CELEBESPOS.ID, KENDARI – Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Sulawesi Tenggara (Sultra) mendorong olahraga berkuda tidak hanya berkembang sebagai cabang olahraga prestasi dan destinasi wisata, tetapi juga menjadi bagian dari industri olahraga atau sport industry yang mampu menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Gagasan tersebut disampaikan pengurus Pordasi Sultra saat melakukan audiensi dengan Wakil Gubernur Sultra Hugua di ruang kerjanya, Kantor Gubernur Sultra, Senin (24/8/2026).
Dalam audiensi tersebut, Ketua Pordasi Sultra Saharudin hadir didampingi Sekretaris Pordasi Sultra Idham dan Ketua Pordasi Konawe Selatan La Mimin.

Di hadapan Wagub, Saharudin yang akrab disapa Mr. Saha memaparkan perkembangan Pordasi Sultra yang terbentuk pada 2024. Meski masih relatif muda, organisasi ini mulai menunjukkan kiprah dengan mengikuti sejumlah ajang olahraga berkuda, termasuk PON di Aceh dan event pacuan kuda di Makassar.
Dalam event pacuan kuda di Makassar, kontingen Sultra berhasil meraih posisi juara kedua.
Menurut Mr. Saha, capaian tersebut menjadi salah satu pijakan untuk memperkuat pembinaan olahraga berkuda di Sultra. Upaya itu dilakukan bersamaan dengan mendorong tumbuhnya stable atau pusat pemeliharaan dan pembinaan kuda serta memperluas struktur organisasi Pordasi di kabupaten/kota.

Hingga kini, Pordasi Sultra telah memiliki tujuh Pengurus Cabang (Pengcab) dari target 17 kabupaten/kota.
“Jadi bukan hanya olahraganya yang kami dorong, tetapi juga stable-stable. Kami ingin bagaimana olahraga berkuda ini tumbuh dari bawah, kemudian ada pembinaan atlet, kuda dan organisasinya,” ujar Saharudin.
Sebagai induk organisasi olahraga berkuda di Indonesia, Pordasi menaungi berbagai disiplin olahraga berkuda, tidak hanya pacuan kuda. Di dalamnya terdapat equestrian, endurance, polo berkuda hingga horseback archery.
Keragaman nomor tersebut membuka ruang pembinaan yang luas. Equestrian mencakup nomor seperti dressage, jumping dan eventing. Sementara horseback archery menggabungkan kemampuan menunggang kuda dengan keterampilan memanah. Adapun endurance menuntut ketahanan kuda dan penunggangnya dalam menempuh lintasan jarak jauh.

