CELEBESPOS.ID, TURKI — Empat atlet panahan tradisional asal Sulawesi Tenggara (Sultra) resmi memulai perjuangan mereka di ajang bergengsi 14th Conquest Cup Fetih Kupasi 2026 yang berlangsung di Istanbul, Turki, Kamis, 4 Juni 2026.
Keempat atlet tersebut adalah Al Junar asal Konawe, Syafrul dari Kolaka, Hasnawati dari Konawe, dan Meriyanti yang tergabung dalam kontingen Indonesia bersama puluhan pemanah terbaik dari berbagai daerah di Tanah Air. Sehari sebelumnya, Rabu, 3 Juni 2026, seluruh peserta telah menjalani official practice atau latihan resmi sebagai bagian dari persiapan terakhir sebelum pertandingan dimulai.
Conquest Cup Fetih Kupasi merupakan salah satu turnamen panahan tradisional paling bergengsi di dunia. Ajang tahunan ini digelar untuk memperingati Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453 dan selalu diikuti para pemanah terbaik dari berbagai negara.
Tahun ini, ratusan atlet dari Asia, Eropa, Afrika hingga Amerika berkumpul di Istanbul untuk memperebutkan gelar juara pada berbagai nomor pertandingan.
Al Junar, pemanah asal Kecamatan Anggaberi, Kabupaten Konawe, yang dalam daftar resmi panitia tercatat menggunakan nama Bosara Lutra, turun pada kategori Zhamby (Cambi) Putra. Ia tergabung di Grup 1 Target 24 bersama İsmail Sakar dari Turki, Mohammad Hashrin Bin Hassim dari Singapura, dan Kunanbayev Nurbek dari Kazakhstan.
Sementara itu, Syafrul asal Kolaka yang memperkuat Patih Indonesia tampil pada kategori Hedef (Target) Putra. Ia berada di Grup 2 Target 13 bersama Vladimir Zhargalov dari Rusia, Yakup Dinç dari Turki, dan Yelubayev Abzal dari Kazakhstan.
Di sektor putri, Hasnawati dari Konawe tergabung pada Grup 2 Target 10 bersama Fatmanur Altıntaş dan Sema Nur Kaplan dari Turki, serta Feruza Daniyar Kyzy dari Kirgistan.
Sedangkan Meriyanti yang memperkuat Umaram Bow Company berada di Grup 2 Target 11 bersama Rina Binti Rashid dari Malaysia dan Sevil Hopanıoğlu dari Turki.
Kontingen Indonesia tahun ini diperkuat oleh pemanah dari berbagai daerah di Tanah Air, di antaranya Rohani (Garut), Vera Nurbania (Bogor), Gustaman Lufti (Bogor), Muhammad Ata Arsyad (Surabaya), Achmad Syahrul Uman (Surabaya), Titin (Surabaya), Fahmi Karmidi (Kalimantan Barat), Yudi Prasetyo (Depok), M. Irwan Kelana (Sidoarjo), Tomi Sam Bedjo (Batu), Wagianto (Jawa Timur), Muhidin Rais (Makassar), Mutasar Bin Hasbi (Aceh), Desi Ratnasari (Berau), Firmansyah (Bima), Riyanti (Lampung), Rawal Putra (Sumatera Barat), dan Fajar Purnomo (Solo). Mendampingi para atlet terdapat tiga official, yakni Eko Sukismono, Herman Tullah Mulo, serta Saharudin atau yang akrab disapa Mr. Saha dari Kendari.
Persaingan yang dihadapi para atlet Sultra dipastikan tidak mudah. Mereka harus berhadapan dengan pemanah-pemanah dari negara-negara yang dikenal memiliki tradisi kuat dalam panahan tradisional seperti Turki, Kazakhstan, Rusia, Korea Selatan, Kirgistan, Singapura, dan Malaysia.
Al Junar mengaku bersyukur dapat kembali menjadi bagian dari kontingen Indonesia pada ajang internasional tersebut. Menurutnya, kesempatan bertanding di Turki merupakan pengalaman berharga sekaligus tantangan besar karena harus menghadapi para pemanah terbaik dunia.
“Alhamdulillah, kami sudah menjalani official practice dan hari ini mulai bertanding. Mohon doa dan dukungan masyarakat Sulawesi Tenggara serta seluruh rakyat Indonesia agar kami diberikan kemudahan dan bisa menampilkan kemampuan terbaik,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa dirinya bersama rekan-rekan atlet Indonesia akan berusaha maksimal pada setiap pertandingan demi membawa nama baik bangsa di kancah internasional.
“Kami datang membawa nama Indonesia. Insya Allah akan berjuang semaksimal mungkin. Semoga bisa memberikan hasil terbaik dan mengharumkan Merah Putih,” kata Al Junar.
Kontingen Indonesia datang ke Istanbul dengan modal prestasi membanggakan. Pada Conquest Cup ke-12 tahun 2024, Indonesia berhasil meraih juara 1 dan juara 2 dunia. Sementara pada edisi 2025, Indonesia kembali menunjukkan eksistensinya dengan meraih posisi juara 3 dunia.
Salah satu official tim Indonesia, Saharudin atau yang akrab disapa Mr. Saha, mengatakan para atlet telah melalui proses persiapan panjang sebelum berangkat ke Turki.
“Alhamdulillah, para atlet telah memasuki masa pertandingan. Mereka membawa harapan besar masyarakat Indonesia untuk kembali mengukir prestasi di panggung dunia. Namun lebih dari itu, mereka juga membawa identitas bangsa, budaya, dan semangat persaudaraan yang menjadi ciri khas panahan tradisional Indonesia,” ujarnya.
Ketua Pordasi Sulawesi Tenggara itu optimistis para atlet Indonesia, termasuk empat wakil Sultra, mampu memberikan penampilan terbaik mereka selama kompetisi berlangsung.
Kini perhatian komunitas panahan tradisional Indonesia tertuju ke Istanbul. Di tengah persaingan para pemanah terbaik dunia, empat putra-putri Sulawesi Tenggara tengah berjuang membawa Merah Putih sekaligus mengharumkan nama daerah di panggung internasional. (red)

