SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Advertisement
Humaniora
Beranda / Humaniora / Tim Panahan Tradisional Indonesia Bertolak ke Turki, Bawa Misi Prestasi dan Nama Bangsa

Tim Panahan Tradisional Indonesia Bertolak ke Turki, Bawa Misi Prestasi dan Nama Bangsa

CELEBESPOS.ID, KENDARI — Tim Panahan Tradisional Indonesia resmi bertolak menuju Istanbul, Turki, pada Senin, 1 Juni 2026, untuk mengikuti ajang internasional bergengsi Conquest Cup Fetih Kupasi 2026 yang akan berlangsung pada 3–7 Juni 2026.

Keberangkatan para atlet dan official dari berbagai daerah di Indonesia menjadi bukti semakin kuatnya perkembangan panahan tradisional Tanah Air di kancah internasional. Mereka tidak hanya membawa target prestasi, tetapi juga misi memperkenalkan budaya panahan tradisional Indonesia kepada dunia.

Conquest Cup Fetih Kupasi merupakan turnamen panahan tradisional internasional yang digelar setiap tahun dalam rangka memperingati Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih pada 1453. Ajang ini dikenal sebagai salah satu kompetisi paling bergengsi di dunia panahan tradisional karena mempertemukan para pemanah terbaik dari berbagai negara.

Indonesia sendiri memiliki rekam jejak membanggakan di ajang tersebut. Pada Conquest Cup ke-12 tahun 2024, Indonesia berhasil meraih juara 1 dan juara 2 dunia. Sementara pada edisi 2025, Indonesia kembali menunjukkan eksistensinya dengan meraih posisi juara 3 dunia.

Menghilang di Kebun, Bocah 12 Tahun di Konawe Selatan Ditemukan 462 Meter dari LKP

Tahun ini, harapan kembali disematkan kepada para atlet yang akan bertanding di berbagai kategori, mulai dari Traditional Ground, Menzil hingga Zamby.

Adapun atlet yang tergabung dalam Tim Indonesia terdiri dari berbagai komunitas dan klub panahan tradisional dari seluruh Nusantara.

Dari D’raas Organizer, Indonesia diperkuat oleh Rohani (Garut), Vera Nurbania (Bogor), dan Gustaman Lufti (Bogor).

Dari LMBI, hadir Muhammad Ata Arsyad asal Surabaya.

Pergi Memancing, Nelayan di Buton Hilang, Longboat Ditemukan Terdampar

Klub SSC mengirimkan Achmad Syahrul Uman dan Titin, keduanya berasal dari Surabaya.

Umaram Bow Company mengirimkan Meriyanti dari Sulawesi Tenggara.

Dari Patih Indonesia terdapat Fahmi Karmidi (Kalimantan Barat), Yudi Prasetyo (Depok, Jawa Barat), serta Syafrul dari Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Sementara Sambedjo Archery diperkuat oleh M. Irwan Kelana (Sidoarjo), Tomi Sam Bedjo (Batu), Wagianto (Jawa Timur), Muhidin Rais (Makassar), dan Mutasar Bin Hasbi dari Aceh yang dikenal sebagai salah satu pemanah terbaik Indonesia di ajang internasional.

Hari Kedua Pencarian, Bocah Hilang di Konawe Selatan Masih Belum Ditemukan

BOTTA mengirimkan Desi Ratnasari dari Berau serta Firmansyah dari Bima, Nusa Tenggara Barat.

Dari Patih Sultra, nama Aljunar asal Kecamatan Anggaberi, Konawe, Sulawesi Tenggara, turut memperkuat kontingen Indonesia.

Konawe Horsebow mengirimkan Hasnawati dari Konawe.

Batara Archery diperkuat oleh Risal Thalib dan Patimah yang berasal dari Luwu Timur.

Kemudian dari KPBI terdapat Riyanti asal Lampung dan Rawal Putra dari Sumatera Barat.

Sementara Al-Fatah Laga Temboro mengirimkan Fajar Purnomo dari Solo, Jawa Tengah.

Mendampingi para atlet, terdapat tiga official yang ikut bertugas, yakni Eko Sukismono dari Surabaya, Herman Tullah Mulo dari Berau, serta Saharudin (Mr. Saha) dari Kendari.

Salah satu official Tim Indonesia ke Turki, Mr. Saha, mengatakan bahwa keberangkatan para atlet merupakan hasil dari proses panjang pembinaan yang dilakukan komunitas-komunitas panahan tradisional di berbagai daerah.

“Alhamdulillah, para atlet dan official telah berangkat menuju Turki. Mereka membawa harapan besar masyarakat Indonesia untuk kembali mengukir prestasi di panggung dunia. Namun lebih dari itu, mereka juga membawa identitas bangsa, budaya, dan semangat persaudaraan yang menjadi ciri khas panahan tradisional Indonesia,” ujarnya.

Ketua Pordasi Sulawesi Tenggara tersebut menambahkan bahwa keberhasilan Indonesia selama beberapa tahun terakhir menjadi motivasi besar bagi seluruh kontingen.

“Kita pernah meraih juara 1 dan juara 2 dunia pada tahun 2024, kemudian juara 3 dunia pada tahun 2025. Insya Allah tahun ini para atlet akan memberikan kemampuan terbaiknya untuk kembali mengharumkan nama Indonesia,” katanya.

Ia berharap masyarakat Indonesia turut memberikan doa dan dukungan kepada seluruh atlet yang akan bertanding di Turki.

“Semoga seluruh atlet diberikan kesehatan, keselamatan, kemudahan, dan ketepatan dalam setiap pertandingan. Apa pun hasilnya nanti, mereka adalah putra-putri terbaik bangsa yang sedang berjuang membawa Merah Putih di panggung internasional,” pungkasnya.

Kini, perhatian komunitas panahan tradisional Indonesia tertuju ke Istanbul. Dari berbagai penjuru Nusantara, para pemanah terbaik telah berangkat membawa satu harapan yang sama: mengibarkan Merah Putih dan kembali mengukir sejarah di ajang Conquest Cup Fetih Kupasi 2026. (red)

× Advertisement
× Advertisement