SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Humaniora
Beranda / Humaniora / Pordasi Konawe Lahir, Olahraga Berkuda Disiapkan Jadi Wadah Pembinaan Generasi Muda

Pordasi Konawe Lahir, Olahraga Berkuda Disiapkan Jadi Wadah Pembinaan Generasi Muda

Pengurus Pordasi Konawe bersama jajaran KONI dan Pordasi Sulawesi Tenggara usai Musyawarah Pembentukan Pordasi Kabupaten Konawe periode 2026–2030.

CELEBESPOS.ID, KONAWE — Olahraga berkuda mulai menapakkan langkah baru di Kabupaten Konawe. Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kabupaten Konawe resmi dibentuk melalui musyawarah pembentukan pengurus periode 2026–2030 yang digelar di Ruang Rapat Yayasan Hidayatullah Konawe, Kecamatan Anggaberi, Sabtu (12/9/2026).

Dalam musyawarah tersebut, La Bihanas, S.Pd., M.M. dipercaya memimpin Pordasi Kabupaten Konawe untuk masa bakti 2026–2030.

Pembentukan organisasi ini bukan sekadar menambah satu lagi wadah olahraga di Konawe. Di baliknya, tersimpan ambisi yang lebih besar: menjadikan olahraga berkuda sebagai ruang pembinaan generasi muda sekaligus membuka jalan lahirnya atlet-atlet Konawe yang mampu bersaing hingga tingkat nasional dan internasional.

Musyawarah tersebut dihadiri Ketua Pordasi Sulawesi Tenggara Saharuddin, yang akrab disapa Mr. Saha, jajaran pengurus Pordasi Sultra, Sekretaris Umum KONI Konawe Cecep Supria Yudowono, S.Pd., M.Pd., serta sejumlah calon pengurus Pordasi Konawe.

Pordasi Konawe Bidik Prestasi Nasional hingga Internasional, La Bihanas: Ini Amanah yang Berat

Sekum KONI Konawe Cecep Supria Yudowono menyampaikan dukungan Ketua KONI Konawe terhadap terbentuknya organisasi tersebut. Menurutnya, olahraga berkuda memiliki keunikan karena selain menjadi aktivitas olahraga, berkuda juga memiliki nilai historis dan religius.

Sekum KONI Konawe, Cecep Supria Yudowono, S.Pd., M.Pd., saat memberikan sambutan pada Musyawarah Pembentukan Pengurus Pordasi Kabupaten Konawe.

“Olahraga berkuda merupakan salah satu olahraga tertua di dunia. Bahkan termasuk olahraga yang disunahkan,” ujar Cecep dalam sambutannya.

Ia melihat olahraga berkuda memiliki peluang besar dikembangkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Menurut dia, keberadaan Pordasi dapat menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan pembinaan olahraga.

Jika fasilitas kuda belum tersedia di Konawe, kata dia, bukan berarti pembinaan harus berhenti. Justru para pengurus dapat mendatangi lokasi atau stable yang telah memiliki fasilitas latihan.

Sekum KONI Konawe: Pordasi Bukan Sekadar Olahraga, Bisa Jadi Jalan Pembinaan Generasi Muda

“Kalau kuda tidak ada di sini, kita yang mendekati, kita yang menuju ke tempat kuda,” katanya.

Cecep juga menilai pembinaan olahraga berkuda dapat menjadi bagian dari upaya menyediakan kegiatan positif bagi generasi muda. Anak-anak yang memiliki aktivitas olahraga secara rutin dinilai akan memiliki ruang yang lebih sehat untuk menyalurkan energi dan minat mereka.

Gagasan tersebut sejalan dengan visi Pordasi Sultra yang ingin memperluas pembinaan olahraga berkuda hingga ke kabupaten dan kota.

Ketua Pordasi Sultra Saharuddin mengatakan pembentukan Pordasi Konawe merupakan langkah awal yang harus segera diikuti dengan kerja nyata.

Dari SD Negeri 1 Raha ke Panggung Akademik Internasional, Dua Putri Muna Dipertemukan dalam IGLOPAS 2026

Ketua Pordasi Sulawesi Tenggara, Saharuddin (Mr. Saha), saat memberikan sambutan pada Musyawarah Pembentukan Pengurus Pordasi Kabupaten Konawe periode 2026–2030.

“Ukuran keberhasilan kita bukan hanya pada musyawarah hari ini, tetapi apa yang bisa kita kerjakan dan seperti apa yang akan kita kerjakan pada masa-masa yang akan datang,” ujarnya.

Mr. Saha -sapaan akrab Saharuddin- juga menjawab keraguan yang selama ini kerap muncul: bagaimana mengurus Pordasi jika daerah belum memiliki kuda?

Menurut dia, inti dari organisasi olahraga bukan sekadar memiliki peralatan atau fasilitas, tetapi bagaimana mengelola olahraga dan membina atlet.

