SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Humaniora Uncategorized
Beranda / Uncategorized / Merah Putih Berkibar di Turki, Atlet Panahan Indonesia Borong Prestasi di Fetih Kupasi 2026

Merah Putih Berkibar di Turki, Atlet Panahan Indonesia Borong Prestasi di Fetih Kupasi 2026

Wagianto mengibarkan Merah Putih usai meraih juara dua dunia kategori Menzil Limited 50 lbs Putra di Fetih Kupası 2026, Istanbul, Turki. (Istimewa)

CELEBESPOS.ID, ISTANBUL – Kontingen panahan tradisional Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa di panggung internasional. Pada ajang 14th Fetih Kupası 2026 yang berlangsung di Istanbul, Turki, para atlet Merah Putih berhasil menorehkan sejumlah prestasi membanggakan dan bersaing dengan pemanah terbaik dari berbagai negara.

Prestasi tertinggi Indonesia dibukukan oleh Yudi Prasetyo asal Depok, Jawa Barat. Setelah tampil impresif sepanjang turnamen, Yudi berhasil menempati peringkat keempat dunia pada kategori Ground Putra.

Capaian tersebut melengkapi penampilan gemilang Yudi selama mengikuti Fetih Kupasi 2026. Sebelumnya, ia sukses menempati peringkat kedua dunia pada babak kualifikasi FK 50 meter putra dan melaju ke babak 16 besar kategori Zhamby.

Tak kalah membanggakan, Wagianto asal Jawa Timur berhasil mempersembahkan podium dunia bagi Indonesia pada kategori Menzil Limited 50 lbs Putra. Ia meraih posisi runner-up atau juara kedua dengan catatan jarak tembakan mencapai 423,40 meter.

Menghilang di Kebun, Bocah 12 Tahun di Konawe Selatan Ditemukan 462 Meter dari LKP

Wagianto mengaku bersyukur atas pencapaian tersebut. Baginya, hasil itu terasa istimewa karena merupakan penampilan pertamanya pada ajang Fetih Kupasi di Turki.

“Alhamdulillah senang sekali. Ini pertama kali saya ikut Fetih Kupasi dan langsung mendapat hasil seperti ini. Tentu saya sangat bersyukur,” ujarnya.

Menurut Wagianto, pengalaman bertanding di Turki memberikan banyak pelajaran berharga. Ia menilai kategori Menzil memiliki karakter dan tantangan yang berbeda dibandingkan nomor panahan tradisional lainnya yang umum dipertandingkan di Indonesia.

Karena itu, ia berharap ke depan semakin banyak kejuaraan panahan tradisional di Tanah Air yang memasukkan kategori Menzil dalam setiap penyelenggaraan lomba.

Pergi Memancing, Nelayan di Buton Hilang, Longboat Ditemukan Terdampar

“Kalau bisa setiap ada lomba Ground, sekalian juga ada lomba Menzil. Dengan begitu para atlet bisa lebih sering berlatih dan terbiasa bertanding di nomor tersebut. Pengalaman di Turki menunjukkan bahwa Menzil memiliki tantangan tersendiri dan perlu jam terbang yang cukup,” katanya.

Ia meyakini semakin banyak kompetisi Menzil yang digelar di Indonesia, semakin besar pula peluang atlet-atlet Tanah Air untuk bersaing dan meraih prestasi pada kejuaraan internasional di masa mendatang.

Sementara itu, Muhammad Faris Muhsin Hasbiyalloh asal Surabaya turut menyumbangkan prestasi dengan menempati peringkat keenam dunia pada kategori Menzil Limited 50 lbs Putra. Faris membukukan jarak tembakan sejauh 388,75 meter dan mampu bersaing dengan para pemanah terbaik dari berbagai negara.

Official Tim Indonesia, Saharudin atau yang akrab disapa Mr. Saha, mengaku bersyukur atas capaian yang diraih para atlet Indonesia di Turki.

