SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Humaniora
Beranda / Humaniora / Enam Pemanah Indonesia Lolos 32 Besar Conquest Cup Turki, Yudi Prasetyo Peringkat Kedua

Enam Pemanah Indonesia Lolos 32 Besar Conquest Cup Turki, Yudi Prasetyo Peringkat Kedua

Yudi Prasetyo menempati peringkat kedua babak kualifikasi Conquest Cup Fetih Kupasi 2026 di Turki. (Istimewa)

ISTANBUL, TURKI — Tim panahan tradisional Indonesia menunjukkan performa membanggakan pada ajang 14th Conquest Cup Fetih Kupasi 2026 di Istanbul, Turki. Setelah menyelesaikan babak kualifikasi yang berlangsung Kamis, 4 Juni 2026, enam atlet Merah Putih berhasil menembus babak 32 besar kategori 50 meter putra dan berhak melanjutkan perjuangan pada fase eliminasi yang digelar Jumat, 5 Juni 2026.

Keenam atlet tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia, yakni Yudi Prasetyo dari Depok, Jawa Barat, yang menempati peringkat kedua, Juliansyah dari Lampung di posisi keempat, Fahmi Karmidi dari Kalimantan Barat di peringkat ke-12, Kunto Ambio Wisanggeni dari Solo, Jawa Tengah di posisi ke-16, Dedy Suryadi dari Depok, Jawa Barat, di posisi 26, serta Achmad Syahrul Uman dari Surabaya, Jawa Timur, yang berada di peringkat ke-31.

Hasil tersebut menjadi modal berharga bagi Indonesia untuk kembali bersaing di salah satu kejuaraan panahan tradisional paling bergengsi di dunia yang diikuti para pemanah terbaik dari berbagai negara, termasuk Turki, Kazakhstan, Kirgistan, Rusia, Malaysia, hingga China.

Di antara para wakil Indonesia, Yudi Prasetyo tampil impresif dengan menempati posisi kedua pada babak kualifikasi, di bawah Murat Lukpanov dari Kazakhstan di posisi pertama. Namun, pemanah yang memperkuat Patih Indonesia itu memilih tetap merendah dan fokus menghadapi pertandingan berikutnya.

Pordasi Konawe Bidik Prestasi Nasional hingga Internasional, La Bihanas: Ini Amanah yang Berat

Alhamdulillah, tidak menyangka bisa sampai di posisi ini. Yang pasti perjuangan belum selesai. Ini baru awal. Jangan buru-buru terlena. Alhamdulillah bisa masuk 10 besar saja sudah sangat bersyukur. Artinya tinggal mempertahankan konsistensi tembakan,” ujar Yudi kepada celebespos.id, di Istanbul.

Menurut Yudi, kondisi perlengkapan yang digunakan selama pertandingan tidak mengalami kendala berarti. Tantangan terbesar justru menjaga kondisi fisik dan mengatur waktu istirahat di tengah jadwal pertandingan yang padat.

“Untuk alat Alhamdulillah aman. Tinggal istirahatnya saja yang harus diatur,” katanya.

Pada Jumat hari ini, 5 Juni 2026, para atlet yang lolos akan kembali bertanding pada babak eliminasi untuk memperebutkan tiket menuju 16 besar dan selanjutnya delapan besar.

Sekum KONI Konawe: Pordasi Bukan Sekadar Olahraga, Bisa Jadi Jalan Pembinaan Generasi Muda

Yudi mengaku berusaha menikmati setiap proses pertandingan tanpa terlalu memikirkan hasil akhir.

“Besok berebut 16 besar. Mudah-mudahan Allah memberikan ketepatan. Kita hanya berusaha di sini. Ikhtiar sudah, berdoa sudah, sekarang tinggal menikmati pertandingan. Jangan terlalu dipikirkan menang atau kalah. Sudah biasa, ini permainan. Yang penting kita nikmati saja. Kita sudah jauh-jauh datang ke sini. Kalau terlalu tegang, percuma,” ujarnya.

Bagi Yudi, keikutsertaannya di Turki juga menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Ini merupakan kali pertama dirinya tampil di negeri yang dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan panahan tradisional dunia.

“Baru pertama ke Turki. Alhamdulillah Allah izinkan punya kesempatan datang ke sini. Kami juga mendapat dukungan penuh dari Patih Indonesia sehingga bisa mengikuti kejuaraan ini,” tuturnya.