Bagi Pordasi Sultra, keragaman tersebut menunjukkan bahwa olahraga berkuda memiliki rantai aktivitas yang panjang. Ada atlet, pelatih, pemilik stable, peternak kuda, pengelola arena, penyelenggara pertandingan, komunitas, hingga pelaku usaha yang menyediakan berbagai kebutuhan olahraga.
Dari ekosistem itu, Pordasi melihat peluang membawa olahraga berkuda masuk ke ranah sport industry.
Sebuah event berkuda, misalnya, dapat menjadi magnet bagi peserta dan penonton dari luar daerah. Kehadiran mereka kemudian berpotensi menghidupkan kebutuhan akomodasi, transportasi, kuliner, perlengkapan olahraga, jasa pelatihan hingga produk ekonomi kreatif masyarakat.
Dalam waktu dekat, Pordasi Sultra berencana menggelar event terbuka Horseback Archery (HBA) di Stable Agrowisata California, Cialam, Kabupaten Konawe Selatan.
Kegiatan tersebut diarahkan agar tidak lagi sebatas agenda komunitas, tetapi berkembang menjadi event yang mendatangkan peserta dari berbagai daerah. Pordasi Sultra juga tengah membuka peluang penyelenggaraan nomor endurance dengan melibatkan peserta dari Indonesia dan Malaysia serta negara tetangga lainnya.
Untuk nomor endurance, Mr. Saha sendiri memiliki pengalaman mengikuti sejumlah event di luar Sultra. Ia pernah mengikuti event endurance di Bromo, Jawa Timur, serta Subang dan Purwakarta, Jawa Barat.
Dalam waktu dekat, Saharudin juga akan mengikuti latihan bersama di Malang sebagai persiapan menghadapi event endurance Ranca Bali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal Pordasi Sultra dalam menyiapkan pengembangan endurance di daerah. Selain pengalaman bertanding, jejaring yang terbentuk dari berbagai event endurance di luar Sultra juga dapat membuka peluang pertukaran pengalaman dan pengembangan kegiatan di daerah.
Saharudin juga menyampaikan bahwa Pordasi Sultra baru saja melakukan penjajakan ke Kabupaten Bombana. Dalam kunjungan tersebut, pengurus Pordasi Sultra bersilaturahmi dengan pengurus Pordasi Bombana sekaligus melihat potensi lokasi yang dapat dikembangkan sebagai arena endurance.
“Kemarin baru saja kami ke Bombana. Kami bersilaturahmi dengan teman-teman pengurus Pordasi Bombana. Di sana ada spot yang bagus untuk dijadikan arena endurance,” ujarnya.
Dua lokasi yang menjadi pilihan adalah kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai dan kawasan Pajongang.
Menurut Pordasi Sultra, karakter alam di kawasan tersebut dapat mendukung penyelenggaraan endurance. Lebih jauh, pemanfaatan lanskap alam sebagai arena pertandingan memungkinkan olahraga dan wisata dikembangkan dalam satu paket.
Sementara itu, Ketua Pordasi Konawe Selatan La Mimin mengatakan Stable Agrowisata California disiapkan sebagai salah satu lokasi penting dalam pengembangan HBA di Sultra.
Ia menjelaskan bahwa selama ini kegiatan HBA masih lebih banyak dilakukan secara internal. Ke depan, Pordasi Konawe Selatan ingin membawa kegiatan tersebut ke level yang lebih besar dengan target menjadi event bertaraf nasional.
“Ini olahraga sunnah. Sehat dan dapat pahala. Selama ini HBA yang kami laksanakan masih bersifat internal. Ke depan kami ingin mengembangkannya menjadi event bertaraf nasional,” kata La Mimin.
Menurut La Mimin, kekuatan HBA dan olahraga berkuda secara umum bukan hanya terletak pada aspek kompetisinya. Ketika sebuah event menghadirkan peserta dari luar daerah, kegiatan tersebut otomatis menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.
Peserta dan pendamping membutuhkan tempat menginap, makanan, transportasi dan berbagai layanan selama berada di lokasi. Di saat yang sama, masyarakat dapat memperoleh peluang dari penjualan produk lokal dan jasa yang berkaitan dengan kegiatan tersebut.
Karena itu, ia melihat Stable Agrowisata California tidak sekadar sebagai tempat pertandingan, tetapi dapat menjadi bagian dari pengembangan industri pariwisata berbasis olahraga.
“Olahraga berkuda ini bukan hanya soal pertandingan. Ada nilai wisatanya, tetapi lebih dari itu bisa menjadi industri pariwisata. Orang datang karena event, kemudian tinggal beberapa hari, menikmati kawasan, menggunakan jasa masyarakat dan membeli produk lokal,” ujarnya.
Gagasan Pordasi Sultra tersebut mendapat respons positif dari Wakil Gubernur Sultra Hugua.
Hugua menilai olahraga berkuda memiliki peluang dikembangkan di Sulawesi Tenggara karena dapat dipadukan dengan potensi alam dan pariwisata daerah. Menurutnya, kegiatan olahraga yang dikemas secara baik dapat sekaligus menjadi media promosi destinasi dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Ini bagus. Walaupun sekarang kita masih dalam kondisi efisiensi anggaran, pemerintah provinsi harus tetap memikirkan hal-hal seperti ini. Tinggal kita hubungkan ke mana supaya bisa berjalan,” kata Hugua.
Hugua menekankan bahwa gagasan tersebut perlu diarahkan pada konsep yang jelas dan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pordasi, menurutnya, perlu membangun hubungan dengan perangkat daerah maupun pihak lain yang memiliki keterkaitan dengan olahraga, pariwisata dan ekonomi kreatif.
Dengan pola kolaborasi tersebut, event berkuda dapat memiliki manfaat yang lebih luas. Peserta dari luar daerah dan mancanegara tidak hanya datang untuk bertanding, tetapi juga menjadi bagian dari arus kunjungan wisata ke Sultra.
Bagi Pordasi Sultra, audiensi ini menjadi langkah awal untuk membuka ruang kerja sama dengan pemerintah daerah. Penguatan tujuh Pengcab yang sudah terbentuk, perluasan organisasi menuju 17 kabupaten/kota, serta pengalaman mengikuti kompetisi di tingkat nasional menjadi bagian dari fondasi pengembangan olahraga berkuda di Sultra.
Target akhirnya bukan sekadar menambah jumlah pertandingan. Pordasi ingin membangun ekosistem yang mempertemukan olahraga, wisata, komunitas, dunia usaha dan masyarakat.
Jika rencana HBA serta endurance dengan peserta Indonesia dan Malaysia dapat direalisasikan, olahraga berkuda dapat menjadi salah satu pintu masuk baru bagi Sultra untuk mengembangkan sport industry sekaligus memperkenalkan potensi daerah kepada wisatawan dari dalam maupun luar negeri. (*)