Hari Kedua Pencarian, Bocah Hilang di Konawe Selatan Masih Belum Ditemukan

“Alhamdulillah, para atlet telah menunjukkan perjuangan yang luar biasa. Mereka datang membawa nama Indonesia dan mampu bersaing di level dunia. Ini menjadi kebanggaan bagi kita semua,” ujarnya.

Menurut Ketua Pordasi Sulawesi Tenggara tersebut, hasil yang diraih para atlet merupakan buah dari latihan yang konsisten, semangat pantang menyerah, serta dukungan berbagai komunitas panahan tradisional di Indonesia.

Selain para peraih prestasi tersebut, Indonesia juga mencatat hasil membanggakan pada kategori lainnya.

Pada kategori FK 50 meter putra, Indonesia berhasil meloloskan enam atlet ke babak 32 besar dunia, yakni Yudi Prasetyo, Juliansyah, Fahmi Karmidi, Kunto Ambio Wisanggeni, Dedi Suryadi, dan Achmad Syahrul Uman.

Juliansyah bahkan tampil luar biasa dengan menempati peringkat keempat dunia pada babak kualifikasi, sementara Yudi berada di posisi kedua dunia.

Di kategori Zhamby 30 meter putra, Indonesia kembali menunjukkan kekuatannya dengan meloloskan tiga atlet ke babak 16 besar dunia, yakni Juliansyah, Yudi Prasetyo, dan Muhammad Ata Arsyad.

Nama Muhammad Ata Arsyad menjadi sorotan tersendiri. Remaja asal Surabaya yang baru berusia 15 tahun itu sukses menembus 16 besar dunia dan bersaing dengan para pemanah senior dari berbagai negara.

Di sektor putri, Vera Nurbania asal Bogor menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang berhasil menembus babak 32 besar kategori FK 50 meter putri. Atlet yang tergabung dalam Muslim Archery Bogor dan D’raas Organizer Indonesia tersebut finis di peringkat ke-23 dunia dari 177 peserta.

Sementara itu, dua atlet putri asal Sulawesi Tenggara, Meriyanti dan Hasnawati, juga turut ambil bagian pada kategori FK 50 meter putri. Meski belum berhasil melaju ke fase eliminasi, keduanya menunjukkan semangat juang yang tinggi dan mampu bersaing di tengah ketatnya persaingan internasional.

Bagi Sulawesi Tenggara, keikutsertaan atlet-atlet daerah pada ajang bergengsi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Selain Meriyanti dan Hasnawati, Al Junar asal Konawe juga tampil kompetitif pada kategori FK 50 meter putra. Ia finis di peringkat ke-33 dunia dan hanya terpaut satu posisi dari zona lolos 32 besar.

Mr. Saha menilai rangkaian hasil tersebut menunjukkan bahwa panahan tradisional Indonesia semakin diperhitungkan di tingkat internasional.

“Alhamdulillah, hampir di setiap kategori ada atlet Indonesia yang mampu menembus papan atas dunia. Ini menjadi motivasi besar bagi perkembangan panahan tradisional Indonesia ke depan,” katanya.

Ajang Fetih Kupasi sendiri merupakan salah satu kejuaraan panahan tradisional paling bergengsi di dunia yang digelar setiap tahun di Turki untuk memperingati Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih. Kompetisi ini diikuti ratusan pemanah dari berbagai negara dan menjadi ajang unjuk kemampuan para atlet panahan tradisional terbaik dunia.

Dengan sederet prestasi yang diraih tahun ini, Indonesia kembali membuktikan diri sebagai salah satu kekuatan yang patut diperhitungkan dalam dunia panahan tradisional internasional. Di tengah persaingan ketat para pemanah dari Asia, Eropa, hingga Afrika, Merah Putih berhasil berkibar dan membawa pulang kebanggaan dari Turki. (red)

× Advertisement
× Advertisement