Pordasi Konawe Lahir, Olahraga Berkuda Disiapkan Jadi Wadah Pembinaan Generasi Muda

Sementara itu, hasil kualifikasi juga menghadirkan persaingan yang sangat ketat di batas akhir zona 32 besar. Tercatat tiga pemanah memiliki total nilai yang sama, yakni Achmad Syahrul Uman (Indonesia) di peringkat 31, Mehmet Haktan Altıntaş (Turki) di peringkat 32, dan Al Junar (Indonesia) di peringkat 33. Ketiganya sama-sama mengumpulkan 54 poin.

Meski memiliki total nilai yang identik, panitia menggunakan sistem penentuan peringkat berdasarkan Center Ring Score, yakni jumlah tembakan yang tepat mengenai lingkaran tengah sasaran.

Achmad Syahrul Uman dan Mehmet Haktan Altıntaş sama-sama mencatat 18 poin center ring sehingga berhak menempati posisi 31 dan 32. Sementara Al Junar yang mengumpulkan 12 poin center ring harus berada di posisi 33 meski memiliki total nilai yang sama.

Menariknya, pemanah asal Konawe, Sulawesi Tenggara, tersebut justru mencatat 42 hit score atau jumlah anak panah yang mengenai sasaran, lebih banyak dibanding dua atlet di atasnya yang masing-masing mengoleksi 36 hit score. Namun sesuai regulasi pertandingan, nilai center ring menjadi faktor pembeda utama ketika terjadi kesamaan poin.

Alhasil, Al Junar harus puas berada satu tingkat di bawah batas zona 32 besar. Meski demikian, penampilannya tetap mendapat apresiasi karena mampu bersaing ketat dengan atlet-atlet terbaik dunia dan hanya terpaut satu peringkat dari zona eliminasi.

Sulawesi Tenggara sendiri mengirim empat atlet pada ajang ini, yakni Al Junar dari Konawe, Syafrul dari Kolaka, serta dua putri: Hasnawati dari Konawe, dan Meriyanti dari Sulawesi Tenggara yang baru akan turun bertanding Jumat hari ini. Mereka bergabung bersama atlet-atlet dari berbagai daerah yang memperkuat kontingen Indonesia.

Official Tim Indonesia asal Kendari, Saharudin atau yang akrab disapa Mr. Saha, mengatakan para atlet juga harus beradaptasi dengan kondisi alam yang berbeda dari Indonesia selama berada di Turki.

Menurutnya, suhu udara di Istanbul saat ini mencapai sekitar 33 derajat Celsius, hampir sama dengan suhu siang hari di Indonesia. Namun yang paling mencolok adalah panjangnya waktu siang pada musim panas.

“Jam 9 malam baru mulai tenggelam matahari,” kata Mr. Saha.

Ia menjelaskan bahwa suasana benar-benar gelap baru terasa sekitar pukul 22.30 waktu setempat, sedangkan langit mulai terang kembali sekitar pukul 03.30 dini hari.

“Isya jam 10.30 malam. Baru satu jam setengah dia gelap ini bumi. Jam 3.30 sudah pagi lagi, terang lagi dunia. Siangnya lama sekali,” ujarnya.

Meski harus beradaptasi dengan siang yang sangat panjang, para atlet Indonesia tetap fokus menjaga kondisi fisik dan mental demi menghadapi pertandingan berikutnya.

Conquest Cup Fetih Kupasi merupakan turnamen panahan tradisional internasional yang digelar setiap tahun untuk memperingati Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453. Ajang ini dikenal sebagai salah satu kejuaraan panahan tradisional paling prestisius di dunia.

Indonesia sendiri memiliki rekam jejak membanggakan di kompetisi tersebut. Pada edisi 2024, Indonesia berhasil meraih juara 1 dan juara 2 dunia. Sementara pada tahun 2025, Merah Putih kembali menunjukkan eksistensinya dengan meraih posisi juara 3 dunia.

Kini, harapan kembali disematkan kepada lima wakil Indonesia yang berhasil menembus babak 32 besar. Di tengah persaingan para pemanah terbaik dunia dan musim panas Istanbul yang menghadirkan siang hampir tanpa akhir, mereka akan kembali membidik satu tujuan yang sama: mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional. (red)

× Advertisement
× Advertisement