“Kalau sepak bola, kita membutuhkan bola, sepatu dan lapangan. Kalau olahraga berkuda, kita membutuhkan kuda. Tetapi yang kita kelola sebenarnya adalah atlet dan olahraganya,” katanya.

Owner Agrowisata California ini bahkan melihat olahraga berkuda sebagai salah satu bentuk dakwah melalui olahraga dan sunah Rasulullah SAW.

Menurut Mr. Saha, olahraga berkuda dapat menjadi sarana membangun karakter sekaligus mencetak atlet. Karena itu, persoalan fasilitas tidak boleh menjadi alasan untuk tidak memulai.

Yang tidak kalah penting, kata dia, seluruh proses pembentukan organisasi harus berjalan sesuai aturan.

“Kalau kita mengatakan dimudahkan, maksudnya langkah dan prosesnya kita sederhanakan. Tetapi bukan berarti semuanya dibuat asal jadi,” ujarnya.

Ia menegaskan, aturan justru harus menjadi fondasi organisasi agar Pordasi di daerah dapat tumbuh secara sehat dan memiliki legitimasi yang kuat.

Sementara itu, Ketua Pordasi Konawe terpilih La Bihanas mengakui amanah yang diterimanya bukan pekerjaan ringan.

Ketua Pordasi Konawe terpilih, La Bihanas, S.Pd., M.M., saat menyampaikan sambutan dalam Musyawarah Pembentukan Pengurus Pordasi Kabupaten Konawe periode 2026–2030.

Target yang dibidik, katanya, tidak berhenti pada level kabupaten. Ia ingin Pordasi Konawe mampu melahirkan atlet yang berprestasi di tingkat nasional bahkan internasional.

“Target kita bukan hanya sekadar kabupaten, nasional, termasuk internasional. Ini agak berat, tapi insyaallah Allah memudahkan,” kata La Bihanas.

Ia menyadari dirinya dan sebagian pengurus belum memiliki pengalaman panjang dalam olahraga berkuda. Namun justru kondisi tersebut dipandang sebagai tantangan untuk belajar dan membangun organisasi secara bersama-sama.

Karena itu, ia berencana memperkuat komunikasi dengan KONI Konawe, Pordasi Sultra, komunitas berkuda, lembaga pendidikan, serta organisasi kemasyarakatan yang memiliki perhatian terhadap pembinaan generasi muda.

La Bihanas juga melihat peluang mengembangkan olahraga berkuda melalui sekolah.

Jika memungkinkan, ke depan Konawe akan memiliki fasilitas sendiri berupa stable atau kandang kuda yang dapat digunakan untuk pembinaan atlet sekaligus kegiatan olahraga masyarakat.

Lebih jauh, ia membuka peluang kolaborasi dengan berbagai organisasi dan komunitas, termasuk lembaga keagamaan dan organisasi kemasyarakatan.

“Kuda ini bukan hanya sekadar olahraga. Di dalamnya ada nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai keagamaan yang harus kita ingat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya dukungan pembiayaan. Menurutnya, organisasi olahraga tidak mungkin bergerak optimal tanpa sumber dana yang sehat dan berkelanjutan.

“Dana juga sangat penting. Dana merupakan bagian penting dalam organisasi. Kalau dana tidak ada, tentu kita akan kesulitan bergerak,” katanya.

Menariknya, proses pembentukan Pordasi Konawe juga memperlihatkan kuatnya semangat para pengurus Pordasi Sultra. Mr. Saha menceritakan bagaimana salah satu senior pemerhati Pordasi, Amiruddin, ikut mendorong pembentukan Pordasi di Konawe.

Keraguan soal fasilitas dan kuda yang sempat muncul akhirnya dijawab dengan keberanian untuk memulai.

Bagi La Bihanas, kehadiran para senior Pordasi menjadi energi tersendiri. Ia secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Sekum Pordasi Sulawesi Tenggara, Idham, salah satu senior olahraga yang hadir sejak pagi, jauh sebelum acara dimulai.

Musyawarah tersebut akhirnya menjadi titik awal perjalanan Pordasi Konawe.

Cecep Supria Yudowono kemudian menutup rangkaian musyawarah dengan pesan agar pengurus yang terbentuk tidak berhenti pada seremoni organisasi.

Sebab, sebagaimana ia katakan, tantangan sesungguhnya bukan ketika nama pengurus diumumkan, melainkan ketika organisasi mulai bekerja.

Bagi Konawe, kini sebuah pintu baru telah dibuka. Dari sebuah musyawarah sederhana di ruang rapat Yayasan Hidayatullah, lahir sebuah organisasi yang membawa mimpi cukup besar: membuat olahraga berkuda tidak lagi menjadi sesuatu yang asing di Konawe.

Dan dari sana, perjalanan panjang mencari kuda, membina atlet, membangun fasilitas, menguatkan organisasi hingga mengejar prestasi pun dimulai. (red)

× Advertisement
× Advertisement