CELEBESPOS.ID, KONAWE – Tepuk tangan dan optimisme mengiringi lahirnya Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kabupaten Konawe. Namun bagi Sekretaris Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Konawe, Cecep Supria Yudowono, S.Pd., M.Pd., pembentukan organisasi itu bukan sekadar menambah daftar cabang olahraga di daerah.
Ada sesuatu yang lebih besar yang ia lihat: olahraga berkuda dapat menjadi ruang pembinaan anak-anak muda sekaligus sarana memperkenalkan olahraga yang memiliki akar tradisi dan nilai keagamaan.
Pesan itu disampaikan Cecep saat menghadiri Musyawarah Pembentukan Pengurus Pordasi Kabupaten Konawe periode 2026–2030 di Ruang Rapat Yayasan Hidayatullah Konawe, Kecamatan Anggaberi, Sabtu (12/9/2026).
Cecep hadir mewakili Ketua KONI Kabupaten Konawe yang berhalangan hadir karena agenda lain yang telah terjadwal. Ia membawa pesan dukungan agar Pordasi Konawe tidak berhenti pada seremoni pembentukan kepengurusan, tetapi segera bergerak membangun pembinaan olahraga berkuda.
Menurut Cecep, berkuda memiliki posisi yang berbeda dibandingkan sejumlah cabang olahraga lainnya. Selain sebagai aktivitas fisik, berkuda memiliki sejarah panjang dalam peradaban manusia dan dikenal sebagai salah satu olahraga yang dianjurkan dalam tradisi Islam.
“Olahraga berkuda merupakan salah satu olahraga tertua di dunia. Bahkan olahraga berkuda juga termasuk olahraga yang disunahkan,” ujarnya.
Bagi Cecep, perpaduan antara olahraga dan nilai spiritual itu menjadi keunggulan tersendiri.
“Kalau kita menghidupkan sunah Rasul, insyaallah luar biasa. Kita mendapatkan manfaat kesehatan sekaligus mendapatkan nilai ibadah,” katanya.
Dari sana, ia melihat peluang yang lebih luas: sekolah.
Cecep mendorong agar olahraga berkuda kelak dapat diperkenalkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah, menurut dia, merupakan salah satu pintu paling strategis untuk mengenalkan olahraga kepada anak sejak dini.
Persoalan fasilitas tidak boleh menjadi penghalang.
Jika belum tersedia kuda di Konawe, kata Cecep, para pengelola olahraga tidak harus menunggu sampai fasilitas itu tersedia. Mereka dapat membawa peserta didik menuju lokasi atau stable yang sudah memiliki fasilitas berkuda.
“Kalau kuda tidak ada di sini, kita yang mendekati, kita yang menuju ke tempat kuda,” ujarnya.
Gagasan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana Cecep memandang olahraga sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Anak-anak yang memiliki kegiatan positif, menurut dia, akan memiliki ruang untuk mengembangkan diri. Mereka memiliki jadwal latihan, belajar disiplin, kemudian kembali ke rumah untuk mengerjakan tugas sekolah.
Sebaliknya, ketika anak-anak tidak memiliki kegiatan, ruang kosong itu bisa saja diisi oleh aktivitas yang tidak produktif.
Karena itu, olahraga berkuda diharapkan tidak hanya melahirkan atlet, tetapi juga menciptakan lingkungan pembinaan yang sehat bagi generasi muda Konawe.
“Ini merupakan sebuah kegiatan ekstrakurikuler yang sangat potensial. Saya yakin banyak anak-anak yang akan tertarik,” katanya.
Cecep juga menaruh perhatian pada aspek organisasi. Kehadiran Pordasi Konawe harus dibangun dengan tata kelola yang baik, termasuk mengikuti mekanisme dan administrasi keolahragaan yang berlaku.
Ia menyebut pengalaman para senior di KONI Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi penting untuk membantu pengurus baru memahami tahapan organisasi.
Di tengah optimisme itu, Cecep juga menyadari perjalanan Pordasi Konawe tidak akan selalu mudah. Organisasi yang baru lahir membutuhkan fasilitas, atlet, pelatih, pembiayaan dan sistem pembinaan yang berkelanjutan.
Namun justru dari kondisi awal itulah pekerjaan besar dimulai.
Ketua Pordasi Sulawesi Tenggara, Saharuddin atau Mr. Saha, sebelumnya juga menegaskan bahwa ketiadaan kuda bukan alasan untuk tidak membangun Pordasi.
Yang harus dikelola, menurutnya, bukan hanya kudanya, melainkan olahraga dan atletnya.
Pandangan itu menemukan titik temu dengan gagasan Cecep. Pordasi Konawe kini memiliki organisasi. Berikutnya adalah bagaimana organisasi tersebut menemukan atlet, membangun pelatih, mencari fasilitas, dan menciptakan kompetisi.
Cecep pun menyampaikan pesan Ketua KONI Konawe agar kepengurusan baru dapat bekerja bersama-sama untuk membawa olahraga berkuda menjadi salah satu kekuatan baru olahraga di daerah itu.
Ia berharap, dari Konawe akan lahir bibit-bibit atlet berkuda yang suatu saat bukan hanya berbicara di tingkat kabupaten, tetapi mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
Menariknya, optimisme itu muncul di tengah kenyataan bahwa olahraga berkuda masih tergolong baru bagi Konawe.
Tetapi justru di situlah letak tantangannya.
Konawe tidak harus menunggu memiliki segalanya untuk memulai. Organisasi telah dibentuk. Para pengurus telah menerima amanah. Kini pekerjaan berikutnya adalah membangun ekosistemnya.
Dari sekolah, dari komunitas, dari stable, dari para pelatih dan dari anak-anak muda yang mulai mengenal olahraga berkuda.
“Olahraga ini harus disosialisasikan dengan baik dan tidak meninggalkan nilai-nilai ibadah,” kata Cecep.
Musyawarah itu akhirnya ditutup dengan satu harapan sederhana tetapi besar: Pordasi Konawe tidak hanya menjadi nama di atas struktur kepengurusan, melainkan tumbuh menjadi rumah bagi atlet-atlet muda dan bagian dari masa depan olahraga Konawe. (red)

