SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Humaniora
Beranda / Humaniora / Bawa Nama Indonesia, Remaja 15 Tahun Tembus 16 Besar Dunia di Fetih Kupasi Turki Kelas Zhamby

Bawa Nama Indonesia, Remaja 15 Tahun Tembus 16 Besar Dunia di Fetih Kupasi Turki Kelas Zhamby

Suasana pertandingan panahan tradisional internasional pada ajang Conquest Cup Fetih Kupasi 2026 di Istanbul, Turki. (Istimewa)

CELEBESPOS.ID, ISTANBUL – Kontingen panahan tradisional Indonesia kembali mencatatkan prestasi membanggakan di ajang 14th Conquest Cup Fetih Kupasi 2026 yang berlangsung di Istanbul, Turki. Salah satu sorotan datang dari Muhammad Ata Arsyad, remaja berusia 15 tahun asal Surabaya yang berhasil membawa Indonesia menembus babak 16 besar dunia pada kategori Zhamby putra.

Muhammad Ata Arsyad asal Surabaya menjadi satu dari tiga atlet Indonesia yang berhasil lolos ke babak 16 besar kategori Zhamby 30 meter. Dua atlet lainnya adalah Juliansyah asal Lampung dan Yudi Prasetyo dari Depok, Jawa Barat.

Berdasarkan hasil resmi kualifikasi, Juliansyah tampil sebagai wakil Indonesia terbaik dengan mengumpulkan 16 poin dan menempati peringkat kedua. Sementara Muhammad Ata Arsyad berada di peringkat ke-12 dengan 12 poin, sedangkan Yudi Prasetyo menempati posisi ke-15 dengan raihan 11 poin.

Keberhasilan Muhammad Ata Arsyad menjadi perhatian tersendiri. Di usia yang masih sangat muda, ia mampu bersaing dengan para pemanah senior dari berbagai negara dan menembus jajaran 16 besar dalam salah satu kejuaraan panahan tradisional paling bergengsi di dunia.

Menghilang di Kebun, Bocah 12 Tahun di Konawe Selatan Ditemukan 462 Meter dari LKP

Kategori Zhamby sendiri merupakan salah satu nomor favorit dalam Fetih Kupasi. Berbeda dengan nomor FK 50 meter yang menggunakan sistem akumulasi skor berdasarkan nilai setiap tembakan, kategori Zhamby mengutamakan jumlah kenaan atau hit pada sasaran benda kecil yang digantung. Semakin banyak anak panah yang mengenai target, semakin besar peluang atlet untuk melaju ke babak berikutnya.

Official Tim Indonesia, Saharudin atau yang akrab disapa Mr. Saha, mengatakan hasil yang diraih para atlet menjadi bukti bahwa pembinaan panahan tradisional Indonesia mampu bersaing di level internasional.

Alhamdulillah, atlet-atlet Indonesia mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya. Persaingan di sini sangat ketat karena diikuti peserta dari banyak negara yang memang memiliki tradisi panahan yang kuat. Namun para atlet kita mampu tampil percaya diri dan memberikan hasil yang membanggakan,” ujar Mr. Saha dari Istanbul, Jumat, 5 Juni 2026.

Menurut Ketua Pordasi Sulawesi Tenggara tersebut, para atlet Indonesia juga harus beradaptasi dengan kondisi alam yang berbeda dari Indonesia selama mengikuti kompetisi di Turki.

Pergi Memancing, Nelayan di Buton Hilang, Longboat Ditemukan Terdampar

Meski suhu udara mencapai sekitar 33 derajat Celsius, hampir sama dengan Indonesia, panjangnya waktu siang menjadi pengalaman yang tidak biasa bagi para atlet.

“Di sini jam sembilan malam baru mulai tenggelam matahari. Isya sekitar jam 10.30 malam dan gelapnya hanya sebentar. Sekitar jam 03.30 pagi sudah terang lagi. Siangnya memang sangat panjang,” kata Mr. Saha.

