CELEBESPOS.ID, MUNA – Hari Ulang Tahun (HUT) ke-29 Desa Liabalano menjadi lebih dari sekadar perayaan bertambahnya usia desa. Momentum yang berlangsung di Balai Pertemuan Desa Liabalano, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, pada Selasa (28/7/2026), itu dimanfaatkan sebagai ajang memperkuat komitmen membangun desa melalui ketahanan pangan, pengembangan potensi lokal, serta pelestarian budaya sebagai bagian dari langkah menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Muna, Drs. H. Bahrun, M.Si, mengajak seluruh desa di Kabupaten Muna untuk lebih kreatif dalam menggali, mengembangkan, dan mempromosikan potensi yang dimiliki. Menurutnya, setiap desa memiliki karakteristik dan keunggulan yang berbeda, sehingga perlu dikelola secara inovatif agar mampu memberikan nilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas daerah.
“Setiap desa punya potensi. Tinggal bagaimana potensi itu dikembangkan, dikemas dan dipromosikan agar masyarakat luas mengetahui bahwa desa-desa di Muna memiliki hasil pertanian dan kearifan lokal yang layak dibanggakan,” ujar Bahrun.

Ia menilai, hasil pertanian tidak cukup hanya diproduksi, tetapi juga harus diolah menjadi produk bernilai tambah dan dipasarkan secara lebih luas. Demikian pula dengan kearifan lokal yang dimiliki setiap desa. Tradisi, budaya, dan kekayaan lokal harus terus dijaga sekaligus diperkenalkan agar menjadi daya tarik yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Bahrun juga menegaskan bahwa pembangunan ketahanan pangan harus dimulai dari desa. Karena itu, masyarakat didorong memanfaatkan lahan yang tersedia untuk mengembangkan komoditas pertanian, khususnya jagung dan tanaman pangan lainnya sesuai potensi wilayah.
Menurutnya, ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat. Apabila sektor pertanian dikelola secara optimal, bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga membuka lapangan usaha, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat perekonomian desa.
Langkah tersebut, lanjut Bahrun, sejalan dengan visi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045, di mana desa diharapkan menjadi fondasi utama lahirnya masyarakat yang mandiri, produktif, dan sejahtera.
Puncak HUT ke-29 Desa Liabalano juga menjadi momentum mengenang perjalanan sejarah desa sekaligus memberikan penghormatan kepada para tokoh yang telah berjasa membangun daerah tersebut.
Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Desa Liabalano menganugerahkan gelar adat kehormatan kepada tujuh tokoh masyarakat, yakni La Mahabu, Drs. Syahrim Salim, La Ode Ngkodau, La Fedika, A.Ma.Pd, Seazon, La Ode Idris, dan La Hasiri. Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi dan kontribusi mereka di bidang pemerintahan, pembangunan, serta kehidupan sosial kemasyarakatan.
Ketua BPD Desa Liabalano, La Ode Halimidun, membacakan Berita Acara Musyawarah Desa Khusus yang menjadi dasar pemberian gelar adat tersebut.
Suasana peringatan semakin khidmat saat sejarah Desa Liabalano dibacakan di hadapan para tamu undangan dan masyarakat. Sejarah tersebut mengingatkan kembali perjalanan panjang Liabalano sejak dimekarkan dari Desa Kontunaga hingga berkembang menjadi desa seperti sekarang.
Nuansa budaya semakin terasa melalui pertunjukan kabhanti yang diiringi alunan musik gambus, sementara berbagai perlombaan rakyat seperti bola gotong, balap karung, domino, kebersihan antar-dasawisma, dan lomba makanan nonberas turut memeriahkan rangkaian kegiatan.
Mewakili penerima gelar adat, Drs. Syahrim Salim mengenang masa-masa awal berdirinya Desa Liabalano. Ia menceritakan bagaimana pada awal pembentukan desa, berbagai rapat pemerintahan masih dilaksanakan di bawah pohon karena keterbatasan sarana dan prasarana.
Ia juga mengungkapkan bahwa lahan yang kini menjadi lokasi Balai Pertemuan Desa serta sejumlah fasilitas pemerintahan merupakan tanah wakaf almarhum La Ode Bonea, yang menjadi salah satu wujud pengabdian masyarakat terhadap kemajuan desa.
Menurut Syahrim, semangat kebersamaan yang diwariskan para pendahulu harus terus dipelihara sebagai modal utama dalam melanjutkan pembangunan.
Sementara itu, Ketua Panitia HUT Desa Liabalano, Awaludin, S.P, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan masyarakat. Pendanaan kegiatan berasal dari pemerintah desa serta partisipasi warga.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi sejak tahap persiapan hingga puncak pelaksanaan kegiatan.
Kepala Desa Liabalano, Alifuddin, SE, mengajak masyarakat menjadikan HUT ke-29 sebagai momentum memperkuat persatuan, gotong royong, dan kebersamaan dalam melanjutkan pembangunan desa.
Menurutnya, kemajuan Desa Liabalano tidak dapat dicapai hanya oleh pemerintah desa, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, semangat kebersamaan yang telah terbangun selama ini harus terus dipelihara agar desa semakin maju, mandiri, dan sejahtera.
Peringatan HUT ke-29 Desa Liabalano akhirnya menjadi ruang untuk menyatukan sejarah, budaya, dan semangat pembangunan. Penghormatan kepada para pendahulu berpadu dengan komitmen membangun masa depan melalui kreativitas, inovasi, dan penguatan sektor pertanian.
Melalui semangat tersebut, Desa Liabalano diharapkan tidak hanya mampu menjaga identitas budaya dan memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menjadi contoh desa yang terus berkembang, berdaya saing, dan berkontribusi nyata dalam mewujudkan cita-cita besar Indonesia Emas 2045. (*)

