk sebelum melanjutkan ibadah salat Tarawih berjamaah. (red)