Sementara itu, Yudi Prasetyo mengaku bersyukur atas hasil yang diraihnya dan memilih tetap fokus menghadapi pertandingan berikutnya.

Alhamdulillah tidak menyangka. Yang pasti perjuangan belum selesai. Ini baru awal, jangan buru-buru terlena. Kita hanya berusaha, ikhtiar dan berdoa. Tinggal menikmati pertandingan saja,” ujar Yudi.

Hari Kedua Pencarian, Bocah Hilang di Konawe Selatan Masih Belum Ditemukan

Ia mengatakan kondisi peralatan yang digunakan selama pertandingan tidak mengalami kendala berarti. Fokus utamanya saat ini adalah menjaga kondisi fisik dan mengatur waktu istirahat menjelang babak eliminasi.

Alhamdulillah alat aman. Tinggal istirahat yang harus diatur. Mudah-mudahan Allah memberikan ketepatan. Jangan terlalu dipikirkan menang atau kalah. Yang penting kita nikmati pertandingan ini,” katanya.

Ajang Conquest Cup Fetih Kupasi merupakan salah satu kejuaraan panahan tradisional paling bergengsi di dunia yang digelar setiap tahun untuk memperingati Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih. Tahun ini, kategori Zhamby putra diikuti lebih dari 200 peserta dari berbagai negara, termasuk Turki, Kazakhstan, Kirgistan, Rusia, Malaysia, Thailand, China, Korea Selatan, Hungaria, Inggris, Afrika Selatan, dan sejumlah negara lainnya.

Sementara itu, Indonesia juga mencatat hasil menggembirakan pada kategori FK 50 meter putra. Sebanyak enam atlet Merah Putih berhasil menembus babak 32 besar, yakni Yudi Prasetyo dari Depok, Juliansyah dari Lampung, Fahmi Karmidi dari Kalimantan Barat, Kunto Ambio Wisanggeni dari Solo, Jawa Tengah, Dedi Suryadi dari Depok, Jawa Barat, serta Achmad Syahrul Uman dari Surabaya, Jawa Timur.

Yudi Prasetyo kembali menjadi salah satu andalan Indonesia setelah berhasil mencatatkan prestasi di dua nomor sekaligus. Selain lolos ke babak 16 besar kategori Zhamby, ia juga sukses menembus babak 32 besar kategori FK 50 meter putra dengan menempati peringkat kedua pada babak kualifikasi.

Juliansyah juga tampil gemilang dengan menempati peringkat keempat pada nomor FK 50 meter putra, mempertegas dominasi Indonesia di papan atas klasemen sementara.

Di sisi lain, pemanah asal Sulawesi Tenggara, Al Junar dari Konawe, harus puas berada di posisi ke-33 pada kategori FK 50 meter putra setelah kalah dalam perhitungan tie-break meski mengoleksi poin yang sama dengan peserta di batas akhir zona lolos.

Perjuangan kontingen Indonesia di Istanbul masih berlanjut. Pada Jumat, 5 Juni 2026, para pemanah putri Indonesia dijadwalkan menjalani babak kualifikasi FK 50 meter putri dan Zhamby 30 meter putri. Pada hari yang sama, tiga wakil Indonesia yang telah menembus 16 besar kategori Zhamby putra akan kembali bertanding pada fase eliminasi untuk memperebutkan tiket menuju babak berikutnya.

Adapun babak eliminasi dan final nomor FK 50 meter putra dan putri dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 6 Juni 2026, sebelum perebutan medali perunggu dan medali emas dilaksanakan pada Minggu, 7 Juni 2026.

Kini harapan Merah Putih tertumpu pada para atlet yang masih bertahan di berbagai kategori untuk terus melaju dan mengharumkan nama Indonesia di panggung panahan tradisional dunia. (red)

× Advertisement
× Advertisement